DAFTAR ISI
Kata
Pengantar...........................................................................................................
Daftar
Isi....................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang Masalah................................................................................. 1
b.
Rumusan
Masalah.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
a.
Pengertian
syirkah.......................................................................................... 3
b.
Rukun
dan syarat syirkah............................................................................... 4
c.
Macam-macam
syirkah................................................................................... 6
d.
Cara
membagi keuntungan dan kerugian....................................................... 8
e.
Mengakhiri
syirkah......................................................................................... 8
BAB III
PENUTUP
a.
Kesimpulan.................................................................................................... 11
b.
Saran.............................................................................................................. 11
Daftar Pustaka
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan
hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengertian syirkah”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai
mata kuliah fiqh Muamalah. Tidak
lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan
kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para
pembaca.
Bandarlampung,
09 April 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Syirkah menurut bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur
atau percampuran.demikian dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini
ialah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehinga tidak
mungkin untuk dibedakan
Menurut istilah
yang dimasud dengan syirkah,para fuqaha berbedaa pendapat sebagai berikut.
1.
Menurut
Sayyid Sabiq yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَقْدٌ بَيْنَ الْمُتَشَارِ كَيْنِ فِى
رَأْسِ الْمَالِ وَالرَّبْحِ
"Akad antara dua orang berserikat pada pokok harta (modal
) dan keuntungan".
2. Menurut Muhammad al-Syarbini al-Khatib, yang dimaksud dengan syirkah
ialah:
تُبُوْتُ الْحَقِّ لاِثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ عَلَى
جِهَةِ الشُّيُوْعِ
”Ketetapan hak pada sesuatu untuk dua orang atau lebih
dengan cara yang mashur (diketahui )."
3. Menurut Syihab al-Din al-Qalyubi Wa Umaira
yang dimaksud dengan syirkah ialah
ثُبُوْتُ الْحَقِّ لِاثْنَيْنِ فَأَ كْثَرَ
"Penetapan hak pada sesuatu bagi dua orang
atau lebih”
4. Menurut Imam Taqiyuddin Abi Bakr Ibn
Muhammad al-Husaini,yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوْتِ الْحَقِّ فِى
الشَّيْىءِ الْوَاحِدِ لشَخْصَيْنِ فَصَاعِدًا عَلَى جِهَةِ الشُيُوْعِ
"Ibarat penetapan suatu hak pada sesuatu
yang satu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang telah dikatehui
5. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa yang dimaksud dengan syirkah
ialah:
عَفْدٌ بَيْنَ شَخْصَيْنَ فَأَكْثَرَ عَلَى التَّعَاوُنِ فِى عَمَلٍ
اِكْتِسَابِىٍّ وَاقْتِسَامِ اَرْبَاحِهِ
"Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk ta’awun dalam bekerja
dalam suatu usaha dan membagi keuntungannya.”
6. Idris Ahmad menyebutkan syirkah sama
dengan syarikat dagang yakni dua orang atau lebih sama-sama berjanji akan
bekerja sama dalam dagang,dengan menyerahkan modal masing-masing,dimana
keuntungan dan kerugiannya diperhitungkan menurut besar kecilnya modal
masing-masing.
Setelah diketahui definisi-definisi syirkah menurut para ulama,
kiranya dapat Dipahami bahwa yang dimaksud dengan syirkah adalah kerja
sama antara antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yang keuntungan dan
kerugiannya ditangung bersama.
1.2.Rumusan Masalah
Didalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan tentang masalah
Syirkah
dengan rincian pembahasan sebagai berikut :
1.apa yang dimaksud dengan syirkah
dalam bahasa dan dalam istilah?
2.apa jakah rukun dan syarat
syirkah?
3.sebutkan macam-macam syirkah?
3.dan bagai mana kita membagi
keuntungan dan kerugian?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian
Syirkah menurut
bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur atau percampuran.demikian
dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini ialah seseorang
mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehinga tidak mungkin untuk
dibedakan
Menurut istilah
yang dimasud dengan syirkah,para fuqaha berbedaa pendapat sebagai berikut.
7.
Menurut
Sayyid Sabiq yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَقْدٌ بَيْنَ الْمُتَشَارِ كَيْنِ فِى رَأْسِ
الْمَالِ وَالرَّبْحِ
8. Menurut Muhammad al-Syarbini al-Khatib, yang dimaksud dengan syirkah
ialah:
تُبُوْتُ الْحَقِّ لاِثْنَيْنِ
فَأَكْثَرَ عَلَى جِهَةِ الشُّيُوْعِ
”Ketetapan hak pada sesuatu untuk dua orang atau lebih
dengan cara yang mashur (diketahui )."[2]
9. Menurut Syihab al-Din al-Qalyubi Wa Umaira yang
dimaksud dengan syirkah ialah
ثُبُوْتُ الْحَقِّ لِاثْنَيْنِ فَأَ كْثَرَ
10. Menurut Imam Taqiyuddin Abi Bakr Ibn
Muhammad al-Husaini,yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوْتِ الْحَقِّ
فِى الشَّيْىءِ الْوَاحِدِ لشَخْصَيْنِ فَصَاعِدًا عَلَى جِهَةِ الشُيُوْعِ
"Ibarat penetapan suatu hak pada sesuatu
yang satu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang telah dikatehui."[4]
11. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa yang dimaksud dengan syirkah
ialah:
عَفْدٌ بَيْنَ شَخْصَيْنَ فَأَكْثَرَ عَلَى التَّعَاوُنِ فِى عَمَلٍ اِكْتِسَابِىٍّ
وَاقْتِسَامِ اَرْبَاحِهِ
"Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk ta’awun dalam bekerja
dalam suatu usaha dan membagi keuntungannya."[5]
12. Idris Ahmad menyebutkan syirkah sama
dengan syarikat dagang yakni dua orang atau lebih sama-sama berjanji akan
bekerja sama dalam dagang,dengan menyerahkan modal masing-masing,dimana
keuntungan dan kerugiannya diperhitungkan menurut besar kecilnya modal
masing-masing.[6]
Setelah diketahui definisi-definisi syirkah menurut para ulama, kiranya
dapat Dipahami bahwa yang dimaksud dengan syirkah adalah kerja sama
antara antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yang keuntungan dan
kerugiannya ditangung bersama.
Adapun
yang dijadikan dasar hukum Syirkah oleh para ulama adalah sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah dari nabi Muhammad SAW bersabda
:
أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَالَمْ يَخُنْ
اَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خُانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا
"Aku jadi yang ketiga antara dua orang yang
berserikat selama yang satu tidak khianat kepada yang lainnya,apabila yang satu
khianat kepada pihak yang lain,maka keluarlah aku darinya.”
2.2.Rukun Dan syarat Syirkah
Rukun
syirkah diperselisihkan oleh para ulama,menurut ulama Hanafiyah bahwa
rukun syirkah ada dua,yaitu ijab dan kabul sebab ijab kabul (akad) yang
menentukan adanya syirkah.adapun yang lain seperti dua orang atau pihak
yang berakad dan harta berada diluar pembahasan akad seperti dahulu dalam akad
jual beli.[7]
Syarat-syarat yang berhubungan dengan
syirkah menurut Hanafiyah dibagi menjadi empat bagian berikut ini.
1. Sesuatu yang bertalian dengan semua bentuk
syirkah baik dengan harta maupun dengan yang lainnya.dalam hal ini terdapat dua
syarat,yaitu:
a) Yang berkenaan dengan benda yang diakadkan
adalah harus dapat diterima sebagai perwakilan,
b) Yang berkenaan dengan keuntungan,yaitu
pembagian keuntungan harus jelas dan dapat diketahui dua pihak,misalnya
setengah,sepertiga,dan yang lainnya.
2. Sesuatu yang bertalian dengan syirkah
mal (harta),dalam hal ini terdapat dua perkara yang harus dipenuhi,yaitu:
a) Bahwa modal yang dijadikan objek akad
syirkah adalah dari alat pembayaran (nuqud) seperti
junaih,riyal,rupiah.
b) Yang dijadikan modal (harta pokok) ada
ketika akad syirkah dilakukan,baik jumlahnya sama maupun berbeda.
3. Sesuatu yang bertalian dengan syarikat
mufawadhah, bahwa dalam mufawadhah disyaratkan
a) Modal (pokok harta) dalam syirka
mufawadhah harus sama.
b) Bagi yang bersyirkah ahli untuk kafalah.
c) Bagi yang dijadikan objek akad disyaratkan syirkah
umum, yakni pada semua macam ual beli atau perdagangan.[8]
4. Adapun syarat yang bertalian dengan syirkah
inan sama dengan syarat-syarat syirkah mufawadhah.
Menurut malikiyah syarat-syarat yang bertalian dengan
orang yang melakukan akad ialah merdeka, baligh, dan pintar.
Syafi’iyah berpendapat bahwa syirkah yang
sah hukumnya hanyalah syirkah ’inan, sedangkan syirkah yang lainnya
batal.[9]
Dijelaskan pula oleh Abd al-Rahman al-Jaziri
bahwa rukun syirkah adalah dua orang (pihak) yang berserikat, syighat, dan
objek akad syirkah baik harta maupun kerja. Syarat-syarat syirkah, dijelaskan
oleh Idris Ahmad berikut ini :
1. Mengeluarkan kata-kata yang menunjukan izin
masing-masing anggota serikat kepada pihak yang akan mengendalikan harta itu.
2. Anggota serikat itu saling mempunyai, sebab
masing-masing mereka adalah wakil yang lainnya.
3. Mencampurkan harta sehingga tidak dapat di
bedakan hak masing-masing, baik berupa mata uang maupun bentuk yang lainnya.
2.3.MACAM-MACAM SYIRKAH
Menurut Hanafiyah, secara garis besar syirkah
di bagi dua bagian, yaitu syirkah milk dan syirkah ‘uqud. Syirkah
milk juga dibagi dua macam : syirkah milk jabr dan syirkah milk
ikhtiar. Syirkah ‘uqud di bagi menjadi tiga macam, yaitu syirkah
‘uqud al-Mal, dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan, dan syirkah ‘uqud bi
al-Wujuh. Syirkah ‘uqud bi al-Mal dibagi dua : syirkah-syirkah
‘uqud bi al-Mal mufawadha dan syirkah ‘uqud bi
al-Mal‘inan. Syirkah ‘uqut bi al-Abdan dibagi dua : syirkah ‘uqud
bi al-Abdan mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan ‘inan. Syirkah
‘uqud bi al-Wujuh dibagi menjadi dua bagian: syirkah ‘uqud bi al-Wujuh
mufawadhah dan syirkah ‘uqud bi
al-wujuh ‘inan.
Pengertian syirkah milk ialah
عِبَارَةٌ عَنْ أَنْ يَّتَمَلَّكَ شَخْصَانِ فَأَكْثَرَمِنْ غَيْرِعَقْدِالشَّرْكَةِ
“Ibarat dua orang atau
lebih memilikkan suatu benda kepada yang lain tanpa aa akad syirkah”.
Maksud Syirkah al- ‘uqud ialah:
عِبَارَةٌ عَنِ الْعَقْدِالْوَاقِعِ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَكْثَرَلِلْاِ
شْتِرَاكِ فِى مَالٍ وَرِبْحِهِ
“Ibarat akad yang
terjadi antara dua orang atau lebih untuk berserikat dalam harta dan keuntungan.”
Maksud syirkah al- jabr ialah:
أَنْ يَجْتَمِعَا شَخْصَانَ فِى مِلْكِ عَيْنٍ قَهْرًا
“Berkumpulnya dua orang
atau lebih dalam pemilikan suatu benda secara paksa”.
Maksud syirkah al-ikhtiyar ialah:
أَنْ يَجْتَمِعَ فِى مِلْكِ عَيْنٍ بِاخْتِيَارِهِمَا
“Berkumpulnya dua
orang atau lebih dalam pemilikan benda dengan ikhtiyar keduanya”.
Al-Syirkah bi al-mal ialah:
عَبَارَةٌ عَنْ أَنْ يَّتَّفِقَ اثْنَانِ فَأَكْثَرَ عَلَى اَنْ يَدْ فَعَ
كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَبْلَعًا مِنَ الْمَالِ لاِ سْتِثْمَا رِهِ بِالْعَمَلِ
فِيْهِ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنَ الشُّرَكَاءِ جُزْءٌ مُعَيَّنٌ مِنَ الرِّبْحِ
“Ibarat
kesepakatan dua orang atau lebih untuk menyerahkan harta mereka masing-masing
supaya memperoleh hasil dengan cara mengelola harta itu, bagi setiap orang yang
berserikat memperoleh bagian yang ditentukan dari keuntungan.”
Syirkah al-wujuh ialah:
اَنْ يَشْتَرِكَ اِثْنَانِ لَيْسَ لَهُمَا مَالٌ وَلَكِنْ لَهُمَاوِجَاهَةٌ
“Dua orang berserikat
atau pihak yang tidak ada harta di dalamnya tetapi keduanya sama-sama
berusaha.”
Syirkah al-wujuh mufawadhah ialah:
اَنْ يَكُوْنَا مِنْ اَهْلِ الْكَفَالَةِ وَاَنْ يَكُوْنَ الَمُشْتَرِى بَيْنَهُمَا
نَصْفَيْنِ
“Keduanya termasuk
ahli kafalah dan dalam pembelian masing-masing setengah.”
Syirkah al-wujuh ‘ian ialah:
أَنْ يَفُوْتَ شَيْىءٌ مِنْ هَذِهِ الْقُيُوْدِ كَاَنْ لَايَكُوْنَا مِنْ أَهْلِ
الْكَفَالَةِ اَوْيَتَفَا ضَلَا فِيْمَالِمُشْتَرِبَيْهِ
“Sesuatu dari
ikatan-ikatan yang berkeseimbangan seolah-olah bukan ahli kafalah atau seperti
tak ada kelebihan bagi penual dan pembeli.”
Menurut Malikiyah, syirkah dibagi
beberapa bagian, yaitu syirkah al-irts, syirkah al-ghaminah, dan
syirkah al-mutaba’ain syai’a bainahuma.
Syirkah al-irth ialah:
اِجْتِمَاعُ الْوَرَثَةِ فِى مِلْكِ عَيْنٍ بِطَرِيْقِ الْمِيْرَاثِ
“Berkumpulnya para
pewaris dalam memiliki benda dengan cara pewarisan.”
Syirkah al-ghanimah ialah:
اِجْتِمَاعُ الْجَيْشِ فِى مِلْكِ الْغَنِيْمَةِ
“Berkumpulnya para
tentara dalam pemilikan ghanimah.”
Syirkah al-mutaba’ain syai’a bainahuma ialah:
اَنْ يَّجْتَمِعَ اثْنَانِ فَاَكْثَرَفِى شِرَاءِ دَارٍوَنَحُوِهِ
“Dua orang atau lebih berkumpul dalam
pembelian rumah dan yang lainnya.”
Menurut Hanabiah, syirkah dibagi
menjadi dua macam, yaitu syirkah fi al-mal dan syirkah fi al-‘uqud.
Menurut mazhab ini, syirkah al-mal ialah:
اِجْتِمَاعُ اِثْنَيْنِ فَاَكْثَرَفِى اسْتِحْقَافِ عَيْنٍ بِاِرْثٍ اَوْشِرَاءٍ
اَوْهِبَةٍ اَوْنَحْوِدَلِكَ
“Berkumpulnya dua
orang atau lebih dalam pemilikan barang dengan waris, pembelian, pemberian,
atau yang lainnya”.
Syirkah ‘uqud dibagi menjadi lima macam, yaitu syirkah
al-inan, syirkah al-wujuh, syirkah al-abdan, syirkah al-muwafadhah, dan syirkah
al-mudharabah.[10]
2.4.Cara Membagi Keuntungan Dan Kerugian
Dari macam-macam serikat tersebut,
sebetulnya masih diperselisihkan oleh para ulama. Seperti ulama Syafi’iyah
berpendapat bahwa yang sah dilakukan hanyalah syirkah al-Inan, sementara
syirkah selain itu batal untuk dipalukan.
Cara membagi keuntungan atau kerugian
tergantung besar dan kecilnya modal yang mereka tanamkan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada contoh praktik berserikat pada tabel berikut ini.
2.5.Mengakhiri Syirkah
Syirkah akan berakhir apabila terjadi hal-hal berikut.
1. Salah satu pihak membatalkannya meskipun
tanpa persetujuan pihak lainnya sebab syirkah adalah akad yang terjadi
atas dasar rela sama rela dari kedua belah pihak yang idak ada kepastian untuk
dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. Hal ini
menunjukan pencabutan kerelaan syirkah oleh salah satu pihak.
2. Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk
bertasharruf (keahlian mengelola harta), baik karena gila maupun karena alasan
lainnya.
3. Salah satu pihak meninggal dunia, tetapi
apabila anggota syirkah lebih dari dua orang, yang batal hanyalah yang
meninggal saja. Syirkah berjalan terus pada anggota-anggota yang masih
hidup. Apabila ahli waris anggota yang meninggal menghendaki turut serta dalam syirkah
tersebut, maka dilakukan perjanjian baru bagi ahli waris yang bersangkutan.
4. Salah satu pihak ditaruh dibawah
pengampuan, baik karena boros yang terjadi pada waktu perjanjian syirkah
tengah berjalan maupun sebab yang lainnya.
5. Salah satu pihak yang jatuh bangkrut yang
berakibat tidak berkuasa lagi atas harta yang menjadi saham syirkah.
Pendapat ini dikemukakanoleh mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hanafi
berpendapat bahwa keadaan bangkrut itu tidak membatalkan perjanjian yang
dilakukan oleh yang bersangkutan.
6. Modal para anggota syirkah lenyap sebelum
dibelanjakan atas nama syirkah. Bila modal tersebut lenyap sebelum
terjadi percampuran harta hingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi, yang
menanggung risiko adalah para pemiliknya sendiri. Apabila harta lenyap setelah
terjadi percampuran yang tidak bisa dipisah-pisahkan lagi menjadi risiko
bersama. Kerusakan yang terjadi setelah dibelanjakan, menjadi risiko bersama.
Apabila masih ada sisa harta, syirkah masih dapat berlangsung dengan
kekayaan yang masih ada.[11]
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Syirkah menurut bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur
atau percampuran.demikian dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini
ialah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga tidak
mungkin untuk dibedakan.
Rukun syirkah diperselisihkan oleh
para ulama,menurut ulama Hanafiyah bahwa rukun syirkah ada dua,yaitu
ijab dan kabul sebab ijab kabul (akad) yang menentukan adanya syirkah.adapun
yang lain seperti dua orang atau pihak yang berakad dan harta berada diluar
pembahasan akad seperti dahulu dalam akad jual beli.
Menurut Hanafiyah, secara garis besar syirkah
di bagi dua bagian, yaitu syirkah milk dan syirkah ‘uqud. Syirkah
milk juga dibagi dua macam : syirkah milk jabr dan syirkah milk
ikhtiar. Syirkah ‘uqud di bagi menjadi tiga macam, yaitu syirkah
‘uqud al-Mal, dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan, dan syirkah ‘uqud bi
al-Wujuh. Syirkah ‘uqud bi al-Mal dibagi dua : syirkah-syirkah
‘uqud bi al-Mal mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Mal‘inan.
Syirkah ‘uqut bi al-Abdan dibagi dua : syirkah ‘uqud bi al-Abdan
mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan ‘inan. Syirkah ‘uqud bi
al-Wujuh dibagi menjadi dua bagian: syirkah ‘uqud bi al-Wujuh mufawadhah
dan syirkah ‘uqud bi al-wujuh
‘inan.
3.2.Saran
Demikianlah makalah ini kami buat dengan
sebaik-baiknya. Saya akui makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk itu
kami mohon kritik dan sarannya bagi para pembaca makalah ini. Atas kritik dan
sarannya kami ucapkan terima kasih. Saya akhiri Wabillahitaufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr Wb
DAFTAR PUSTAKA
Lihat
Fiqih al-Sunnah, hlm. 294.
Lihat al-Iqna, hal. 41.
Lihat
Qalyubi wa Umaira, hlm. 332
Lihat Kifayat al-Akhyar, hlm. 280.
Lihat Pengantar Fiqh Islam, hlm. 89
Lihat Fiqh al-Syafi’iyah, hlm. 106
Lihat al-Jaziri, dalam Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, hlm.
76-77
Al-Jaziri,
ibid. Hlm. 78-80
Pengertian-pengertian
dari kelima istilah diatas dapat dilihat dalam Fiqh ‘Ala al-Madzahib
al-Arba’ah, jilid III hlm. 75-76
Lihat Ahmad Azhar Basyir. Riba Utang-piutang dan Gadai, hlm.65-66
[1] Lihat Fiqih al-Sunnah, hlm.
294.
[2] Lihat al-Iqna,
hal. 41.
[3] Lihat Qalyubi wa Umaira, hlm.
332
[4] Lihat Kifayat
al-Akhyar, hlm. 280.
[5] Lihat Pengantar
Fiqh Islam, hlm. 89
[6] Lihat Fiqh
al-Syafi’iyah, hlm. 106
[7] Lihat
al-Jaziri, dalam Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, hlm. 76-77
[8] Al-Jaziri, ibid. Hlm.
78-80
[10] Pengertian-pengertian dari kelima
istilah diatas dapat dilihat dalam Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, jilid
III hlm. 75-76
[11] Lihat Ahmad
Azhar Basyir. Riba Utang-piutang dan Gadai, hlm.65-66
Tidak ada komentar:
Posting Komentar