Jumat, 12 Juni 2015

tafsir dakwah

KATA PENGANTAR

              Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “kepribadian da’i”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah”tafsir ayat dakwah  Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
              Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
                                                                
             Bandarlampung,  6 mei 2014

                                                                                   
                                                                                                       Penulis

  
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................................................... ii    
Bab I Pendahuluan.................................................................................................... ......
1. Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
2. Rumusan Masalah.................................................................................................2
Bab II Pembahasan....................................................................................................
1. surat at-taubah ayat 41    .......................................................................................3
       2. Surat Al-Baqoroh ayat 149....................................................................................4
             3. Surat Al-Fath ayat 29.............................................................................................7
       4. Surat At-Taubah Ayat 73.......................................................................................8
     5. Surat Ali Imran ayat 159................................................................................10
Bab III Penutup..........................................................................................................
1.Kesimpulan dan saran...........................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14


 BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Ø  Surat at-taubah ayat 41
Menegaskan bahwa hal tersebut pada hakikatnya tidak dibutuhkan Allah swt dan tidak juga oleh rasulullah saw,karena Allah swt telah membela dan mendukungnya ketika dia sendiri dan berdua.setelah menjelaskan hal tersebut,menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad.pada hakikatnya adalah untuk kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini sekali lagi memerintahkan (berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,kaya atau miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan berjihadlah dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang demikian itu adalah lebih baik dari bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek dukrawi dan ukhrawi
Ø  Surat Al-Baqoroh ayat 149
ALLAH SWT,menguji mereka sambil menunjukan kepada thalut tingkat kedisiplinan.karena itu,setelah mereka keluar bersama thalut menuju medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok menuju medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok bahwa,sesungguhnya Allah swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum airnya,ia bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya,maka itu tidak menjadi kaya keluar dari kelompokku.
Ø  Surat Al-Fath ayat 29
Islam telah membedakan perlakuan orang Mukmin terhadap sesama Mukmin dengan perlakuan sesama Mukmin terhadap orang Kafir. Mengenai yang terakhir ini, Islam telah membedakan perlakuan tersebut berdasarkan dua kategori orang kafir. Namun demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari negara)atau mu’ahid (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara kafir tetapi negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).
Ø  Surat At-Taubah Ayat 73
Surat At-Tabah (bahasa arab:  التوبة,at-taubah,”pengampunan”) adalah surah ke 9 dalam al-quran.surah ini tergolong surah madaniyah yang terdiri dari 129 ayat.dinamakan at-taubah yang berarti “pengampunan”karena kata at-taubah berulang kali disebut dalam surah ini.dinamakan juga dengan baraah yang berarti berlepas berlepas diri.berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan,pemutusan,perhubungan.disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Ø  Surat Ali Imran ayat 159
Seusai perang uhud dimana pasukan musyrik Quraisy yang memutar jalan berhasil memukul pasukan panah islam yang turun dari bukit uhud untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah) pasukan islam mengiran bahwa pasukan qurasy telah kalah dan peperangan benar-benar usai.akibat kekeliruan ini banyak sahabat yang gugur,termasuk hamzah paman nabi muhammad saw
1.2. Rumusan Masalah.
1.      Apa hakikat perintah berjihad...?
2.      Apakah ujian dan disiplin dalam berperang....?
3.      Apakah islam melarang umatnya berbuat baik...?

  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.surat at-taubah ayat 41 (keberanian)
 خفافا وثقالا وجاهدوا بأموالكم و أنفسكم في سبيل الله ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون انفروا{التوبة:41}
Artinya :
“berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupn dengan rasa berat,dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah Swt.yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,jika kam mengetahui.”(QS.At-Taubah:41)
            Menegaskan bahwa hal tersebut pada hakikatnya tidak dibutuhkan Allah swt dan tidak juga oleh rasulullah saw,karena Allah swt telah membela dan mendukungnya ketika dia sendiri dan berdua.setelah menjelaskan hal tersebut,menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad.pada hakikatnya adalah untuk kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini sekali lagi memerintahkan (berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,kaya atau miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan berjihadlah dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang demikian itu adalah lebih baik dari bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek dukrawi dan ukhrawi sebagaimana di fahami dari bentuk nakiroh kata (خير) khair[1].jika kamu mengetahui betapa banyak sisi kebajikan yang disiapkan Allah swt bagi yang berjihad,dan taat kepadanya,tentulah kamu melaksanakan perintah ini.
            Firmannya: (خفافا و ثقالا) atau berat dapat menampung aneka makna.kata       adalah bentuk jamak dari(خفيف ) yang berarti ringan,sedangkan lawannya,kata (ثقالا) adalah bentuk jamak dari (ثقيل)  kata ringan dalam konteks ayat ini dapat jga berarti jumlah yang sedikit,yakni sedikit personil atau perlengkapan,atau tanggungan berupa keluarga dan anak-anak,atau berarti penuh semangat.jika makna itu yang dipilih,kata (ثقالا) adalah lawan (antonimnya).kata tersebut dapat juga dalam arti serangan-serangan yang berulang-ulang karena yang melakukannya ringan geraknya sehinga dapat mengulang-gulangi serangan.adapun tsiqal,maunya ketika itu adalah kemampuan bertahan menghadapi musuh.
            Pengalan ayat ini mennjukan bahwa,jika mobilisasi di umumkan,semua orang dalam masyarakat muslim harus terlibat dalam mendukung jihad,tent saja kecuali yang keadaannya tidak memungkinkan.sebelum turunnya ayat ini,yakni QS.al-fath:17,Allah swt telah menegaskan bahwa:
                        ليس على لأ عمى حرج ولا على الأعرج حرج ولا على المريض حرج
            Dengan demikian,ayat ini tidak perlu bahkan tidak mungkin dinilai telah dibatalkan oleh ayat al-fath,sebagaimana dugaan para ulama,karena buka saja ayat al-fath itu lebih dulu turun dari ayat at-taubah ini,tetapi juga karena kedua ayat tersebut dapat dikompromikan maknanya.

2.2.Surat Al-Baqoroh ayat 149 (kesungguhan)
فلما فصل طالوت بالجنود قال إن الله مبتليكم بنهر فمن شرب منه فليس مني ومن لم يطعمه فإنه مني إلا من اعترف غرفة بيده فشربوا منه إلا قليلا منهم فلما جاوزه هو والذين ءامنوا معه قالوا لا طاقة لنا اليوم بجالوت وجنوده قال الذين يظنون أنهم ملاقوا الله كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله والله مع الصابرين {البقرة:249}
Artinya :
“maka tatkala tholut kelar membawa tentaranya,ia berkata,’sesungguhnya Allah Swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka siapa diantara kamu meminum airnya,ia bukanlah pengikutku.dan barang siapa tiada meminumnya,kecuali menceduk-ceduk tangan,maka ia adalah pengikutku.kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang diantara mereka.maka tatkala thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyebrangi sungai itu,orang-orang yang telah minum berkata,tak ada kesangupan kami pada hari ini untuk melawan jalut dan tentaranya.orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah Swt berkata’beberapa banyak terjadi  golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah Swt.dan Allah Swt berserta orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqoroh :249)
            ALLAH SWT,menguji mereka sambil menunjukan kepada thalut tingkat kedisiplinan.karena itu,setelah mereka keluar bersama thalut menuju medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok menuju medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok bahwa,sesungguhnya Allah swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum airnya,ia bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya,maka itu tidak menjadi kaya keluar dari kelompokku.
            Ujian ini memang berat,apalagi konon ketika itu mereka dalam perjalanan jauh ditengah terik panas matahari, yang membakar kerongkongan:tetapi ujian ini penting karena perang yang akan mereka hadapi,sangat berat sehinga yang tidak siap sebaiknya tidak terlibat,karena ketidak siapannya dapat mempengaruhi mental orang yang siap.
            Sementara ulama memahami ujian ini dalam arti jian menghadapi dunia dan gemerlapnya,mereka yang meminum air sungai itu untuk mendapatkan kepuasan penuh,meraka adalah yang ingin meraih semua gemerlap dunia.adapun yang tidak meminumnya,dalam arti tidak terpengaruh oleh gemerlap dunia dalam berjuang itulah kelompok thalut.demikian juga mereka yang hanya mencicippi sedikit dari air sungai itu.dengan demikian,ayat ini membagi mereka kedalam tiga kelompok,yakni:yang minum sampai puas,yang tidak minum,dan yang sekedar mencicipinya.[2]
            Ayat diatas,yang mana terjemahnya berbunyi,”barang siapa tidak meminumnya maka dia termaksud kelompokku,kecuali yang menceduknya seceduk tangannya”.redaksinya yang demikian itu,yakni pengecualiannya ditempatkan terakhir,bukan berbunyi sebagaimana gaya bahasa yang biasa digunakan.”barang siapa yang tidak meminumnya kecuali yang menceduknya seceduk tangannya,maka dia adalah pengikutku”.ayat ini tidak berbunyi demikian karena yang inggin ditekankan adalah tidak minum,dan bahwa inilah yang seharusnya terjadi setelah menjelaskan dasar tersebut,barulah pengembalian itu disampaikan.

            Setelah mereka melampaui sungai dan melihat kekuatan senjata dan personal musuh dibawah pimpinan jalut,sebagian mereka berkata,”tak ada kesangupan kami hari ini menghadapi jalut dan tentaranya”.tidak dijelaskan oleh ayat ini apakah ucapan tersebut disampaikan kepada thalut,atau ucapan mereka satu sama lain,ataukah bisikan hati mereka yang diketahui Allah swt.adapun orang-orang yang menduga keras bahwa mereka akan menemui Allah swt dan ganjarannya dihari kemudian,dengan penh semangat dan optimisme,mereka berkata,” betapa banyak terjadi,golongan sedikit mengalahkan golongan yang banyakdengan izin Allah swt”.dugaan keras,walau belum sampai pada tingkat keyakinan telah dapat menghasilkan keteghan hati menghadapi musuh.
            Ini karna optimisme mereka disertai oleh keyakinan bahwa kemenangan bukan ditentukan oleh kuantitas tetapi kualitas dan bahkan ‘kemenangan bersumber dari Allah swt dan atas izinnya’.dugaan keras itu juga lahir dari kesadaran mereka tentang perlunya ketabahan dan kesabaran karena Allah swt beserta orang-orang yang sabar.bukti kebenaran ucapan orang-orang beriman itu ditemukan antara lain,pada sahabat-sahabat nabi saw dalam perang badar.ketika itu,kamu muslimin hanya berjumlah 313orang dengan persenjataan yang amat kurang,namn demian Allah swt mengarahkan kemenangan kepada kaum muslim.   


2.3. Surat Al-Fath ayat 29 (Tegas)
محمد رسول الله والدين معه أشداء على الكفار. رحماء بينهم {الفتح :29}
Artinya:
“Muhammad Rasulallah dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang keras terhadap orang-orang kafir dan saling menyayangi diantara sesama mereka. (QS. Al-Fath:29).
Islam telah membedakan perlakuan orang Mukmin terhadap sesama Mukmin dengan perlakuan sesama Mukmin terhadap orang Kafir. Mengenai yang terakhir ini, Islam telah membedakan perlakuan tersebut berdasarkan dua kategori orang kafir, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an:


لاينهاكم الله عن الذين لم يقا تلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم ان الله يحب المقسطين. انما ينها كم الله عن الذين قاتلوكم في الدين وأخرجوكم من دياركم وظاهروا على إخراجكم أن تولوهم ومن يتولهم فأولئك هم الظالمون. {الممتحنة :8}
Artinya
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampng halamanmu.sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.sesungghnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam rusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.barang siapa yang menjadikan mereka sebagai kawan,mereka itulah orang yang zalim.” (QS al-mumtahanah :8-9)
            Namun demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari negara)atau mu’ahid (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara kafir tetapi negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).inilah yang ditunjukan oleh rasulullah saw.ketika beliau menjenguk orang yahudi yang sakit,kemudian beliau duduk diatas kepalanya,seraya menyerukan agar dia memeluk agama islam.akhirnya,setelah bertanya kepada ayahnya,ayahnya menyuruhnya agar mengikuti apa dinyatakan oleh rasulullah,orang yahudi itupun masuk islam.[3]
            Rasulullah saw.juga biasa memberikan sedekah kepada keluarga yahudi yang tidak mampu memperoleh nafkahnya[4].para sahabat rasulullah saw.juga telah turut mengantarkan jenazah ummu al-Harits bin rabi’ah,seorang wanita nasrani[5].
            Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang tata krama prilaku kita terhadap orang-orang kafir.

2.4.Surat At-Taubah Ayat 73.(tegas)
ياأيها النبي جاهدالكفار والمنافقين واغلظ عليهم وماواهم جهنم وبئس المصير {التوبة :73}
 Arttinya :
Hai nabi,berjihadlah (melawan)orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu,dan bersikap keraslah terhadap mereka.tempat mereka ialah neraka jahannam.dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-bruknya.(QS.At-taubah: 73)
            Surat At-Tabah (bahasa arab:  التوبة,at-taubah,”pengampunan”) adalah surah ke 9 dalam al-quran.surah ini tergolong surah madaniyah yang terdiri dari 129 ayat.dinamakan at-taubah yang berarti “pengampunan”karena kata at-taubah berulang kali disebut dalam surah ini.dinamakan juga dengan baraah yang berarti berlepas berlepas diri.berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan,pemutusan,perhubungan.disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin
.           berbeda dengan syurah-syurah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah,karna surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin,sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah swt.surat ini diturunkan sesudah nabi muhammad saw kembali dari peperangan tabuk yang terjadi pada tahn 9 H.pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin abi Tholib pada musim haji tahun itu juga.
            Pokok-pokok isi:
Ø  Keimanan
v  Allah selalu menyertai hamba-hambanya yang beriman.
v  Pembalasan atas amalan-amalan manusia hanya dari Allah swt.
v  Segala sesutu menurut sunah tullah.
v  Perlindungan Allah swt bagi orang-orang yang beriman.
v  Kedudukan nabi mhammad saw disisi Allah swt.
Ø  Hukum-hukm.
v  Kewajiban menafkahkan harta.
v  Macam-macam harta dalam agama serta pengunaannya.
v  Jizyah.
v  Perjanjian dan perdamaian.
v  Kewajiban umat islam terhadap nabinya.
v  Sebab-sebab orang islam melakukan perang total.
v  Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam islam.
Ø  Kisah-Kisah
v  Nabi muhammad saw dengan abu bakar r.a.disuatu goa dibukit Tsur ketika hijrah.
v  Perang hunain (perang Auatas atau perang hawazan).
v  Perang tabuk.
Ø  Lain-Lain.
v  Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.
v  Pernyataan dan pembatalan perjanjian damai oleh nabi Muhammad saw dengan kamu musyrikin,karena mereka tidak memenhi syarat-syarat perjanjian damai pada perjanjian hudaibiyah.

Setelah menjelaskan sikap kaum munafikin dalam memperlakukan perintah-perintah Allah saw,menghina nabi,dan mengangu orang-orang mukmin,”janganlah kalian berbasa- basi dalam bergaul dengan orang-orang munafik.mereka selalu keras kepala dan acuh tak acuh terhadap hkm Allah saw meski secara lahiriah mereka menampilkan diri sebagai orang yang baik.karena itu,kalian harus bisa bersikap kokoh dan tegas dalam menghadapi mereka supaya mereka merasa gentar,janganlah kalian menunjukan sikap yang lemah,agar mereka menyadari bahwa nasib buruk kelak akan menimpa mereka. 

            Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.      Tegas seorang mukmin dihadapan orang kafir dan munafik yang telah menunjukan permusuhan mereka dengan terang-terangan,adalah jihad dan resistensi.tentu saja perjuangan itu memiliki tahap-tahap tertentu,terkadang dengan mengunakan lisan dan terkadang dengan harus mengangkat senjata.
2.      Bahaya orang-orang kafir dan musuh-musuh asing tidak boleh melengahkan kita dari musuh-musuh internal,yakni orang-orang munafik.karna itu kita harus senantiasa siap menghadapi kedua musuh tertentu.

2.5.Surat Ali Imran ayat 159 (musyawarah)
فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظا القلب لا نفضوا من حولك,فا عف عنهم
واستغفرلهم وشاورهم فى الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله , إن الله يحب المتوكلين {ال عمران :159}
Artinya: :
maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu,berlaku lemah lembut terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati keras,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.karena itu maafknlah mereka,mohonkanlah ampunan bagi mereka,dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,maka bertawakkallah kepada Allah.sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.(QS.Ali Imron: 159)



A.Sebab Turunnya ayat ke 159 Surat Ali Imran adalah lembut hati.
Seusai perang uhud dimana pasukan musyrik Quraisy yang memutar jalan berhasil memukul pasukan panah islam yang turun dari bukit uhud untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah) pasukan islam mengiran bahwa pasukan qurasy telah kalah dan peperangan benar-benar usai.akibat kekeliruan ini banyak sahabat yang gugur,termasuk hamzah paman nabi muhammad saw.
Melihat kekeliruan yang dilakukan  para sahabat,tidak membat nabi mhammad saw marah dan kesal.karena Allah swt telah melembutkan hatinya sebagaimana dengan firmannya: “maka disebabkan rahmat dari Allah swt lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Sifat lembut hati merupakan salah satu akhlak mulia dari nabi Muhammad saw seperti yang dikatakan oleh abdullah bin umar :”sesungguhnya,saya menemukan sifat raslullah saw dalam kitab-kitab terdahulu itu demikian:sesungguhnya tutur katanya tidak kasar,hatinya tidak keras,tidak suka berteriak-teriak dipasar-pasar,dan tidak suka membalas kejahatan orang dengan kejahatan lagi,namn dia memaafkan dan mengampuninya.”[6]
·         Dari ayat yang tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1.      Kasih sayang adalah hadiah tuhan yang diberikan kepada pra pimpinan agama.siapa yang inggin menasehati orang lain,hendaklah dilakukan dengan kasih sayang.
2.      Disamping melakukan musyawarah,jangan melupakan tawakal kepada Allah swt.

B.Menjelaskan  Kandungan Qs Ali-Imran:159
a.       Dalam menghadapi semua masalah harus dengan lemah lembut melalui jalur musyawarah untuk mufakat,tidak boleh dengan hati yang kasar dan perilaku kekerasan.
b.      Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap ursan.
c.       Apabila telah dicapai suatu kesepakatan,maka semua pihak harus menerima dan bertawakal (menyerahkan diri dari segala rusan) kepada Allah swt.
d.      Allah swt mencintai hamba-hambanya yang bertawakkal.

Allah swt dalam QS.Ali Imran :159 menjelaskan bahwa setiap manusia hidup didunia tidak terlepas dari problem dan persoalan yang dihadapi.ntuk itu mereka harus dapat memecahkan masalah tersebut.adapun cara menyelesaikannya:”harus dengan mencontoh dan mengambil toladan dari nabi Muhammad saw yaitu dengan cara lemah-lembut berdasarkan rahmat Allah swt,setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah.


C.Penerapan Perilaku Hidup Demokrasi Seperti Terkandung Dalam QS.ali imran: 159
a.       Tidak boleh berkeras hati dan bertindak kasar dalam menyelesaikan suatu permasalah,tetapi dengan hati yang lemah lembut.
b.      Setiap muslim harus berlapang dada,berperilaku lemah lembut,pemaaf dan memohonkan ampun kepada Allah Swt.
c.       Dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengutamakan msyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan.
d.      Apabila telah tercapai mufakat,maka setiap individu harus menerima dan melaksanakan keputusan musyawarah
e.       Selalau berserah diri kepada Allah Swt sehingga tercapai keseimbangan antara ikhtiyar dan berdoa.




BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Ø  perintah berjihad.pada hakikatnya adalah untuk kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini sekali lagi memerintahkan (berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,kaya atau miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan berjihadlah dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang demikian itu adalah lebih baik.
Ø  sesungguhnya Allah swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum airnya,ia bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya
Ø  demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari negara)atau mu’ahid (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara kafir tetapi negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).

3.2.SARAN
Maka dari itu penulis berharap agar dalam pembahasan mendukung pentingnya pembahasan  Tafsir Ayat Dakwah di dalam islam lebih didepankan lagi pada masa-masa sekarang ini.
            Namun bagaimanapun juga dalam tugas makalah terbimbing ini penulis sadar bahwa masih banyak kurang disana sini,maka besar harapan dari para pembaca untuk memperbaiki dengan berbagai saran dan masukan bagi penulis agar lebih baik di kemudian harinya dalam menulis makalah.


DAFTAR PUSTAKA

Ø  Shihab.Quraish.Tafsir Al-Misbah.Jilit 1.Pustaka Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT).hal 649.
Ø  Shihab.Quraish.Tafsir Al-Misbah.Jilit V.Pustaka Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT).hal 112.
Ø  Al-Bukhari.Ahmad.lihat:as-Syaukani.Nayl.Al-Awthar.juz IV.hlm:72.
Ø  Sa’id bin Al-Musayb.Lihat: Abu Ubayd.Al-Amwal.hal:613.
Ø  Yusuf Al-Qaradhawi.Fiqh Az-Zakat.juz II.hlm:705-706.
Ø  Tafsir Ibnu Katsir II.hal:608




[1] M.Quraish Shihab.Tafsir Al-Misbah.Jilit 1.Pustaka Nasional:katalog dalam terbitan (KDT).hal:649
[2] M.Quraish Shihab.ibid.Jilit V.hal.112
[3] HR.Al-Bukhari.Ahmad.lihat:as-Syaukani.Nayl.Al-Awthar.juz IV.hlm:72.
[4] HR.Sa’id bin Al-Musayb.Lihat: Abu Ubayd.Al-Amwal.hal:613.
[5] Yusuf Al-Qaradhawi.Fiqh Az-Zakat.juz II.hlm:705-706.
[6] Tafsir Ibnu Katsir II.hal:608