Tugas Kelompok 4
KONDISI ORGANISASI DAKWAH DI INDONEDIA
Dosen pembimbing : Hj.Rodiyah S.Ag,MM
Di
Susun oleh :

Erpan Stiawan : 1341030018
Rohma Nurlia :
1341030003
Kalin Rizki :
1341030050
Nuri Ulwati :
1341030105
Rini Widiya Astuti :
1341030012
Siti Badriah :
1341030026
Maria Ulfa :
1341030046
Junindra Strada :
1341030060
Jur/smtr/kls : Manajemen Dakwah/5/B
FAKULTAS
DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
IAIN RADEN
INTAN LAMPUNG
2015 / 2016
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha
Esa, karena dengan rahmat, karunia, serta taufik, da hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Kondisi Organisasi Dakwah di Indonesia”.Makalah
ini di tulis untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh ibu Hj.Rodiyah selaku
dosen mata kuliah strategi kebijakan oeganisasi dakwah.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhya
bahwa di dalam makalah ini terdapat
banyak kekurangn dan jauh dari sempurna, baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Untuk itu kami berharap adanya kritik
dan saran yang membangun dari pembaca,
demi perbaikan makalah yang
akan datang.Semoga makalah ini dapat dipahami dan berguna bagi kami pribadi maupun pembaca Amin.
Wassalamualaikum wr. Wb
Bandar Lampung, 02 Oktober 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR............................................................................................
DAFTAR
ISI............................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................ 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Sejarah berdirinya LDII....................................................................................... 2
B.
Badan hukum LDII sebagai Ormas..................................................................... 2
C.
Tujusn LDII dan Struktur LDII.......................................................................... 3
D.
Program kerja LDII.............................................................................................. 3
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.......................................................................................................... 8
B.
Saran.................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada hakikatnya, gerakan dakwah Islam berporos pada amar ma'ruf nahi munkar.
Ma'ruf mampunyai pengertian segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah
swt, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari
pada-Nya. Pada dataran amar ma'ruf, siapapun bisa melakukannya, pasalnya bila
hanya sekadar "menyuruh" kepada kebaikan itu mudah dan tidak ada
resiko bagi di "penyuruh". Lain halnya dengan nahi munkar, jelas
mengandung konsekuensi logis dan beresiko bagi yang melakukannya. Karena
"mencegah kemungkaran" itu melakukannya dengan tindakan konkret,
nyata dan dilakukan atas dasar kesadaran tinggi dalam rangka menegakkan
kebenaran. Oleh karena itu, ia harus berhadapan secara langsung dengan obyek
yang melakukan tindak kemungkaran itu.
Inilah sesungguhnya cikal bakal perintah dakwah yang diwajibkan oleh Allah
SWT pada setiap pribadi seorang muslim yang mengaku beriman. Oleh karena itu,
peran para nabi dan rasul sesungguhnya diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan
kebenaran firman-Nya melalui dakwah yang disampaikan dan sekaligus memberikan
tuntutan kebaikan kepada manusia untuk selalu konsisten dan istiqamah dalam
menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Pun demikian, istilah dakwah sendiri
jika tidak dilandasi dengan struktur fundamental yang jelas, pengertiannya akan
menjadi semakin kabur karena selalu diberi pengertian dengan konotasi dan
denotasi yang pasti baik dan positif.
2.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari setiap
organisasi dakwah (NU, LDII)
2.
Bagaimana kondisi
Organisas Dakwah diindonesia ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Berdirinya LDII
Lembaga Dakwah Islam
Indonesia pertama kali ditumbuhkan pada 3 Januari 1972 dengan nama Yayasan Lembaga Karyawan Islam (YAKARI).[1]
Pada Musyawarah Besar ( Mubes ) tahun 1981 namanya diganti menjadi Lembaga
Karyawan Islam (LEMKARI) dan pada Mubes tahun 1990, atas dasar Pidato
Pengarahan Bapak Sudarmono, SH. Selaku Wakil Presiden dan Bapak Jenderal Rudini
sebagai Mendagri waktu itu, serta masukan baik pada siding-sidang komisi maupun
siding Paripurna dalam Musyawarah Besar IV LEMKARI tahun 1990, selanjutnya
perubahan nama tersebut ditetapkan dalam keputusan, MUBES IV LEMKARI No.
VI/MUBES-IV/ LEMKARI/1990, Pasal 3, yaitu mengubah nama organisasi dari Lembaga
Karyawan Dakwah Islam yang disingkat LEMKARI yang sama dengan akronim LEMKARI
(Lembaga Karate-Do Indonesia), diubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia,
yang disingkat LDII.
B. Badan Hukum LDII
sebagai Ormas
1. Dasarnya, yaitu
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. AHU-18. AH.01.06. Tahun.
2008, Tanggal, 20 Pebruari 2008.
2. Isi Keputusan: PERTAMA:
Memberikan Pengesahan Akta Pendirian: LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA disingkat
LDII, NPWP. 02.414.788.6-036.000 berkedudukan di Ibukota Negara Republik
Indonesia, sebagaimana anggaran dasarnya termuat dalam AKTA Nomor 01 tanggal 03
Januari 1972 yang dibuat oleh Notaris Mudijomo berkedudukan di Surabaya dan
Akta Nomor 13 Tanggal 27 September 2007, yang dibuat di hadapan Notaris Gunawan
Wibisono, SH, berkedudukan di Surabaya dan oleh karena itu mengakui lembaga
tersebut sebagai badan hokum pada hari pengumuman anggaran dasarnya dalam
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. KEDUA: Keputusan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia ini disampaikan kepada yang bersangkutan
untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
C. Tujuan LDII dan Struktur Organisasi LDII
Sesuai Anggaran Dasar Pasal 5 Ayat
2, LDII bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara yang Islami, serta turut serta dalam pembangunan
masyarakat Indonesia seutuhnya, yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa guna mewujudkan masyarakat madani yang demokratis
dan berkeadilan sosial berdasar Pancasila, yang diridhoi Allohu Subhaanahu Wa
Ta’alaa. Sedangkan Struktur Organisasi
LDII yaitu Berdasar Pasal 12
Anggaran Dasar LDII, Struktur Organisasi LDII terdiri dari :
1. DPP = Dewan Perwakilan
Pusat, berada di Jakarta.
2. DPD Provinsi = Dewan Perwakilan Provinsi,
berada di 33 Provinsi di Indonesia.
3. DPD Kota/Kabutapen = Dewan Perwakilan Daerah
Kota/Kabupaten, berada di Kota atau Kabupaten dari tingkat DPD Provinsi di
atasnya.
4. PC = Pimpinan Cabang,
berada di Kecamatan dari tingkat DPD Kota/Kabupaten di atasnya.
5. PAC = Pimpinan Anak
Cabang, berada di Kelurahan dari tingkat PC di atasnya.
D.
Program Kerja
LDII
Program Kerja DPP LDII mengacu kepada Catur
Sukses LDII, yaitu :
1.
Sukses dalam
peningkatan kinerja organisasi.
2.
Sukses dalam
peningkatan kualitas sumber daya manusia.
3.
Sukses dalam
pemberdayaan potensi LDII.
4.
Sukses dalam peran serta sosial dan kemasyarakatan.
E. Aspirasi Politik Warga
LDII pada Saat Pemilu
LDII adalah organisasi
kemasyarakatan yang independen yang tidak mengikatkan diri ke partai politik
manapun. Adapun pada saat Pemilu, tanpa mengurangi nilai demokrasi, aspirasi
politik warga LDII disalurkan sesuai dengan keputusan Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) yang diadakan menjelang Pemilu. LDII adalah Lembaga Dakwah tidak
untuk dijadikan alat tawar menawar politik dari pihak manapun dan tetap menjaga
Netralitas, LDII tidak GOLPUT, menerima dan menghormati seluruh hasil keputusan
KPUD, memberi ucapan selamat kepada “PEMENANG” dan kepada calon yang “KALAH”
tetap diadakan pendekatan, mengedepankan nilai-nilai yang luhur dalam proses
PILKADA, Munas VI LDII 2005 merekomendasikan agar dukungan terhadap para calon
diserahkan pada “keputusan” masing-masing pribadi warga ataupun simpatisan
LDII, mendukung sepenuhnya Pengurus atau warga LDII yang menjadi calon dalam
PILKADA.
F.
Pandangan LDII
terhadap Wawasan Kebangsaan
LDII memiliki wawasan untuk selalu mendahulukan
kepentingan bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dan integritas nasional.
Untuk mewujudkan hal tersebut LDII bersama-sama dengan tokoh-tokoh Pejuang 45
dan Markas Besar (Mabes) ABRI menyelenggarakan Penataran Wawasan Kebangsaan di
Gedung Juang 1945, Jakarta. Di Tingkat Pusat sudah ditatar 20 angkatan
masing-masing 150 orang per angkatan. Penataran Wawasan Kebangsaan ini juga
diadakan di tingkat daerah di seluruh Indonesia.[2]
G.
Kegiatan LDII dalam Bidang Pendidikan Keterampilan, Kepemudaan dan Olahraga
Dalam bidang Pendidikan
Keterampilan, Kepemudaan dan Olahraga, LDII menyelenggarakan kursus
keorganisasian, keterampilan, perkemahan pemuda, dan kegiatan Pramuka. Dalam
bidang olahraga, di antaranya menyelenggarakan Pencak Silat Persinas ASAD (Ampuh Sehat Aman Damai) yang sudah menjadi anggota IPSI, sudah mengikuti turnamen Pencak Silat tingkat Nasional, turnamen sepak
bola sampai tingkat Nasional dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada
tahun-tahun 1991, 1994, dan 1996, 2000 dan 2002.
H.
Metode Pengajaran LDII
LDII menggunakan metode
pengajian tradisional, yaitu guru-guru yang berasal dari beberapa alumni pondok
pesantren kenamaan, seperti: Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, Tebu Ireng di
Jombang, Kebarongan di Banyuwangi, Langitan di Tuban, dll. Mereka bersama-sama
mempelajari ataupun bermusyawaroh beberapa waktu terlebih dahulu sebelum
menyampaikan pelajaran dari Al-Qur’an dan Al-Hadits kepada para jama’ah
pengajian rutin atau kepada para santriwan dan santriwati di pondok-pondok
LDII, untuk menjaga supaya tidak terjadi kekeliruan dalam memberikan penjelasan
tentang pemahaman Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian guru
mengajar murid secara langsung ( manquul ) baik bacaan, makna (diterjemahkan
secara harfiyah), dan keterangan, dan untuk bacaan Al-Qur’an memakai ketentuan
tajwid.
I.
Sumber Hukum
LDII
Sumber hukum LDII adalah AlQur'an dan Al
Hadits. Dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits, ulama LDII juga menggunakan
ilmu alat seperti ilmu nahwu, shorof, badi’, ma’ani, bayan, mantek, balaghoh,
usul fiqih, mustholahul-hadits, dan sebagainya. Ibarat orang akan mencari ikan
perlu sekali menggunakan alat untuk mempermudah menangkap ikan, seperti jala
ikan. Perumpamaannya adalah seperti orang yang akan mencari jarum di dalam
sumur perlu menggunakan besi semberani. Untuk memahami arti dan maksud
ayat-ayat Al-qur’an tidak cukup hanya dengan penguasaan dalam bahasa ataupun
ilmu shorof. Al-Qur’an memang berbahasa Arab tapi tidak berarti orang yang
mampu berbahasa Arab akan mampu pula memahami arti dan maksud dari ayat-ayat
Al-Qur’an dengan benar. Penguasaan di bidang bahasa Arab hanyalah salah satu
kemampuan yang patut dimiliki oleh seorang da’i atau muballigh, begitupun ilmu
alat ( nahwu shorof ).
Di LDII untuk memahami
arti dan maksud dari ayat-ayat Al-Qur’an maka para da’i ataupun para muballigh
/ ghoh telah memiliki kemampuan-kemampuan sebagaimana berikut:
1.
Ilmu balaghoh, yaitu ilmu
yang dapat membantu untuk memahami dan menentukan mana ayat-ayat yang mansukh
(diganti/ralat) dan mana ayat-ayat yang nasih (gantinya), dan mana ayat-ayat
yang merupakan petunjuk larangan (pencegahan).
2.
Ilmu asbabun nuzul, yaitu
ilmu yang membahas sebab-musabab turunnya ayat-ayat Al-qur’an. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui situasi dan kondisi bagaimana dan
kapan serta dimana ayat suci Al-Qur’an diturunkan.
3.
Ilmu kalam, yaitu ilmu tauhid yang membicarakan tentang keesaan Alloh,
sekaligus membicarakan sifat-sifat-Nya.
4. Ilmu qiro’at, yaitu
ilmu yang membahas macam-macam bacaan yang telah diterima dari Rosulullohi
Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (Qiro’atus Sab’ah).
5. Ilmu tajwid, yaitu ilmu
yang membahas cara-cara yang benar dalam membaca Al-Qur’an.
6. Ilmu wujuh wan-nadzair, yaitu ilmu yang
menerangkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mempunyai arti banyak.
7. Ilmu ghoribil Qur’an,
yaitu ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat
dalam kitab-kitab biasa atau tidak juga terdapat dalam percakapan sehari-hari.
8. Ilmu ma’rifatul muhkam
wal mutasyabih, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat hokum dan ayat-ayat yang
mutasyabihah.
9. Ilmu tanasubi ayatil
Qur’an, yaitu ilmu yang membahas persesuaian/kaitan antara satu ayat dalam
Al-Qur’an dengan ayat yang sebelum dan sesudahnya.
10. Ilmu amtsalil Qur’an,
yaitu ilmu yang membahas segala perumpamaan atau permisalan.
J.
Aktivitas
Pengajian LDII
LDII menyelenggarakan
pengajian Al Qur'an dan Al Hadits dengan rutinitas
kegiatan yang cukup tinggi. Di tingkat PAC (Desa/Kelurahan) umumnya pengajian
diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC (Kecamatan) diadakan
pengajian seminggu sekali. Untuk memahamkan ajarannya, LDII mempunyai program
pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh
masjid LDII. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan
pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian khusus Manula/Lanjut
usia.Ada juga pengajian UNIK (usia nikah). Disamping itu ada pula pengajian
yang sifatnya tertutup, juga pengajian terbuka . Pada musim liburan sering
diadakan Kegiatan Pengkhataman Al-qur'an dan hadits selama beberapa hari yang
biasa diikuti anak-anak warga LDII dan non LDII untuk mengisi waktu liburan
mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada peserta didik tentang
bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan
Al-qur'an dan hadits dalam keseharian mereka. LDII mengadakan berbagai forum
tipe pengajian berdasarkan kelompok usia dan gender antara lain;
1.
Pengajian kelompok tingkat PAC
Pengajian ini diadakan
rutin 2 – 3 hari dalam seminggu di masjid-masjid, mushalla-mushala atau
surau-surau yang ada hampir di setiap desa di Indonesia. Setiap kelompok PAC
biasanya terdiri 50 sampai 100 orang jamaah. Materi pengajian di tingkat
kelompok ini yaitu Quran (bacaan, terjemahan dan keterangan), hadist-hadist
himpunan, dan nasihat agama. Dalam forum ini pula jamaah LDII diajari
hafalan-hafalan doa, dalil-dalil Quran Hadist dan hafalan surat–surat pendek AL
Quran. Dalam forum pengajian kelompok tingkat PAC ini jamaah juga dikoreksi
amalan ibadahnya seperti praktek berwudu dan salat.
2.
Pengajian Cabe rawit
Pengembangan mental agama
dan akhlakul karimah jamaah dimulai sejak usia dini. Masa kanak-kanak merupakan
pondasi utama dalam pembentukan keimanan dan akhlak umat, sebab pada usia dini
seorang anak mudah dibentuk dan diarahkan. Pengajian Cabe rawit diadakan setiap
hari di setiap kelompok pengajian LDII dengan materi antara lain bacaan iqro’,
menulis pegon, hafalan doa-doa, dan surat-surat pendek Al Quran. Forum pengajian Caberawit juga diselingi dengan rekreasi dan bermain.
3.
Pengajian Muda-mudi
Muda-mudi atau usia
remaja perlu mendapat perhatian khusus dalam pembinaan mental agama. Pada usia
ini pola pikir anak mulai berkembang dan pengaruh negatif pergaulan dan
lingkungan semakin kuat. Karena itu pada masa ini perlu menjaga dan membentengi
para remaja dengan kefahaman agama yang memadai agar generasi muda LDII tidak
terjerumus dalam perbuatan maksiat, dosa-dosa dan pelanggaran agama yang dapat
merugikan masa depan mereka. Sebagai bentuk kesungguhan dalam membina generasi
muda, LDII telah membentuk Tim Penggerak Pembina Generus (TPPG) yang terdiri
dari pakar pendidikan dan ahli psikologi. Pembinaan generasi muda dalam LDII
setidaknya memiliki 3 sasaran yaitu: Menjadikan generasi muda yang sholeh, alim
(banyak ilmunya) dan fakih dalam beribadah, Menjadikan generasi muda yang
berakhlakul karimah (berbudi pekerti luhur), berwatak jujur, amanah, sopan dan
hormat kepada orang tua dan orang lain, Menjadikan generasi muda yang tertib,
disiplin, trampil dalam bekerja dan bisa hidup mandiri.
4. Pengajian Wanita/ibu-ibu
Para wanita, ibu-ibu
dan remaja putri perlu diberi wadah khusus dalam pembinaan keimanan dan
peningkatan kepahaman agama, mengingat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum
ibu/wanita. Sabda Rasulullah SAW: "Diperlihatkan padaku Neraka, maka
ketika itu kebanyakan penghuninya adalah wanita." Hadist riwayat
Bukhori dalam Kitabu al-Imaan
5. Pengajian Umum
Pengajian umum
merupakan forum gabungan antara beberapa jamaah PAC dan PC LDII. Pengajian ini
juga merupakan wadah silaturahim antar jamaah LDII untuk membina kerukunan dan
kekompakan antar jamaah.Semua pengajian LDII bersifat terbuka untuk umum,
siapapun boleh datang mengikuti setiap pengajian sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan.
K.
Latar Belakang Lahirnya
Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdatul Ulama (kebangkitan Ulama atau
Kebangkitan Cendekiawan islam) Disingkat NU, adalah organisasi islam besar
diindionesia. Organisasi ini berdiri pada tgl 31 Januari 1926 dan bergerak
dibidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Keterbalakangan baik secara mental, maupun
ekonomi yang dilalami bangsa indonesia, akibat penjajahan maupun akibat
dukungan tradisi, telah mengugah kesadaran kautradisim terpelajar untuk
memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan
Nasional". Semangat kebangkitan
memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap
penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya,
muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk
organisasi pergerakan, seperti Muhammadiyah pada tahun 1912. Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul
Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri"
(kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum
saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga
pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Berangkat dari munculnya
berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan adhoc, maka
setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan
lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah
berkordinasi dengan berbagai kyai,
karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti
konverensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul
kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama
(Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini
dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais
Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim
Asy'ari merumuskan kitab Qanun
Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah.
Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai
dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial,
keagamaan dan politik.
Sebagai warga Indonesia khususnya warga NU
haruslah mengetahui sejarah Bangsa ini. Bagaimana NU dalam peranannya yang
begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mempertahankan
keutuhan NKRI dan bagaimana latar belakang lahirnya ormas terbesar di dunia
Nahdlatul Ulama (NU) ini lahir. Silakan disimak dan dihayati mudah-mudahan
menjadi pijakan bagi kita untuk lebih menghargai jasa-jasa para Pahlawan.
Ada tiga alasan yang melatarbelakangi
lahirnya Nahdlatul Ulama 31 Januari 1926:
1.
Motif Agama.
Bahwa Nahdlatul Ulama lahir atas semangat
menegakkan dan mempertahankan Agama Allah di Nusantara, meneruskan perjuangan
Wali Songo. Terlebih Belanda-Portugal tidak hanya menjajah Nusantara, tapi juga
menyebarkan agama Kristen-Katolik dengan sangat gencarnya. Mereka membawa para
misionaris-misionaris Kristiani ke berbagai wilayah.
2. Motif Nasionalisme.
NU lahir karena niatan kuat untuk menyatukan
para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga
dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama. NU pimpinan
Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari sangat nasionalis. Sebelum RI merdeka, para
pemuda di berbagai daerah mendirikan organisasi bersifat kedaerahan, seperti
Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan
sebagainya. Tapi, kiai-kiai NU justru mendirikan organisasi pemuda bersifat
nasionalis
3. Motif Mempertahankan Faham Ahlussunnah wal
Jama’ah.
NU lahir untuk membentengi umat Islam
khususnya di Indonesia agar tetap teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal
Jama’ah (Para Pengikut Sunnah Nabi, Sahabat dan Ulama Salaf Pengikut
Nabi-Sahabat), sehingga tidak tergiur dengan ajaran-ajaran baru (tidak dikenal
zaman Rasul-Sahabat-Salafus Shaleh/ajaran ahli bid'ah). Pembawa ajaran-ajaran
bid'ah yang sesat (bid'ah madzmumah) menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
adalah sebagai berikut:
a. Kaum Khawarij dengan imam/pemimpinnya Abdullah
bin Abdul Wahab ar-Rasabi yang muncul di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib
Ra. yang berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, sehingga ciri
khas mereka mudah menuduh orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan ajarannya
sebagai kafir. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. pun dicap kafir karena
dianggap berdosa besar mau menerima tawaran tahkim/perdamaian yang diajukan oleh
pemberontak Muawiyyah Ra.
b. Kaum Syi'ah, lebih-lebih setelah munculnya
sekte syi'ah Rafidhah dan Ghulat. Tokoh pendiri Syi'ah adalah Abdullah bin
Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan menyebarkan ajaran Wishoya,
bahwa kepemimpinan setelah Nabi adalah lewat wasiat Nabi Saw. Dan yang mendapatkan wasiat adalah Ali bin Abi Thalib Ra. Dan Abu
Bakar, Umar dan Utsman termasuk perampok jabatan.
c. Aliran Mu'tazilah yang didirikan oleh seorang
tabi'in yang bernama Wasil bin Atho', ciri ajaran ini adalah menafsirkan
al-Qur'an dan kebenaran agama ukurannya adalah akal manusia, bahkan mereka
berpendapat demi sebuah keadilan Allah harus menciptakan al-manzilah baina
al-manzilataini, yakni satu tempat di antara surga dan neraka sebagai tempat
bagi orang-orang gila.
d. Faham Qodariyyah yang pendirinya adalah Ma'bad
al-Juhaini dan Ghailan ad-Dimasyqi keduanya murid Wasil bin Atho' dan keduanya
dijatuhi hukuman mati oleh Gubernur Irak dan Damaskus karena menyebarkan ajaran
sesat (bid'ah), ciri ajarannya adalah manusia berkuasa penuh atas dunia ini,
karena tugas Allah telah selesai dengan diciptakannya dunia, dan bertugas lagi
nanti ketika kiamat datang.
e. Aliran Mujassimah atau kaum Hasyawiyyah ciri
aliran ini menjasmanikan Allah (menyerupakan Allah dengan makhluk) yang diawali
dengan menafsirkan al-Qur'an secara lafdziy dan tidak menerima ta'wil, sehingga
sehingga mengartikan yadullah adalah Tangan Allah. (Lihat Ibnu Hajar al-'Asqolani dalam Fath
al-Baari Juz XX hal. 494). Bahkan mereka sanggup mengatakan, bahwa pada suatu
ketika, kedua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemuiNya dan
Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh As. sehingga
mataNya menjadi merah, dan ‘Arsy meratap hiba seperti suara pelana baru dan
bahwa Dia melampaui ‘Arsy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut. (Lihat asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal, hal. 141).
Mereka juga membangkitkan kembali penafsiran al-Qur'an-Sunnah secara
lafdziy. Golongan Salafi ini percaya bahwa al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa
diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal dan tidak ada arti
majazi atau kiasan di dalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang
mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana
kata-kata Allah Swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat
membedakan di antara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi
yang timbul di dalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami
masalah tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
LDII adalah organisasi kemasyarakatan yang independen
yang tidak mengikatkan diri ke partai politik manapun. Adapun pada saat Pemilu,
tanpa mengurangi nilai demokrasi, aspirasi politik warga LDII disalurkan sesuai
dengan keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang diadakan menjelang
Pemilu. Nahdatul Ulama (kebangkitan Ulama atau
Kebangkitan Cendekiawan islam) Disingkat NU, adalah organisasi islam besar
diindionesia. Organisasi ini berdiri pada tgl 31 Januari 1926 dan bergerak
dibidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk
organisasi pergerakan, seperti Muhammadiyah pada tahun 1912. Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul
Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri"
(kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri.
B. Saran
Maka dari itu penulis berharap agar dalam pembahasan
mendukung pentingnya pembahasan kondisi
organisasi dakwah diindonesia di dalam islam lebih didepankan lagi pada
masa-masa sekarang ini. Namun bagaimanapun juga dalam tugas makalah terbimbing
ini penulis sadar bahwa masih banyak kurang disana sini,maka besar harapan dari
para pembaca untuk memperbaiki dengan berbagai saran dan masukan bagi penulis
agar lebih baik di kemudian harinya dalam menulis makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar