KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan
hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “kepribadian da’i”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata
kuliah”tafsir ayat dakwah Tidak
lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Kami
menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan
kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para
pembaca.
Bandarlampung, 6 mei 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar
Isi..................................................................................................................... ii
Bab
I Pendahuluan.................................................................................................... ......
1. Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
2. Rumusan Masalah.................................................................................................2
Bab
II Pembahasan....................................................................................................
1. surat at-taubah ayat 41
.......................................................................................3
2. Surat Al-Baqoroh ayat 149....................................................................................4
3. Surat Al-Fath ayat
29.............................................................................................7
4. Surat At-Taubah Ayat 73.......................................................................................8
5. Surat Ali Imran ayat 159................................................................................10
Bab
III Penutup..........................................................................................................
1.Kesimpulan dan saran...........................................................................................13
Daftar Pustaka..........................................................................................................14
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Ø Surat
at-taubah ayat 41
Menegaskan bahwa hal tersebut pada hakikatnya tidak
dibutuhkan Allah swt dan tidak juga oleh rasulullah saw,karena Allah swt telah
membela dan mendukungnya ketika dia sendiri dan berdua.setelah menjelaskan hal
tersebut,menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad.pada hakikatnya adalah untuk
kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini sekali lagi memerintahkan
(berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh
semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,kaya atau
miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan berjihadlah
dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang demikian itu adalah lebih
baik dari bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek dukrawi dan ukhrawi
Ø Surat Al-Baqoroh ayat 149
ALLAH SWT,menguji mereka sambil menunjukan kepada thalut
tingkat kedisiplinan.karena itu,setelah mereka keluar bersama thalut menuju
medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok menuju medan
perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok bahwa,sesungguhnya Allah
swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum
airnya,ia bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah
pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya,maka itu tidak menjadi kaya
keluar dari kelompokku.
Ø Surat
Al-Fath ayat 29
Islam telah membedakan perlakuan orang Mukmin terhadap
sesama Mukmin dengan perlakuan sesama Mukmin terhadap orang Kafir. Mengenai
yang terakhir ini, Islam telah membedakan perlakuan tersebut berdasarkan dua
kategori orang kafir. Namun demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat
baik dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir
yang hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari
negara)atau mu’ahid (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat
negara kafir tetapi negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).
Ø Surat At-Taubah Ayat 73
Surat At-Tabah (bahasa arab: التوبة,at-taubah,”pengampunan”) adalah surah ke 9 dalam
al-quran.surah ini tergolong surah madaniyah yang terdiri dari 129
ayat.dinamakan at-taubah yang berarti “pengampunan”karena kata at-taubah
berulang kali disebut dalam surah ini.dinamakan juga dengan baraah yang
berarti berlepas berlepas diri.berlepas diri disini maksudnya adalah
pernyataan,pemutusan,perhubungan.disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya
tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Ø Surat Ali Imran ayat 159
Seusai perang uhud dimana pasukan musyrik Quraisy yang
memutar jalan berhasil memukul pasukan panah islam yang turun dari bukit uhud
untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah) pasukan islam mengiran bahwa
pasukan qurasy telah kalah dan peperangan benar-benar usai.akibat kekeliruan
ini banyak sahabat yang gugur,termasuk hamzah paman nabi muhammad saw
1.2.
Rumusan Masalah.
1.
Apa hakikat perintah berjihad...?
2.
Apakah ujian dan disiplin dalam berperang....?
3.
Apakah islam melarang umatnya berbuat baik...?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.surat at-taubah ayat 41 (keberanian)
خفافا وثقالا وجاهدوا بأموالكم و أنفسكم في سبيل
الله ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون انفروا{التوبة:41}
Artinya :
“berangkatlah kamu baik dengan
rasa ringan maupn dengan rasa berat,dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di
jalan Allah Swt.yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,jika kam
mengetahui.”(QS.At-Taubah:41)
Menegaskan bahwa hal tersebut pada
hakikatnya tidak dibutuhkan Allah swt dan tidak juga oleh rasulullah saw,karena
Allah swt telah membela dan mendukungnya ketika dia sendiri dan berdua.setelah
menjelaskan hal tersebut,menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad.pada
hakikatnya adalah untuk kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini
sekali lagi memerintahkan (berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad
dengan bergegas dan penuh semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun
merasa berat,kaya atau miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan
kemampuannya dan berjihadlah dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang
demikian itu adalah lebih baik dari bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek
dukrawi dan ukhrawi sebagaimana di fahami dari bentuk nakiroh kata (خير) khair[1].jika
kamu mengetahui betapa banyak sisi kebajikan yang disiapkan Allah swt bagi yang
berjihad,dan taat kepadanya,tentulah kamu melaksanakan perintah ini.
Firmannya: (خفافا و ثقالا) atau berat dapat menampung aneka
makna.kata adalah bentuk jamak dari(خفيف ) yang berarti
ringan,sedangkan lawannya,kata (ثقالا) adalah bentuk jamak dari (ثقيل) kata ringan dalam konteks
ayat ini dapat jga berarti jumlah yang sedikit,yakni sedikit personil atau
perlengkapan,atau tanggungan berupa keluarga dan anak-anak,atau berarti penuh
semangat.jika makna itu yang dipilih,kata (ثقالا) adalah
lawan (antonimnya).kata tersebut dapat juga dalam arti serangan-serangan yang
berulang-ulang karena yang melakukannya ringan geraknya sehinga dapat
mengulang-gulangi serangan.adapun tsiqal,maunya ketika itu adalah kemampuan
bertahan menghadapi musuh.
Pengalan ayat ini mennjukan
bahwa,jika mobilisasi di umumkan,semua orang dalam masyarakat muslim harus
terlibat dalam mendukung jihad,tent saja kecuali yang keadaannya tidak
memungkinkan.sebelum turunnya ayat ini,yakni QS.al-fath:17,Allah swt telah
menegaskan bahwa:
ليس على لأ عمى حرج ولا على الأعرج حرج ولا على المريض حرج
Dengan demikian,ayat ini tidak perlu
bahkan tidak mungkin dinilai telah dibatalkan oleh ayat al-fath,sebagaimana
dugaan para ulama,karena buka saja ayat al-fath itu lebih dulu turun dari ayat
at-taubah ini,tetapi juga karena kedua ayat tersebut dapat dikompromikan
maknanya.
2.2.Surat Al-Baqoroh ayat 149
(kesungguhan)
فلما فصل طالوت بالجنود قال إن الله مبتليكم بنهر فمن
شرب منه فليس مني ومن لم يطعمه فإنه مني إلا من اعترف غرفة بيده فشربوا منه إلا
قليلا منهم فلما جاوزه هو والذين ءامنوا معه قالوا لا طاقة لنا اليوم بجالوت
وجنوده قال الذين يظنون أنهم ملاقوا الله كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن
الله والله مع الصابرين {البقرة:249}
Artinya :
“maka
tatkala tholut kelar membawa tentaranya,ia berkata,’sesungguhnya Allah Swt akan
menguji kamu dengan suatu sungai.maka siapa diantara kamu meminum airnya,ia
bukanlah pengikutku.dan barang siapa tiada meminumnya,kecuali menceduk-ceduk
tangan,maka ia adalah pengikutku.kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa
orang diantara mereka.maka tatkala thalut dan orang-orang yang beriman bersama
dia telah menyebrangi sungai itu,orang-orang yang telah minum berkata,tak ada
kesangupan kami pada hari ini untuk melawan jalut dan tentaranya.orang-orang
yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah Swt berkata’beberapa banyak
terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah Swt.dan Allah Swt berserta
orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqoroh :249)
ALLAH SWT,menguji mereka sambil menunjukan kepada thalut
tingkat kedisiplinan.karena itu,setelah mereka keluar bersama thalut menuju
medan perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok menuju medan
perang,thalut menyampaikan kepada setiap kelompok bahwa,sesungguhnya Allah
swt akan menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum
airnya,ia bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah
pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya,maka itu tidak menjadi kaya
keluar dari kelompokku.
Ujian ini memang berat,apalagi konon
ketika itu mereka dalam perjalanan jauh ditengah terik panas matahari, yang
membakar kerongkongan:tetapi ujian ini penting karena perang yang akan mereka
hadapi,sangat berat sehinga yang tidak siap sebaiknya tidak terlibat,karena
ketidak siapannya dapat mempengaruhi mental orang yang siap.
Sementara ulama memahami ujian ini
dalam arti jian menghadapi dunia dan gemerlapnya,mereka yang meminum air sungai
itu untuk mendapatkan kepuasan penuh,meraka adalah yang ingin meraih semua
gemerlap dunia.adapun yang tidak meminumnya,dalam arti tidak terpengaruh oleh
gemerlap dunia dalam berjuang itulah kelompok thalut.demikian juga mereka yang
hanya mencicippi sedikit dari air sungai itu.dengan demikian,ayat ini membagi
mereka kedalam tiga kelompok,yakni:yang minum sampai puas,yang tidak minum,dan
yang sekedar mencicipinya.[2]
Ayat diatas,yang mana terjemahnya
berbunyi,”barang siapa tidak meminumnya maka dia termaksud
kelompokku,kecuali yang menceduknya seceduk tangannya”.redaksinya yang
demikian itu,yakni pengecualiannya ditempatkan terakhir,bukan berbunyi
sebagaimana gaya bahasa yang biasa digunakan.”barang siapa yang tidak
meminumnya kecuali yang menceduknya seceduk tangannya,maka dia adalah
pengikutku”.ayat ini tidak berbunyi demikian karena yang inggin ditekankan
adalah tidak minum,dan bahwa inilah yang seharusnya terjadi setelah menjelaskan
dasar tersebut,barulah pengembalian itu disampaikan.
Setelah mereka melampaui sungai dan
melihat kekuatan senjata dan personal musuh dibawah pimpinan jalut,sebagian
mereka berkata,”tak ada kesangupan kami hari ini menghadapi jalut dan
tentaranya”.tidak dijelaskan oleh ayat ini apakah ucapan tersebut
disampaikan kepada thalut,atau ucapan mereka satu sama lain,ataukah bisikan
hati mereka yang diketahui Allah swt.adapun orang-orang yang menduga keras
bahwa mereka akan menemui Allah swt dan ganjarannya dihari kemudian,dengan
penh semangat dan optimisme,mereka berkata,” betapa banyak terjadi,golongan
sedikit mengalahkan golongan yang banyakdengan izin Allah swt”.dugaan
keras,walau belum sampai pada tingkat keyakinan telah dapat menghasilkan
keteghan hati menghadapi musuh.
Ini karna optimisme mereka disertai
oleh keyakinan bahwa kemenangan bukan ditentukan oleh kuantitas tetapi kualitas
dan bahkan ‘kemenangan bersumber dari Allah swt dan atas izinnya’.dugaan
keras itu juga lahir dari kesadaran mereka tentang perlunya ketabahan dan
kesabaran karena Allah swt beserta orang-orang yang sabar.bukti
kebenaran ucapan orang-orang beriman itu ditemukan antara lain,pada
sahabat-sahabat nabi saw dalam perang badar.ketika itu,kamu muslimin hanya
berjumlah 313orang dengan persenjataan yang amat kurang,namn demian Allah swt
mengarahkan kemenangan kepada kaum muslim.
2.3. Surat Al-Fath ayat 29 (Tegas)
محمد رسول الله والدين معه أشداء على الكفار. رحماء
بينهم {الفتح :29}
Artinya:
“Muhammad
Rasulallah dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang keras
terhadap orang-orang kafir dan saling menyayangi diantara sesama mereka. (QS. Al-Fath:29).
Islam telah membedakan perlakuan orang Mukmin terhadap sesama Mukmin dengan
perlakuan sesama Mukmin terhadap orang Kafir. Mengenai yang terakhir ini, Islam
telah membedakan perlakuan tersebut berdasarkan dua kategori orang kafir,
sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
لاينهاكم الله عن الذين لم يقا تلوكم في الدين ولم
يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم ان الله يحب المقسطين. انما ينها كم
الله عن الذين قاتلوكم في الدين وأخرجوكم من دياركم وظاهروا على إخراجكم أن تولوهم
ومن يتولهم فأولئك هم الظالمون. {الممتحنة :8}
Artinya
“Allah
tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang
tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampng
halamanmu.sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.sesungghnya
Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangi kamu dalam rusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan
membantu (orang lain) untuk mengusirmu.barang siapa yang menjadikan mereka
sebagai kawan,mereka itulah orang yang zalim.” (QS al-mumtahanah :8-9)
Namun demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat
baik dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir
yang hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari
negara)atau mu’ahid (yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat
negara kafir tetapi negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).inilah
yang ditunjukan oleh rasulullah saw.ketika beliau menjenguk orang yahudi yang
sakit,kemudian beliau duduk diatas kepalanya,seraya menyerukan agar dia memeluk
agama islam.akhirnya,setelah bertanya kepada ayahnya,ayahnya menyuruhnya agar
mengikuti apa dinyatakan oleh rasulullah,orang yahudi itupun masuk islam.[3]
Rasulullah saw.juga biasa memberikan
sedekah kepada keluarga yahudi yang tidak mampu memperoleh nafkahnya[4].para
sahabat rasulullah saw.juga telah turut mengantarkan jenazah ummu al-Harits bin
rabi’ah,seorang wanita nasrani[5].
Pada ayat ini Allah menjelaskan
tentang tata krama prilaku kita terhadap orang-orang kafir.
2.4.Surat
At-Taubah Ayat 73.(tegas)
ياأيها النبي جاهدالكفار والمنافقين واغلظ عليهم وماواهم
جهنم وبئس المصير {التوبة :73}
Arttinya
:
Hai
nabi,berjihadlah (melawan)orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu,dan
bersikap keraslah terhadap mereka.tempat mereka ialah neraka jahannam.dan itu
adalah tempat kembali yang seburuk-bruknya.(QS.At-taubah: 73)
Surat
At-Tabah (bahasa arab: التوبة,at-taubah,”pengampunan”) adalah surah ke 9 dalam
al-quran.surah ini tergolong surah madaniyah yang terdiri dari 129
ayat.dinamakan at-taubah yang berarti “pengampunan”karena kata at-taubah
berulang kali disebut dalam surah ini.dinamakan juga dengan baraah yang
berarti berlepas berlepas diri.berlepas diri disini maksudnya adalah
pernyataan,pemutusan,perhubungan.disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya
tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin
. berbeda
dengan syurah-syurah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan
basmalah,karna surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap
kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin,sedangkan
basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah swt.surat ini diturunkan
sesudah nabi muhammad saw kembali dari peperangan tabuk yang terjadi pada tahn
9 H.pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin abi Tholib pada musim haji tahun
itu juga.
Pokok-pokok
isi:
Ø Keimanan
v Allah selalu menyertai hamba-hambanya yang beriman.
v Pembalasan atas amalan-amalan manusia hanya dari Allah
swt.
v Segala sesutu menurut sunah tullah.
v Perlindungan Allah swt bagi orang-orang yang beriman.
v Kedudukan nabi mhammad saw disisi Allah swt.
Ø Hukum-hukm.
v Kewajiban menafkahkan harta.
v Macam-macam harta dalam agama serta pengunaannya.
v Jizyah.
v Perjanjian dan perdamaian.
v Kewajiban umat islam terhadap nabinya.
v Sebab-sebab orang islam melakukan perang total.
v Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam
islam.
Ø Kisah-Kisah
v Nabi muhammad saw dengan abu bakar r.a.disuatu goa
dibukit Tsur ketika hijrah.
v Perang hunain (perang Auatas atau perang hawazan).
v Perang tabuk.
Ø Lain-Lain.
v Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan
mereka.
v Pernyataan dan pembatalan perjanjian damai oleh nabi
Muhammad saw dengan kamu musyrikin,karena mereka tidak memenhi syarat-syarat
perjanjian damai pada perjanjian hudaibiyah.
Setelah menjelaskan sikap kaum munafikin dalam memperlakukan
perintah-perintah Allah saw,menghina nabi,dan mengangu orang-orang
mukmin,”janganlah kalian berbasa- basi dalam bergaul dengan orang-orang
munafik.mereka selalu keras kepala dan acuh tak acuh terhadap hkm Allah saw meski
secara lahiriah mereka menampilkan diri sebagai orang yang baik.karena
itu,kalian harus bisa bersikap kokoh dan tegas dalam menghadapi mereka supaya mereka
merasa gentar,janganlah kalian menunjukan sikap yang lemah,agar mereka
menyadari bahwa nasib buruk kelak akan menimpa mereka.
Dari ayat tadi terdapat dua
pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Tegas seorang mukmin dihadapan orang kafir dan munafik yang telah
menunjukan permusuhan mereka dengan terang-terangan,adalah jihad dan
resistensi.tentu saja perjuangan itu memiliki tahap-tahap tertentu,terkadang
dengan mengunakan lisan dan terkadang dengan harus mengangkat senjata.
2.
Bahaya orang-orang kafir dan musuh-musuh asing tidak boleh melengahkan
kita dari musuh-musuh internal,yakni orang-orang munafik.karna itu kita harus
senantiasa siap menghadapi kedua musuh tertentu.
2.5.Surat
Ali Imran ayat 159 (musyawarah)
فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظا القلب لا
نفضوا من حولك,فا عف عنهم
واستغفرلهم وشاورهم فى الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله ,
إن الله يحب المتوكلين {ال عمران :159}
Artinya: :
maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu,berlaku lemah lembut terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati keras,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.karena itu maafknlah mereka,mohonkanlah ampunan bagi mereka,dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,maka bertawakkallah kepada Allah.sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.(QS.Ali Imron: 159)
maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu,berlaku lemah lembut terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati keras,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.karena itu maafknlah mereka,mohonkanlah ampunan bagi mereka,dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,maka bertawakkallah kepada Allah.sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.(QS.Ali Imron: 159)
A.Sebab
Turunnya ayat ke 159 Surat Ali Imran adalah lembut hati.
Seusai perang uhud dimana pasukan musyrik Quraisy yang
memutar jalan berhasil memukul pasukan panah islam yang turun dari bukit uhud
untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah) pasukan islam mengiran bahwa
pasukan qurasy telah kalah dan peperangan benar-benar usai.akibat kekeliruan
ini banyak sahabat yang gugur,termasuk hamzah paman nabi muhammad saw.
Melihat kekeliruan yang dilakukan para sahabat,tidak membat nabi mhammad saw
marah dan kesal.karena Allah swt telah melembutkan hatinya sebagaimana dengan
firmannya: “maka disebabkan rahmat dari Allah swt lah kamu berlaku lemah-lembut
terhadap mereka.sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Sifat lembut hati merupakan salah satu akhlak mulia
dari nabi Muhammad saw seperti yang dikatakan oleh abdullah bin umar
:”sesungguhnya,saya menemukan sifat raslullah saw dalam kitab-kitab terdahulu
itu demikian:sesungguhnya tutur katanya tidak kasar,hatinya tidak keras,tidak
suka berteriak-teriak dipasar-pasar,dan tidak suka membalas kejahatan orang
dengan kejahatan lagi,namn dia memaafkan dan mengampuninya.”[6]
·
Dari ayat yang tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Kasih sayang adalah hadiah tuhan yang diberikan kepada pra pimpinan
agama.siapa yang inggin menasehati orang lain,hendaklah dilakukan dengan kasih
sayang.
2.
Disamping melakukan musyawarah,jangan melupakan tawakal kepada Allah
swt.
B.Menjelaskan Kandungan Qs Ali-Imran:159
a.
Dalam menghadapi semua masalah harus dengan lemah lembut melalui jalur
musyawarah untuk mufakat,tidak boleh dengan hati yang kasar dan perilaku
kekerasan.
b.
Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap ursan.
c.
Apabila telah dicapai suatu kesepakatan,maka semua pihak harus menerima
dan bertawakal (menyerahkan diri dari segala rusan) kepada Allah swt.
d.
Allah swt mencintai hamba-hambanya yang bertawakkal.
Allah swt dalam QS.Ali Imran :159 menjelaskan bahwa setiap manusia hidup
didunia tidak terlepas dari problem dan persoalan yang dihadapi.ntuk itu mereka
harus dapat memecahkan masalah tersebut.adapun cara menyelesaikannya:”harus
dengan mencontoh dan mengambil toladan dari nabi Muhammad saw yaitu dengan cara
lemah-lembut berdasarkan rahmat Allah swt,setiap persoalan diselesaikan dengan
jalan musyawarah.
C.Penerapan
Perilaku Hidup Demokrasi Seperti Terkandung Dalam QS.ali imran: 159
a.
Tidak boleh berkeras hati dan bertindak kasar dalam menyelesaikan suatu
permasalah,tetapi dengan hati yang lemah lembut.
b.
Setiap muslim harus berlapang dada,berperilaku lemah lembut,pemaaf dan
memohonkan ampun kepada Allah Swt.
c.
Dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengutamakan msyawarah untuk mufakat
dalam menyelesaikan setiap persoalan.
d.
Apabila telah tercapai mufakat,maka setiap individu harus menerima dan
melaksanakan keputusan musyawarah
e.
Selalau berserah diri kepada Allah Swt sehingga tercapai keseimbangan
antara ikhtiyar dan berdoa.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Ø perintah berjihad.pada hakikatnya adalah untuk
kemashalatan yang diperintah dan karena itu,ayat ini sekali lagi memerintahkan
(berangkatlah) kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh
semangat,baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat,kaya atau
miskin,kuat atau lemah,masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan berjihadlah
dengan harta dan diri kamu dijalan Allah swt.yang demikian itu adalah lebih
baik.
Ø sesungguhnya Allah swt akan
menguji kamu dengan suatu sungai.maka,siapa diantara kamu meminum airnya,ia
bukanlah pengikutku dan barang siapa tiada meminumnya maka dia adalah
pengikutku,kecuali menceduk-ceduk tangannya
Ø demikian islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik
dan adil kepada orang-orang kafir ahl adz-dzimmah (yaitu orang-orang kafir yang
hidup sebagai rakyat negara islam dengan jaminan perlindungan dari negara)atau mu’ahid
(yaitu orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara kafir tetapi
negaranya mempunyai perjanjian dengan negara islam).
3.2.SARAN
Maka dari itu penulis berharap agar dalam pembahasan mendukung
pentingnya pembahasan Tafsir Ayat
Dakwah di dalam islam lebih didepankan lagi pada masa-masa sekarang ini.
Namun bagaimanapun
juga dalam tugas makalah terbimbing ini penulis sadar bahwa masih banyak kurang
disana sini,maka besar harapan dari para pembaca untuk memperbaiki dengan
berbagai saran dan masukan bagi penulis agar lebih baik di kemudian harinya
dalam menulis makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Shihab.Quraish.Tafsir
Al-Misbah.Jilit 1.Pustaka Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT).hal 649.
Ø Shihab.Quraish.Tafsir
Al-Misbah.Jilit V.Pustaka Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT).hal 112.
Ø Al-Bukhari.Ahmad.lihat:as-Syaukani.Nayl.Al-Awthar.juz IV.hlm:72.
Ø Sa’id bin Al-Musayb.Lihat: Abu Ubayd.Al-Amwal.hal:613.
Ø Yusuf Al-Qaradhawi.Fiqh Az-Zakat.juz II.hlm:705-706.
Ø Tafsir Ibnu Katsir II.hal:608
[1] M.Quraish Shihab.Tafsir
Al-Misbah.Jilit 1.Pustaka Nasional:katalog dalam terbitan (KDT).hal:649
[2] M.Quraish
Shihab.ibid.Jilit V.hal.112
[3]
HR.Al-Bukhari.Ahmad.lihat:as-Syaukani.Nayl.Al-Awthar.juz IV.hlm:72.
[4] HR.Sa’id bin
Al-Musayb.Lihat: Abu Ubayd.Al-Amwal.hal:613.
[5] Yusuf
Al-Qaradhawi.Fiqh Az-Zakat.juz II.hlm:705-706.
[6] Tafsir Ibnu
Katsir II.hal:608