Jumat, 01 April 2016

Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Dalam Mata Kuliah Manajemen Masjid dan Majelis Taklim
Dosen Pengempu :  Hj Rodiyah, S.Ag, MM
logo IAIN Raden Intan Lampung.jpg
 











Disusun Oleh
Erpan Stiawan                      1341030018
Eka Nuraini                           1341030078
Rini Widia Astuti                  1341030112
Jurusan/Semester/Kelas : Manajemen Dakwah/VI(Enam)/B


FAKULTAS DA’WAH DAN ILMU KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) RADEN INTAN LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2016 M/1437 H
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah “Manajemen Masjid dan Majelis Taklim”. Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
 Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.


                                                                     Bandarlampung, 15 Maret 2016
                                                          
                                                                                        Penulis
                                                                                         






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Konsep kebudayaan dalam Islam.................................................................. 2
B.     Masjid sebagai pusat peradaban umat islam.................................................. 3
C.     Masjid sebagai basis pembangunan masyarakat badani ................................ 6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 7
B.     Saran.............................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA


 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya. Di era globalisasi ini, banyak masyarakat dan khususnya bagi para pelajar yang acuh tak acuh dengan sejarah Negara, apalagi sejarah paradaban islam. Dewasa ini mereka hanya memandang sejarah sebagai dongeng yang membosankan untuk di dengar. Padahal, sejarah, apalagi sejarah peradaban islam sangat penting bagi kita semua.
Kehidupan sehari-hari umat islam terkait erat dengan masjid yang didirikan atas dasar  iman. Penampilan dan manajemen masjid dapat member gambaran tentang hubungan masjid dengan sumber daya manusia di sekelilingnya. Manajemen masjid harus dilaksanakan sebagai pengamalan dan hubungan manusia dengan Allah SWT. Dan hubungan manusia dengan manusia lain yang dalam Al-qur’an srat ali imron ayat 122 sebagai berikut: “mereka akan di timpa kehinaandimana saja mereka berada, kecuali kalau mereka tetap menjaga hubungannya dengan Allah dan menjaga hubungannya dengan manusia”.
Kualitas sumber daya manusia yang merupakan pengamalan ilmu dapat tergambar dalam bentuk bangunan (arsitektur) dan manajemen dari sebuah masjid sebagaimna telah diketahui bahwa  arsitektur sebuah bangunan masjid mempunyai dengan perkembangan budaya. Sedangkan budaya itu sendiri merupakan hasil dari rekayasa akal manusia. Dalam arti kata bahwa kebudayaan itu adalah hasil upaya (rekayasa) dalam keseluruhan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh menusia. Perkembangan ilmu pengetahuan itu terkait erat  dengan uang dan waktu tertentu.

B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep kebudayaan dalam islam ?
2.      Mengapa masjid sebagai pusat peradaban islam ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Kebudayaan Dalam Islam
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal).[1] Budi mempunyai arti akal, kelakuan, dan norma. Sedangkan “daya” berarti hasil karya cipta manusia. Dengan demikian,kebudayaan adalah semua hasil karya, karsa dan cipta manusia di masyarakat. Istilah "kebudayaan" sering dikaitkan dengan istilah "peradaban". Perbedaannya : kebudayaan lebih banyak diwujudkan dalam bidang seni, sastra, religi dan moral, sedangkan peradaban diwujudkan dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi.
Sedangkan pengertian Islam berasal dari bahasa arab yaitu “Aslama-Yuslimu-Islaman” yang artinya selamat. Menurut istilah, Islam adalah agama samawi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi manusia agar kehidupannya membawa rahmat bagi seluruh alam.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم {سورة علي عمران:18}

Artinya :
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Ali Imran : 18)
وَمَااَرْسَلْنَكَ اِلَّا رَحْمَةً لِلْعَلَمِيْنَ {سورة الأنبياء:107}
Artinya :
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
Sehingga disimpulkan bahwa Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber nilai-nilai Islam.
Allah mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rosul yaitu memberikan bimbingan kepada umat. Manusia agar dalam mengembangkan kebudayaan tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Sebagaimana sabdanya yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak.”
Dalam perkembangannya kebudayaan islam perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri.
Disini agama islam berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau berperadaban islam. Sehubungan dengan hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan atau disebut sebagai peradaban islam, maka fungsi agama disini semakin jelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini sangat terasa akan perlunya suatu bimbingan wahyu. Allah Swt mengangkat seorang Rasul dari jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat manusia. Oleh sebab itu misi utama Muhammad diangkat sebagai Rasul adalah menjadi Rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam.
Mengaali tugas utamanya, Nabi meletakkan dasar-dasar perkembangan islam yang kemudian berkembang menjadi peradaban islam. Ketika dakah islam keluar dari jazirah arab, kemudian tersebar keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjang dan rumit, yaitu asimilasi budaya-budaya setempat dengan nilai-nilai islam yang kemudian melahirkan budaya islam. Kebuyaan ini berkembang menjad suatu peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.

B.     Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat Islam
Dalam bahasa Arab, masjid berarti tempat sujud atau tempat ibadah.Dalam perjalanan sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat untuk menunaikan ibadah shalat (terutama shalat berjamaah), namun juga berperan lebih fenomenal dan krusial dalam menunjang kehidupan masyarakat. Islam mengajarkan pendirian masjid harus memberikan manfaat luas, terdalam dan lengkap mengingat seluruh permukaan bumi adalah masjid namun masjid pada umumnya hanya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus seperti shalat, padahal masjid mestinya berfungsi lebih luas dari pada sekedar sebagai sebagai tempat shalat . sejak awal berdirinya masjid belum bergeser dari fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat peribadatan.[2]
Pada umumnya, disamping tempat shalat. Masjid pada zaman Nabi dijadikan sebagai pusat peradaban islam. Nabi Muhammad SAW mensucikan jiwa kaum muslimin, membina sekap dasar kaum muslimin terhadap orang yang bebeda agama atau ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru melalui masjid.Masjid dijadikan simbol kesatuan dan persatuan umat islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi Muhammad mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih sebagai pusat peribadatan umat islam.
Belajar dari sejarah Islam, seharusnya eksistensi masjid pada masa kini harus lebih mampu memberi makna terdalam, terluas dan terlengkap bagi kehidupan masyarakat Muslim. Karena itu, pengembangan dan pengayaan ulang atau revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat berbagai kegiatan sosial-keagamaan, pendidikan, politik, kesehatan dan sebagainya kini menjadi lebih diperlukan. Tujuannya untuk menciptakan manfaat dan dampak masjid yang maksimal serta berkesinambungan dalam mengembangkan peradaban dunia Islam yang maju, ramah, mandiri, damai dan modern.

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسْجِدَ اللهِ مَنْ اَمَنَ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الاَخِرِ وَاَقَامَ الصَّوةَ وَاَتَى الزَّكَوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّااللهِ فَعَسَى اُوْلَئِكَ اَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ المُهْتَدِيْنَ {سورة التوبة :18}
Artinya :
“Sesungguhnya yang dapat memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah:orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari yang akhir orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat dia tidak takut melainkan hanya kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah (9):18).

وَاَنَّ المَسْجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا {سورة الجنّ:18}
Artinya :
 “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” (Q.S. Al-Jin (72):18)
1.      Pusat pendidikan dan pelatihan
Proses menuju ke arah pemberdayaan umat dimulai dengan pendidikan dan pemberian pelatihan-pelatihan. Masjid seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya proses pemberdayaan tersebut, bahkan sebagai pusat pembelajaran umat, baik dalam bentuk pengajian, pengkajian, seminar dan diskusi maupun pelatihan-pelatihan keterampilan, dengan peserta minimal jamaah disekitarnya.[3]
2.      Pusat perekonomian umat
Soko guru perekonomian Indonesia katanya koperasi, namun pada kenyataannya justru koperasi menjadi barang yang tidak laku. tidak ada salahnya bila masjid mengambil alih peran sebagai koperasi yang membawa dampak positif bagi umat di lingkungannya. Bila konsep koperasi digabungkan dengan konsep perdagangan ala pusat-pusat pembelanjaan yang diminati karena terjangkaunya harga barang, dan dikelola secara professional oleh dewan pengurus maka masjid akan dapat memakmurkan jamaahnya. Sehingga akhirnya jamaahnya pun akan memakmurkan masjidnya.
3.      Pusat penjaringan potensi umat
Masjid dengan jamaah yang selalu hadir hanya sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang jumlahnya. Masjid dengan jamaah yang selalu hadir sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang jumlahnya. Dari berbagai macam usia, beraneka profesi dan tingkat (strata) baik ekonomi maupun intelektual, bahkan sebagai tempat berlangsungnya akulturasi budaya secara santun.
4.      Pusat kepustakaan
Perintah pertama Tuhan kepada Nabi terakhir adalah "Membaca", dan sudah sepatutnya kaum muslim gemar membaca dalam pengertian konseptual maupun kontekstual. Maka dengan sendirinya hampir menjadi kemutlakkan bila masjid memiliki perpustakaan sendiri.

C.    Masjid Sebagai Basis Pembangunan Masyarakat Madani
Munculnya berbagai problem kebangsaan yang kini menjadi bagian dari kehidupan seluruh masyarakat di tanah air kita, tidak bisa dilepaskan dari implikasi nyata atas gagalnya peran kelompok masyarakat madani selama ini. Banyak aspek dalam pengembangan masyarakat madani yang begitu dilupakan, salah satunya adalah keberadaan masjid.[4] Hampir seluruh sejarah perubahan dalam islam senantiasa diawali dengan kemampuan para aktor masyarakat madani dalam membangun perubahan melalui sarana masjid.
Peran masjid sebagai basis pembangunan masyarakat madani begitu menonjol, baik pada awal kebangkitan islam maupun pada masa pengembangan dan penyebaran islam. Masjid bukan hanya semata-mata dijadikan sarana ibadah mahdhah, melainkan ia menjadi sarana dan sekaligus kekuatan dalam membangun dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat. Sehingga perubahan dalam konteks politik kebangsaan secara luas, bukan hanya perubahan dalam arti struktur dan sistem politik, namun jauh dari itu adalah perubahan terhadap nilai-nilai dankebudayaan politik yang dibangun melalui basisi masjid.  
Masjid-masjid dibangun di tengah-tengah sekolah, rumah sakit, di tengah atau desa memang dimaksudkan untuk menyatukan cita-cita spiritual umat islam dengan cita-cita sosialnya. Ini dapat menjadi basis manyarakat madani. Dalam masyakat madani, antara masjid dan masyarakat serta dengan aktivitas sehari-sehari tidak terpisahkan, simbiosis mutualisme,salin terikat, saling menginspirasi dan saling mendinamisasi kehidupan. Kemampuan dan penempatan masjid, sebagai basis masyarakat madani inilah saat sekarang yang sering dan cenderung dilupakan, padahal tidak sedikit masjid yang hanya dijadikan sebagai sarana ibadah mahdah semata. Lantas mungkinkah kita kembali untuk menjadikan masjid sebagai basis masyarakat madani? Bagaimana langkah dan strategi yang harus dibangun, serta persoalan apa yang menjadi penting untuk dievaluasi ke depan?




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Sehingga disimpulkan bahwa Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber nilai-nilai Islam.
Allah mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rosul yaitu memberikan bimbingan kepada umat. Manusia agar dalam mengembangkan kebudayaan tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Sebagaimana sabdanya yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak.”
Dalam perkembangannya kebudayaan islam perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri.
Disini agama islam berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau berperadaban islam. Sehubungan dengan hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan atau disebut sebagai peradaban islam, maka fungsi agama disini semakin jelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini sangat terasa akan perlunya suatu bimbingan wahyu. Allah Swt mengangkat seorang Rasul dari jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat manusia.
Nabi Muhammad SAW mensucikan jiwa kaum muslimin, membina sekap dasar kaum muslimin terhadap orang yang bebeda agama atau ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru melalui masjid.Masjid dijadikan simbol kesatuan dan persatuan umat islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi Muhammad mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih sebagai pusat peribadatan umat islam.
Belajar dari sejarah Islam, seharusnya eksistensi masjid pada masa kini harus lebih mampu memberi makna terdalam, terluas dan terlengkap bagi kehidupan masyarakat Muslim. Karena itu, pengembangan dan pengayaan ulang atau revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat berbagai kegiatan sosial-keagamaan, pendidikan, politik, kesehatan dan sebagainya kini menjadi lebih diperlukan. Tujuannya untuk menciptakan manfaat dan dampak masjid yang maksimal serta berkesinambungan dalam mengembangkan peradaban dunia Islam yang maju, ramah, mandiri, damai dan modern.

B.     Saran
Maka dari itu penulis berharap agar dalam pembahasan, mendukung pentingnya pembahasan “Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat” agar kita bisa mengetahuai bahwa masjid bukan hanya untuk pribatan kepada Allah SWT akan tetapi juga untuk membangun peradaban umat islam.
Namun bagaimanapun juga dalam tugas makalah terbimbing ini penulis sadar bahwa masih banyak kurang disana sini,maka besar harapan dari para pembaca untuk memperbaiki dengan berbagai saran dan masukan bagi penulis agar lebih baik di kemudian harinya dalam menulis makalah.






DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,Jakarta;Rajagrafindo,1993
http://reapisan.blogspot.com/2011/12/masjid-sebagai-pusat-peradaban.html


[2] Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta;Rajagrafindo,(1993). h. 18
[3] https://www.facebook.com/permalink.php
[4] http://reapisan.blogspot.com/2011/12/masjid-sebagai-pusat-peradaban.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar