Jumat, 12 Juni 2015

fiq muamalah

DAFTAR ISI
Kata Pengantar...........................................................................................................
Daftar Isi....................................................................................................................
BAB I  PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang Masalah................................................................................. 1
b.      Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
a.       Pengertian syirkah.......................................................................................... 3
b.      Rukun dan syarat syirkah............................................................................... 4
c.       Macam-macam syirkah................................................................................... 6
d.      Cara membagi keuntungan dan kerugian....................................................... 8
e.       Mengakhiri syirkah......................................................................................... 8
BAB III PENUTUP
a.      Kesimpulan.................................................................................................... 11
b.      Saran.............................................................................................................. 11
Daftar Pustaka





KATA PENGANTAR

              Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengertian syirkah”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah fiqh Muamalah. Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
              Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
                                                                               Bandarlampung, 09 April 2014

                                                         
                                                                                                    Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Syirkah menurut bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur atau percampuran.demikian dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini ialah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehinga tidak mungkin untuk dibedakan
            Menurut istilah yang dimasud dengan syirkah,para fuqaha berbedaa pendapat sebagai berikut.
1.      Menurut Sayyid Sabiq yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَقْدٌ بَيْنَ الْمُتَشَارِ كَيْنِ فِى رَأْسِ الْمَالِ وَالرَّبْحِ
"Akad antara dua orang berserikat pada pokok harta (modal ) dan keuntungan".
2.      Menurut Muhammad al-Syarbini al-Khatib, yang dimaksud dengan syirkah ialah:
 تُبُوْتُ الْحَقِّ لاِثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ عَلَى جِهَةِ الشُّيُوْعِ
Ketetapan hak pada sesuatu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang mashur (diketahui )."
3.      Menurut Syihab al-Din al-Qalyubi Wa Umaira yang dimaksud dengan syirkah ialah
ثُبُوْتُ الْحَقِّ لِاثْنَيْنِ فَأَ كْثَرَ
"Penetapan hak pada sesuatu bagi dua orang atau lebih”

4.      Menurut Imam Taqiyuddin Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini,yang dimaksud dengan syirkah ialah:
 عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوْتِ الْحَقِّ فِى الشَّيْىءِ الْوَاحِدِ لشَخْصَيْنِ فَصَاعِدًا عَلَى جِهَةِ الشُيُوْعِ
"Ibarat penetapan suatu hak pada sesuatu yang satu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang telah dikatehui
5.      Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَفْدٌ بَيْنَ شَخْصَيْنَ فَأَكْثَرَ عَلَى التَّعَاوُنِ فِى عَمَلٍ اِكْتِسَابِىٍّ وَاقْتِسَامِ اَرْبَاحِهِ
"Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk ta’awun dalam bekerja dalam suatu usaha dan membagi keuntungannya.”
6.      Idris Ahmad menyebutkan syirkah sama dengan syarikat dagang yakni dua orang atau lebih sama-sama berjanji akan bekerja sama dalam dagang,dengan menyerahkan modal masing-masing,dimana keuntungan dan kerugiannya diperhitungkan menurut besar kecilnya modal masing-masing.
Setelah diketahui definisi-definisi syirkah menurut para ulama, kiranya dapat Dipahami bahwa yang dimaksud dengan syirkah adalah kerja sama antara antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yang keuntungan dan kerugiannya ditangung bersama.
1.2.Rumusan Masalah
Didalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan tentang masalah
Syirkah dengan rincian pembahasan sebagai berikut :
            1.apa yang dimaksud dengan syirkah dalam bahasa dan dalam istilah?
            2.apa jakah rukun dan syarat syirkah?
            3.sebutkan macam-macam syirkah?
            3.dan bagai mana kita membagi keuntungan dan kerugian?






BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian
            Syirkah menurut bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur atau percampuran.demikian dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini ialah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehinga tidak mungkin untuk dibedakan
            Menurut istilah yang dimasud dengan syirkah,para fuqaha berbedaa pendapat sebagai berikut.
7.      Menurut Sayyid Sabiq yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَقْدٌ بَيْنَ الْمُتَشَارِ كَيْنِ فِى رَأْسِ الْمَالِ وَالرَّبْحِ
"Akad antara dua orang berserikat pada pokok harta (modal ) dan keuntungan".[1]
8.      Menurut Muhammad al-Syarbini al-Khatib, yang dimaksud dengan syirkah ialah:
 تُبُوْتُ الْحَقِّ لاِثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ عَلَى جِهَةِ الشُّيُوْعِ
Ketetapan hak pada sesuatu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang mashur (diketahui )."[2]
9.      Menurut Syihab al-Din al-Qalyubi Wa Umaira yang dimaksud dengan syirkah ialah
ثُبُوْتُ الْحَقِّ لِاثْنَيْنِ فَأَ كْثَرَ
"Penetapan hak pada sesuatu bagi dua orang atau lebih"[3]

10.  Menurut Imam Taqiyuddin Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini,yang dimaksud dengan syirkah ialah:
 عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوْتِ الْحَقِّ فِى الشَّيْىءِ الْوَاحِدِ لشَخْصَيْنِ فَصَاعِدًا عَلَى جِهَةِ الشُيُوْعِ
"Ibarat penetapan suatu hak pada sesuatu yang satu untuk dua orang atau lebih dengan cara yang telah dikatehui."[4]
11.  Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa yang dimaksud dengan syirkah ialah:
عَفْدٌ بَيْنَ شَخْصَيْنَ فَأَكْثَرَ عَلَى التَّعَاوُنِ فِى عَمَلٍ اِكْتِسَابِىٍّ وَاقْتِسَامِ اَرْبَاحِهِ
"Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk ta’awun dalam bekerja dalam suatu usaha dan membagi keuntungannya."[5]
12.  Idris Ahmad menyebutkan syirkah sama dengan syarikat dagang yakni dua orang atau lebih sama-sama berjanji akan bekerja sama dalam dagang,dengan menyerahkan modal masing-masing,dimana keuntungan dan kerugiannya diperhitungkan menurut besar kecilnya modal masing-masing.[6]
Setelah diketahui definisi-definisi syirkah menurut para ulama, kiranya dapat Dipahami bahwa yang dimaksud dengan syirkah adalah kerja sama antara antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yang keuntungan dan kerugiannya ditangung bersama.
            Adapun yang dijadikan dasar hukum Syirkah oleh para ulama adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah dari nabi Muhammad SAW bersabda :
أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَالَمْ يَخُنْ اَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خُانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا
"Aku jadi yang ketiga antara dua orang yang berserikat selama yang satu tidak khianat kepada yang lainnya,apabila yang satu khianat kepada pihak yang lain,maka keluarlah aku darinya.”
2.2.Rukun Dan syarat Syirkah
            Rukun syirkah diperselisihkan oleh para ulama,menurut ulama Hanafiyah bahwa rukun syirkah ada dua,yaitu ijab dan kabul sebab ijab kabul (akad) yang menentukan adanya syirkah.adapun yang lain seperti dua orang atau pihak yang berakad dan harta berada diluar pembahasan akad seperti dahulu dalam akad jual beli.[7]
Syarat-syarat yang berhubungan dengan syirkah menurut Hanafiyah dibagi menjadi empat bagian berikut ini.
1.      Sesuatu yang bertalian dengan semua bentuk syirkah baik dengan harta maupun dengan yang lainnya.dalam hal ini terdapat dua syarat,yaitu:
a)      Yang berkenaan dengan benda yang diakadkan adalah harus dapat diterima sebagai perwakilan,
b)      Yang berkenaan dengan keuntungan,yaitu pembagian keuntungan harus jelas dan dapat diketahui dua pihak,misalnya setengah,sepertiga,dan yang lainnya.
2.      Sesuatu yang bertalian dengan syirkah mal (harta),dalam hal ini terdapat dua perkara yang harus dipenuhi,yaitu:
a)      Bahwa modal yang dijadikan objek akad syirkah adalah dari alat pembayaran (nuqud) seperti junaih,riyal,rupiah.
b)      Yang dijadikan modal (harta pokok) ada ketika akad syirkah dilakukan,baik jumlahnya sama maupun berbeda.
3.      Sesuatu yang bertalian dengan syarikat mufawadhah, bahwa dalam mufawadhah disyaratkan
a)      Modal (pokok harta) dalam syirka mufawadhah harus sama.
b)      Bagi yang bersyirkah ahli untuk kafalah.
c)      Bagi yang dijadikan objek akad disyaratkan syirkah umum, yakni pada semua macam ual beli atau perdagangan.[8]
4.      Adapun syarat yang bertalian dengan syirkah inan sama dengan syarat-syarat syirkah mufawadhah.
Menurut malikiyah syarat-syarat yang bertalian dengan orang yang melakukan akad ialah merdeka, baligh, dan pintar.
Syafi’iyah berpendapat bahwa syirkah yang sah hukumnya hanyalah syirkah ’inan, sedangkan syirkah yang lainnya batal.[9]
Dijelaskan pula oleh Abd al-Rahman al-Jaziri bahwa rukun syirkah adalah dua orang (pihak) yang berserikat, syighat, dan objek akad syirkah baik harta maupun kerja. Syarat-syarat syirkah, dijelaskan oleh Idris Ahmad berikut ini :
1.      Mengeluarkan kata-kata yang menunjukan izin masing-masing anggota serikat kepada pihak yang akan mengendalikan harta itu.
2.      Anggota serikat itu saling mempunyai, sebab masing-masing mereka adalah wakil yang lainnya.
3.      Mencampurkan harta sehingga tidak dapat di bedakan hak masing-masing, baik berupa mata uang maupun bentuk yang lainnya.

2.3.MACAM-MACAM SYIRKAH
Menurut Hanafiyah, secara garis besar syirkah di bagi dua bagian, yaitu syirkah milk dan syirkah ‘uqud. Syirkah milk juga dibagi dua macam : syirkah milk jabr dan syirkah milk ikhtiar. Syirkah ‘uqud di bagi menjadi tiga macam, yaitu syirkah ‘uqud al-Mal, dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan, dan syirkah ‘uqud bi al-Wujuh. Syirkah ‘uqud bi al-Mal dibagi dua : syirkah-syirkah ‘uqud bi al-Mal mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Mal‘inan. Syirkah ‘uqut bi al-Abdan dibagi dua : syirkah ‘uqud bi al-Abdan mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan ‘inan. Syirkah ‘uqud bi al-Wujuh dibagi menjadi dua bagian: syirkah ‘uqud bi al-Wujuh mufawadhah dan  syirkah ‘uqud bi al-wujuh ‘inan.
Pengertian syirkah milk  ialah
عِبَارَةٌ عَنْ أَنْ يَّتَمَلَّكَ شَخْصَانِ فَأَكْثَرَمِنْ غَيْرِعَقْدِالشَّرْكَةِ
Ibarat dua orang atau lebih memilikkan suatu benda kepada yang lain tanpa aa akad syirkah”.
Maksud Syirkah al- ‘uqud ialah:

عِبَارَةٌ عَنِ الْعَقْدِالْوَاقِعِ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَكْثَرَلِلْاِ شْتِرَاكِ فِى مَالٍ وَرِبْحِهِ
Ibarat akad yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk berserikat dalam harta dan keuntungan.”
Maksud syirkah al- jabr ialah:
أَنْ يَجْتَمِعَا شَخْصَانَ فِى مِلْكِ عَيْنٍ قَهْرًا
Berkumpulnya dua orang atau lebih dalam pemilikan suatu benda secara paksa”.
Maksud syirkah al-ikhtiyar ialah:
أَنْ يَجْتَمِعَ فِى مِلْكِ عَيْنٍ بِاخْتِيَارِهِمَا
Berkumpulnya dua orang atau lebih dalam pemilikan benda dengan ikhtiyar keduanya”.
Al-Syirkah bi al-mal ialah:
عَبَارَةٌ عَنْ أَنْ يَّتَّفِقَ اثْنَانِ فَأَكْثَرَ عَلَى اَنْ يَدْ فَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَبْلَعًا مِنَ الْمَالِ لاِ سْتِثْمَا رِهِ بِالْعَمَلِ فِيْهِ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنَ الشُّرَكَاءِ جُزْءٌ مُعَيَّنٌ مِنَ الرِّبْحِ
“Ibarat kesepakatan dua orang atau lebih untuk menyerahkan harta mereka masing-masing supaya memperoleh hasil dengan cara mengelola harta itu, bagi setiap orang yang berserikat memperoleh bagian yang ditentukan dari keuntungan.”
Syirkah al-wujuh ialah:
اَنْ يَشْتَرِكَ اِثْنَانِ لَيْسَ لَهُمَا مَالٌ وَلَكِنْ لَهُمَاوِجَاهَةٌ
Dua orang berserikat atau pihak yang tidak ada harta di dalamnya tetapi keduanya sama-sama berusaha.”
Syirkah al-wujuh mufawadhah ialah:
اَنْ يَكُوْنَا مِنْ اَهْلِ الْكَفَالَةِ وَاَنْ يَكُوْنَ الَمُشْتَرِى بَيْنَهُمَا نَصْفَيْنِ
Keduanya termasuk ahli kafalah dan dalam pembelian masing-masing setengah.”
Syirkah al-wujuh ‘ian ialah:
أَنْ يَفُوْتَ شَيْىءٌ مِنْ هَذِهِ الْقُيُوْدِ كَاَنْ لَايَكُوْنَا مِنْ أَهْلِ الْكَفَالَةِ اَوْيَتَفَا ضَلَا فِيْمَالِمُشْتَرِبَيْهِ
Sesuatu dari ikatan-ikatan yang berkeseimbangan seolah-olah bukan ahli kafalah atau seperti tak ada kelebihan bagi penual dan pembeli.”
Menurut Malikiyah, syirkah dibagi beberapa bagian, yaitu syirkah al-irts, syirkah al-ghaminah, dan syirkah al-mutaba’ain syai’a bainahuma.
Syirkah al-irth ialah:
اِجْتِمَاعُ الْوَرَثَةِ فِى مِلْكِ عَيْنٍ بِطَرِيْقِ الْمِيْرَاثِ
Berkumpulnya para pewaris dalam memiliki benda dengan cara pewarisan.”
Syirkah al-ghanimah ialah:
اِجْتِمَاعُ الْجَيْشِ فِى مِلْكِ الْغَنِيْمَةِ
Berkumpulnya para tentara dalam pemilikan ghanimah.”
Syirkah al-mutaba’ain syai’a bainahuma ialah:
اَنْ يَّجْتَمِعَ اثْنَانِ فَاَكْثَرَفِى شِرَاءِ دَارٍوَنَحُوِهِ
Dua orang atau lebih berkumpul dalam pembelian rumah dan yang lainnya.”
Menurut Hanabiah, syirkah dibagi menjadi dua macam, yaitu syirkah fi al-mal dan syirkah fi al-‘uqud.
Menurut mazhab ini, syirkah al-mal ialah:
اِجْتِمَاعُ اِثْنَيْنِ فَاَكْثَرَفِى اسْتِحْقَافِ عَيْنٍ بِاِرْثٍ اَوْشِرَاءٍ اَوْهِبَةٍ اَوْنَحْوِدَلِكَ
Berkumpulnya dua orang atau lebih dalam pemilikan barang dengan waris, pembelian, pemberian, atau yang lainnya”.
Syirkah ‘uqud dibagi menjadi lima macam, yaitu syirkah al-inan, syirkah al-wujuh, syirkah al-abdan, syirkah al-muwafadhah, dan syirkah al-mudharabah.[10]

2.4.Cara Membagi Keuntungan Dan Kerugian
Dari macam-macam serikat tersebut, sebetulnya masih diperselisihkan oleh para ulama. Seperti ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa yang sah dilakukan hanyalah syirkah al-Inan, sementara syirkah selain itu batal untuk dipalukan.
Cara membagi keuntungan atau kerugian tergantung besar dan kecilnya modal yang mereka tanamkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh praktik berserikat pada tabel berikut ini.

2.5.Mengakhiri Syirkah
Syirkah akan berakhir apabila terjadi hal-hal berikut.
1.      Salah satu pihak membatalkannya meskipun tanpa persetujuan pihak lainnya sebab syirkah adalah akad yang terjadi atas dasar rela sama rela dari kedua belah pihak yang idak ada kepastian untuk dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. Hal ini menunjukan pencabutan kerelaan syirkah oleh salah satu pihak.
2.      Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasharruf (keahlian mengelola harta), baik karena gila maupun karena alasan lainnya.
3.      Salah satu pihak meninggal dunia, tetapi apabila anggota syirkah lebih dari dua orang, yang batal hanyalah yang meninggal saja. Syirkah berjalan terus pada anggota-anggota yang masih hidup. Apabila ahli waris anggota yang meninggal menghendaki turut serta dalam syirkah tersebut, maka dilakukan perjanjian baru bagi ahli waris yang bersangkutan.
4.      Salah satu pihak ditaruh dibawah pengampuan, baik karena boros yang terjadi pada waktu perjanjian syirkah tengah berjalan maupun sebab yang lainnya.
5.      Salah satu pihak yang jatuh bangkrut yang berakibat tidak berkuasa lagi atas harta yang menjadi saham syirkah. Pendapat ini dikemukakanoleh mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hanafi berpendapat bahwa keadaan bangkrut itu tidak membatalkan perjanjian yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
6.      Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah. Bila modal tersebut lenyap sebelum terjadi percampuran harta hingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi, yang menanggung risiko adalah para pemiliknya sendiri. Apabila harta lenyap setelah terjadi percampuran yang tidak bisa dipisah-pisahkan lagi menjadi risiko bersama. Kerusakan yang terjadi setelah dibelanjakan, menjadi risiko bersama. Apabila masih ada sisa harta, syirkah masih dapat berlangsung dengan kekayaan yang masih ada.[11]



BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Syirkah menurut bahasa berarti al-ikhtilath yang berarti campur atau percampuran.demikian dinyatakan oleh Taqiyuddin.maksud percampuran disini ialah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga tidak mungkin untuk dibedakan.
Rukun syirkah diperselisihkan oleh para ulama,menurut ulama Hanafiyah bahwa rukun syirkah ada dua,yaitu ijab dan kabul sebab ijab kabul (akad) yang menentukan adanya syirkah.adapun yang lain seperti dua orang atau pihak yang berakad dan harta berada diluar pembahasan akad seperti dahulu dalam akad jual beli.
Menurut Hanafiyah, secara garis besar syirkah di bagi dua bagian, yaitu syirkah milk dan syirkah ‘uqud. Syirkah milk juga dibagi dua macam : syirkah milk jabr dan syirkah milk ikhtiar. Syirkah ‘uqud di bagi menjadi tiga macam, yaitu syirkah ‘uqud al-Mal, dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan, dan syirkah ‘uqud bi al-Wujuh. Syirkah ‘uqud bi al-Mal dibagi dua : syirkah-syirkah ‘uqud bi al-Mal mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Mal‘inan. Syirkah ‘uqut bi al-Abdan dibagi dua : syirkah ‘uqud bi al-Abdan mufawadha dan syirkah ‘uqud bi al-Abdan ‘inan. Syirkah ‘uqud bi al-Wujuh dibagi menjadi dua bagian: syirkah ‘uqud bi al-Wujuh mufawadhah dan  syirkah ‘uqud bi al-wujuh ‘inan.           
3.2.Saran
Demikianlah makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya. Saya akui makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk itu kami mohon kritik dan sarannya bagi para pembaca makalah ini. Atas kritik dan sarannya kami ucapkan terima kasih. Saya akhiri Wabillahitaufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr Wb

DAFTAR PUSTAKA
Lihat Fiqih al-Sunnah, hlm. 294.
Lihat al-Iqna, hal. 41.
Lihat Qalyubi wa Umaira, hlm. 332
Lihat Kifayat al-Akhyar, hlm. 280.
Lihat Pengantar Fiqh Islam, hlm. 89
Lihat Fiqh al-Syafi’iyah, hlm. 106
Lihat al-Jaziri, dalam Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, hlm. 76-77
Al-Jaziri, ibid. Hlm. 78-80
Pengertian-pengertian dari kelima istilah diatas dapat dilihat dalam Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, jilid III hlm. 75-76
Lihat Ahmad Azhar Basyir. Riba Utang-piutang dan Gadai, hlm.65-66





[1] Lihat Fiqih al-Sunnah, hlm. 294.
[2] Lihat al-Iqna, hal. 41.
[3] Lihat Qalyubi wa Umaira, hlm. 332
[4] Lihat Kifayat al-Akhyar, hlm. 280.
[5] Lihat Pengantar Fiqh Islam, hlm. 89
[6] Lihat Fiqh al-Syafi’iyah, hlm. 106
[7] Lihat al-Jaziri, dalam Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, hlm. 76-77
[8] Al-Jaziri, ibid. Hlm. 78-80
[9] Ibid. hlm. 83.
[10] Pengertian-pengertian dari kelima istilah diatas dapat dilihat dalam Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, jilid III hlm. 75-76
[11] Lihat Ahmad Azhar Basyir. Riba Utang-piutang dan Gadai, hlm.65-66

                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar