Masjid
Sebagai Pusat Peradaban Umat
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas
Dalam
Mata Kuliah Manajemen Masjid dan Majelis Taklim
Dosen
Pengempu : Hj Rodiyah, S.Ag, MM
![]() |
Disusun Oleh
Erpan Stiawan 1341030018
Eka Nuraini 1341030078
Rini Widia
Astuti 1341030112
Jurusan/Semester/Kelas : Manajemen
Dakwah/VI(Enam)/B
FAKULTAS DA’WAH DAN ILMU KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) RADEN INTAN
LAMPUNG
TAHUN
AJARAN 2016 M/1437 H
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat”. Makalah ini diajukan guna
memenuhi nilai mata kuliah “Manajemen Masjid dan Majelis Taklim”. Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan
menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
Bandarlampung,
15 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Konsep
kebudayaan dalam Islam.................................................................. 2
B.
Masjid
sebagai pusat peradaban umat islam.................................................. 3
C.
Masjid
sebagai basis pembangunan masyarakat badani ................................ 6
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................................... 7
B.
Saran.............................................................................................................. 8
DAFTAR
PUSTAKA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan
agama-agama yang datang sebelumnya. Di era globalisasi ini, banyak
masyarakat dan khususnya bagi para pelajar yang acuh tak acuh dengan sejarah
Negara, apalagi sejarah paradaban islam. Dewasa ini mereka hanya memandang
sejarah sebagai dongeng yang membosankan untuk di dengar. Padahal, sejarah,
apalagi sejarah peradaban islam sangat penting bagi kita semua.
Kehidupan
sehari-hari umat islam terkait erat dengan masjid yang didirikan atas dasar
iman. Penampilan dan manajemen masjid dapat member gambaran tentang
hubungan masjid dengan sumber daya manusia di sekelilingnya. Manajemen masjid
harus dilaksanakan sebagai pengamalan dan hubungan manusia dengan Allah SWT. Dan
hubungan manusia dengan manusia lain yang dalam Al-qur’an srat ali imron ayat
122 sebagai berikut: “mereka akan di timpa kehinaandimana saja mereka
berada, kecuali kalau mereka tetap menjaga hubungannya dengan Allah dan menjaga
hubungannya dengan manusia”.
Kualitas
sumber daya manusia yang merupakan pengamalan ilmu dapat tergambar dalam bentuk
bangunan (arsitektur) dan manajemen dari sebuah masjid sebagaimna telah
diketahui bahwa arsitektur sebuah bangunan masjid mempunyai dengan
perkembangan budaya. Sedangkan budaya itu sendiri merupakan hasil dari rekayasa
akal manusia. Dalam arti kata bahwa kebudayaan itu adalah hasil upaya
(rekayasa) dalam keseluruhan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh menusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan itu terkait erat dengan uang dan waktu
tertentu.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana konsep kebudayaan dalam
islam ?
2.
Mengapa masjid sebagai pusat
peradaban islam ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Kebudayaan Dalam Islam
Kebudayaan berasal dari
bahasa Sansakerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi
atau akal).[1]
Budi mempunyai arti akal, kelakuan, dan norma. Sedangkan “daya” berarti hasil
karya cipta manusia. Dengan demikian,kebudayaan adalah semua hasil karya,
karsa dan cipta manusia di masyarakat. Istilah "kebudayaan"
sering dikaitkan dengan istilah "peradaban". Perbedaannya :
kebudayaan lebih banyak diwujudkan dalam bidang seni, sastra, religi dan moral,
sedangkan peradaban diwujudkan dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi.
Sedangkan
pengertian Islam berasal dari bahasa arab yaitu
“Aslama-Yuslimu-Islaman” yang artinya selamat. Menurut istilah, Islam adalah
agama samawi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai
petunjuk bagi manusia agar kehidupannya membawa rahmat bagi seluruh alam.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو
الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم
{سورة علي عمران:18}
Artinya :
“Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Ali Imran : 18)
وَمَااَرْسَلْنَكَ اِلَّا رَحْمَةً لِلْعَلَمِيْنَ {سورة الأنبياء:107}
Artinya :
“Kami tidak mengutus
engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al
Anbiya: 107)
Sehingga disimpulkan
bahwa Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang
berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber
nilai-nilai Islam.
Allah mengangkat Nabi
Muhammad sebagai Rosul yaitu memberikan bimbingan kepada umat. Manusia agar
dalam mengembangkan kebudayaan tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan.
Sebagaimana sabdanya yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk
menyempurnakan akhlak.”
Dalam perkembangannya
kebudayaan islam perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat
agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga
akan merugikan dirinya sendiri.
Disini agama islam
berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga
menghasilkan kebudayaan yang beradab atau berperadaban islam. Sehubungan dengan
hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan atau disebut
sebagai peradaban islam, maka fungsi agama disini semakin jelas. Ketika
perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan
karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini sangat terasa
akan perlunya suatu bimbingan wahyu. Allah Swt mengangkat seorang Rasul dari
jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat
manusia. Oleh sebab itu misi utama Muhammad diangkat sebagai Rasul adalah
menjadi Rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam.
Mengaali tugas
utamanya, Nabi meletakkan dasar-dasar perkembangan islam yang kemudian
berkembang menjadi peradaban islam. Ketika dakah islam keluar dari jazirah
arab, kemudian tersebar keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjang
dan rumit, yaitu asimilasi budaya-budaya setempat dengan nilai-nilai islam yang
kemudian melahirkan budaya islam. Kebuyaan ini berkembang menjad suatu
peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.
B.
Masjid Sebagai
Pusat Peradaban Umat Islam
Dalam bahasa Arab,
masjid berarti tempat sujud atau tempat ibadah.Dalam perjalanan sejarah Islam,
masjid bukan sekadar tempat untuk menunaikan ibadah shalat (terutama shalat
berjamaah), namun juga berperan lebih fenomenal dan krusial dalam menunjang
kehidupan masyarakat. Islam mengajarkan pendirian masjid harus memberikan
manfaat luas, terdalam dan lengkap mengingat seluruh permukaan bumi adalah
masjid namun masjid pada umumnya hanya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat
ibadah khusus seperti shalat, padahal masjid mestinya berfungsi lebih luas dari
pada sekedar sebagai sebagai tempat shalat . sejak awal berdirinya masjid belum
bergeser dari fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat peribadatan.[2]
Pada umumnya, disamping
tempat shalat. Masjid pada zaman Nabi dijadikan sebagai pusat peradaban islam.
Nabi Muhammad SAW mensucikan jiwa kaum muslimin, membina sekap dasar kaum
muslimin terhadap orang yang bebeda agama atau ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru melalui
masjid.Masjid dijadikan simbol kesatuan dan persatuan umat islam. Selama
sekitar 700 tahun sejak Nabi Muhammad mendirikan masjid pertama, fungsi masjid
masih sebagai pusat peribadatan umat islam.
Belajar dari sejarah
Islam, seharusnya eksistensi masjid pada masa kini harus lebih mampu memberi
makna terdalam, terluas dan terlengkap bagi kehidupan masyarakat Muslim. Karena
itu, pengembangan dan pengayaan ulang atau revitalisasi fungsi masjid sebagai
pusat berbagai kegiatan sosial-keagamaan, pendidikan, politik, kesehatan dan
sebagainya kini menjadi lebih diperlukan. Tujuannya untuk menciptakan
manfaat dan dampak masjid yang maksimal serta berkesinambungan dalam
mengembangkan peradaban dunia Islam yang maju, ramah, mandiri,
damai dan modern.
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسْجِدَ اللهِ مَنْ اَمَنَ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الاَخِرِ
وَاَقَامَ الصَّوةَ وَاَتَى الزَّكَوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّااللهِ فَعَسَى اُوْلَئِكَ
اَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ المُهْتَدِيْنَ {سورة التوبة :18}
Artinya :
“Sesungguhnya yang
dapat memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah:orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari yang akhir orang-orang yang menegakkan shalat dan
menunaikan zakat dia tidak takut melainkan hanya kepada Allah, maka mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah
(9):18).
وَاَنَّ المَسْجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ
اَحَدًا {سورة الجنّ:18}
Artinya :
“Dan
sesungguhnya masjid-masjid itu adalah Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” (Q.S. Al-Jin (72):18)
1. Pusat pendidikan dan pelatihan
Proses menuju ke arah pemberdayaan umat dimulai dengan pendidikan dan
pemberian pelatihan-pelatihan. Masjid seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai
tempat berlangsungnya proses pemberdayaan tersebut, bahkan sebagai pusat
pembelajaran umat, baik dalam bentuk pengajian, pengkajian, seminar dan diskusi
maupun pelatihan-pelatihan keterampilan, dengan peserta minimal jamaah
disekitarnya.[3]
2. Pusat perekonomian umat
Soko guru perekonomian
Indonesia katanya koperasi, namun pada kenyataannya justru koperasi menjadi
barang yang tidak laku. tidak ada salahnya bila masjid mengambil alih peran
sebagai koperasi yang membawa dampak positif bagi umat di lingkungannya. Bila
konsep koperasi digabungkan dengan konsep perdagangan ala pusat-pusat
pembelanjaan yang diminati karena terjangkaunya harga barang, dan dikelola
secara professional oleh dewan pengurus maka masjid akan dapat memakmurkan
jamaahnya. Sehingga akhirnya jamaahnya pun akan memakmurkan masjidnya.
3. Pusat penjaringan potensi umat
Masjid dengan jamaah
yang selalu hadir hanya sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap Tuhan
bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang jumlahnya. Masjid
dengan jamaah yang selalu hadir sekedar untuk menggugurkan kewajibannya
terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang
jumlahnya. Dari berbagai macam usia, beraneka profesi dan tingkat (strata) baik
ekonomi maupun intelektual, bahkan sebagai tempat berlangsungnya akulturasi
budaya secara santun.
4. Pusat kepustakaan
Perintah pertama Tuhan
kepada Nabi terakhir adalah "Membaca", dan sudah sepatutnya kaum
muslim gemar membaca dalam pengertian konseptual maupun kontekstual. Maka
dengan sendirinya hampir menjadi kemutlakkan bila masjid memiliki perpustakaan
sendiri.
C. Masjid Sebagai Basis Pembangunan Masyarakat Madani
Munculnya berbagai problem kebangsaan yang kini menjadi bagian dari
kehidupan seluruh masyarakat di tanah air kita, tidak bisa dilepaskan dari
implikasi nyata atas gagalnya peran kelompok masyarakat madani selama
ini. Banyak aspek dalam pengembangan masyarakat madani yang begitu dilupakan,
salah satunya adalah keberadaan masjid.[4]
Hampir seluruh sejarah perubahan dalam islam senantiasa diawali dengan
kemampuan para aktor masyarakat madani dalam membangun perubahan melalui sarana
masjid.
Peran masjid
sebagai basis pembangunan masyarakat madani begitu menonjol, baik pada awal
kebangkitan islam maupun pada masa pengembangan dan penyebaran islam. Masjid
bukan hanya semata-mata dijadikan sarana ibadah mahdhah, melainkan
ia menjadi sarana dan sekaligus kekuatan dalam membangun dan menanamkan
nilai-nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat. Sehingga perubahan dalam
konteks politik kebangsaan secara luas, bukan hanya perubahan dalam arti
struktur dan sistem politik, namun jauh dari itu adalah perubahan terhadap
nilai-nilai dankebudayaan politik yang dibangun melalui basisi masjid.
Masjid-masjid
dibangun di tengah-tengah sekolah, rumah sakit, di tengah atau desa memang
dimaksudkan untuk menyatukan cita-cita spiritual umat islam dengan cita-cita
sosialnya. Ini dapat menjadi basis manyarakat madani. Dalam masyakat madani,
antara masjid dan masyarakat serta dengan aktivitas sehari-sehari tidak
terpisahkan, simbiosis mutualisme,salin terikat, saling
menginspirasi dan saling mendinamisasi kehidupan. Kemampuan dan penempatan
masjid, sebagai basis masyarakat madani inilah saat sekarang yang sering dan
cenderung dilupakan, padahal tidak sedikit masjid yang hanya dijadikan sebagai
sarana ibadah mahdah semata. Lantas mungkinkah kita kembali
untuk menjadikan masjid sebagai basis masyarakat madani? Bagaimana langkah dan
strategi yang harus dibangun, serta persoalan apa yang menjadi penting untuk
dievaluasi ke depan?
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sehingga disimpulkan
bahwa Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang
berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber
nilai-nilai Islam.
Allah mengangkat Nabi
Muhammad sebagai Rosul yaitu memberikan bimbingan kepada umat. Manusia agar
dalam mengembangkan kebudayaan tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan.
Sebagaimana sabdanya yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk
menyempurnakan akhlak.”
Dalam perkembangannya
kebudayaan islam perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat
agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga
akan merugikan dirinya sendiri.
Disini agama islam
berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga
menghasilkan kebudayaan yang beradab atau berperadaban islam. Sehubungan dengan
hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan atau disebut
sebagai peradaban islam, maka fungsi agama disini semakin jelas. Ketika
perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan
karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini sangat terasa
akan perlunya suatu bimbingan wahyu. Allah Swt mengangkat seorang Rasul dari
jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat
manusia.
Nabi Muhammad SAW
mensucikan jiwa kaum muslimin, membina sekap dasar kaum muslimin terhadap orang
yang bebeda agama atau ras, hingga upaya-upaya
meningkatkan kesejahteraan umat justru melalui masjid.Masjid dijadikan simbol kesatuan dan persatuan umat islam. Selama
sekitar 700 tahun sejak Nabi Muhammad mendirikan masjid pertama, fungsi masjid
masih sebagai pusat peribadatan umat islam.
Belajar dari sejarah
Islam, seharusnya eksistensi masjid pada masa kini harus lebih mampu memberi
makna terdalam, terluas dan terlengkap bagi kehidupan masyarakat Muslim. Karena
itu, pengembangan dan pengayaan ulang atau revitalisasi fungsi masjid sebagai
pusat berbagai kegiatan sosial-keagamaan, pendidikan, politik, kesehatan dan
sebagainya kini menjadi lebih diperlukan. Tujuannya untuk menciptakan
manfaat dan dampak masjid yang maksimal serta berkesinambungan dalam
mengembangkan peradaban dunia Islam yang maju, ramah, mandiri,
damai dan modern.
B.
Saran
Maka dari itu penulis berharap agar dalam pembahasan,
mendukung pentingnya pembahasan “Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat” agar
kita bisa mengetahuai bahwa masjid bukan hanya untuk pribatan kepada Allah SWT
akan tetapi juga untuk membangun peradaban umat islam.
Namun bagaimanapun juga dalam tugas makalah
terbimbing ini penulis sadar bahwa masih banyak kurang disana sini,maka besar
harapan dari para pembaca untuk memperbaiki dengan berbagai saran dan masukan
bagi penulis agar lebih baik di kemudian harinya dalam menulis makalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Badri
Yatim,Sejarah Peradaban Islam,Jakarta;Rajagrafindo,1993
http://reapisan.blogspot.com/2011/12/masjid-sebagai-pusat-peradaban.html
