Tugas kelompok 6-7
“Motivasi”
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Dalam Mata Kuliah Psikologi Manajemen
Dosen Pengempu :
Disusun Oleh :
Erpan Stiawan 1341030018
Rini Widya Astuti 1341030112
Khoiriyani Istiqomah 1341030108
Safrudin Rais 1341030034
FAKULTAS DA’WAH DAN ILMU KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DA’WAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN AJARAN 2014/2015
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Motivasi”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah “psikologi
manajemen”. Tidak lupa, kami
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Kami
menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan
kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para
pembaca.
Bandarlampung,
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang..................................................................................................... 1
1.2.
Rumusan masalah................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
Motivasi.............................................................................................................. 2
2.2.
Pengertian motif dan motivasi............................................................................ 3
2.3.
Aspek dan pola motivasi..................................................................................... 5
2.4.
Faktor motivasi................................................................................................... 5
2.5.
Tujuan pemberian motivasi ................................................................................ 6
2.6.
Asas-asas motivasi.............................................................................................. 7
2.7.
Alat-alat motivasi................................................................................................ 7
2.8.
Jenis-jenis motivasi.............................................................................................. 8
2.9.
Metode-metode motivasi.................................................................................... 8
2.10. Model-model
motivasi...................................................................................... 9
2.11.
Teori-teori motivasi........................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan.......................................................................................................... 11
3.2.Saran.................................................................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................. 12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang.
Dalam pengertian umum, Motivasi
dikatakan sebagai kebutuhan yang mendorong perbuatan kearah suatu tujuan
tertentu.
Setiap manusia pada hakikatnya
mempunyai sejumlah kebutuhan yang pada saat-saat tertentu menuntut pemuasan,
dimana hal-hal yang dapat memberikan pemuasan pada suatu kebutuhan adalah
menjadi tujuan dari kebutuhan tersebut. Prinsip yang umum berlaku bagi
kebutuhan manusia , setelah kebutuhan itu terpuaskan, maka setelah beberapa
waktu kemudian, muncul kembali dan menuntut pemuasan lgi.
Sedangkan pengertian mengenai
motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif. Atau dapat pula diartikan hal
atau keadaan menjadi motif.
Jadi
motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja.
Oleh sebab itu, motivasi kera dalam psikologi karya biasa disebut pendorong
semangat kerja. Kuat dan lemahnya motivasi kerja seseorang tenaga kerja ikut
menentukan besar kecilnya prestasi.[1]
1.2.
Rumusan Masalah.
1. Apa
pengertian dari motivasi....?
2. Bagaimanakah
seorang manajer memotivasi bawahannya agar giat bekerja..?
3. Bagaimanakah
sikaf seorang manajer dalam menyikapi bawahannya agar giat bekerja....?
4. Apakah
yang dimaksud dengan motivasi positif dapat bertahan lama....? dan
5. Apakah
yang dimaksud motivasi negatif hanya pada waktu jaka pendek...?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Motivasi.
Motivasi berasal dari bahasa Latin,
Mavere yang berarti dorongan atau daya penggerak. Motivasi ini hanya diberikan
kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Motivasi mempersoalkan
bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja keras
dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan
perusahaan. Pada dasarnya perusahaan bukan saat mengharapkan karyawan yang
mampu, cakap, dan terampil, tetapi yang terpnting mereka mau bekerja giat dan
berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal. Kemampuan, kecakapan, dan
keterampilan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan, jika mereka tidak mau
bekerja keras dengan mempergunakan kemampuan, kecakapan, dan keterampilan yang
dimilikinya. Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap
individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas
kerja yang tinggi.
Kenapa motivasi harus dilakukan pimpinan
terhadap bawahannya?
1. Karena
pimpinan membagi-bagikan pekerjaannya kepada para bawahan untuk dikerjakan
dengan baik.
2. Karena
ada bawahan yang mampu untuk mengerjakan pekerjaannya, tetapi ia malas atau
kurang bergairah mengerjakannya.
3. Untuk
memelihara dan atau meningkatan kegairahan kerja bawahan dalam menyelesaikan
tugas-tugasnnya.
4. Untuk
memberikan penghargaan dan kepuasan kerja kepada bawahannya.
Motivasi ini hanya dapat diberikan
kepada orang-orang yang mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Bagi
orang-orang yang tak mampu mengerjakan pekerjaan tersebut tidak perlu
dimotivasi karena percuma. Memotivasi ini sangat sulit, karena pempinan sulit
untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan yang diperlukan bawahan dari hasil
pekerjaannya itu.
Oranag-orang mau bekerja untuk
dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan (fisik dan mental), baik itu kebutuhan
yang disadari (conscious needs) maupun kebutuhan yang tidak disadari (uncconscious
needs) –nya. Kebutuhan setiap orang adalah sama, misalnya setiap orang butuh
makan dan minum. Tetapi keinginan dari setiap orang tidak sama, karena
dipengaruhi oleh selera kebiasaan dan lingkungannya, misalnya Elvin senang
minum yang panas, sedangan Fitrawan senang minum yang dingin.
Dalam memotivasi ini pempinan hanya
berdasarkan perkiraan-perkiraan mengenai kebutuhan dan atau keinginan-keinginan
yang dapat merangsang gairah kerja bawahannya.
Manajer dalam memotivasi ini harus
menyadari, bahwa orang akan mau bekerja keras dengan harapan, ia akan dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginan-keinginannya dari hasil pekerjaannya.
2.2. Pengertian Motif dan Motivasi.[2]
Tingkah laku seseorang dipengaruhi
serta dirangsang oleh keinginan, kebutuhan, tujuan, dan kepuasannya. Rangsangan
timbul dari diri sendiri (internal) dan dari luar (eksternal = lingkungan )
nya.
Rangsangan (material dan non
material) ini akan menciptakan “motif dan mitivasi” yang mendorong orang
bekerja (beraktivitas) untuk memperoleh kebutuhan dan kepuasan dari hasil
kerjanya.
Motif dapat diartika sebagai driving
force yang menggerakan manusia untuk bertingkah laku dan berbuat dengan
tujuan tertentu.
Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan.
Motif adalah suatu perangsang
keinginan (want) dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Setiap motif
mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Drs. Moekijat.
Motif adalah suatu pengertian yang
mengandung semua alat pengerak alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia
yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
Bernard Berelson dan Gray A.
Steiner.
A motive is an inner
state that energizes, actives or moves and that direct or channels behavior
toward goals.
Artinya :
Sebuah motif adalah suatu pendorong
dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau mengarah
kepada sasaran akhir.
Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan.
Motivasi adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja
sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk
mencapai kepuasan.
Harold Kootz.
Motivation refers to the drive and
effort to satisfy a want or goal.
Artinya :
Motivasi mengacu pada dorongan dan
usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan.
Wayne F. Cascio.
Motivation is a force that results from an
individuals desire to satisfy their needs (e.g. hunger, thirst, social
approval).
Artinya :
Motivasi adalah suatu kekuatan yang
dihasilkan dari keinginan seseorang untuk memuaskan kebutuhannya (misalnya :
rasa lapar, haus, dan bermasyarakat).
Stephen P. Robbine.
We will define motivation as the
willingness to exert high levels of effort toward organizational goals,
conditional by efforts ability to satisfy some individual need.
Artinya :
Kita akan mendifinisikan motivasi
sebagai suatu kerelaan untuk berusaha seoptimal mungkin dalam pencapaian tujuan
organisasi yang dipengaruhi oleh kemampuan usaha untuk memuaskan beberapa
kebutuhan individu.
American Encyclopedia.
Motivation : that predisposition (it
self the subject of much controvency) within the individual which arouses
sustain and direct his behavior. Motivation involve such factor as biological
and emotional needs that can only be inferred from observation behavior.
Artinya :
Motivasi adalah kecenderungan
(suatu sifat yang merupakan pokok pertentangan) dalam diri seseorang yang
membangkit topangan dan mengarahkan tindak-tanduknya. Motivasi meliputi faktor
kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan
tingkah laku manusia.
2.3. Aspek dan Pola Motivasi.
Aspek motivasi dibedakan antara
aspek aktif atau dinamis dan aspek pasif atau statis.
Dalem
aspek aktif atau dinamis, motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam
menggerakkan dan mengarahkan sumber daya manusia agar secara produktif berhasil
mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam aspek pasif atau
statis,motivasi akan tampak sebagai kebutuhan dan juga sekaligus sebagai
perangsang untuk dapat mengarahkan dan menggerakkan potensi sumber daya manusia
kearah tujuan yang diinginkan.
Keinginan dan kegairahan kerja
dapat ditingkatkan berdasarkan pertimbangan tentang adanya dua aspek motivasi
yang bersifat statis, yaitu :
1. Aspek
motivasi statis yang tampak sebagai keinginan dan kebutuhan pokok manusia yang
terjadi dasar dan harapan yang akan diperolehnya dengan tercapainnya tujuan
organisasi.
2. Aspek
motivasi statis yang berupa alat perangsang atau insentif yang diharapkan akan
dapat memenuhi apa yang manjadi keinginan dan kebutuhan pokok yang
diharapkannya.
2.4. Faktor Motivasi.[3]
Dalam pelajaran bahasa kedua ada
asumsi yang menyatakan bahwa orang yang didalam dirinya ada keinginan,
dorongan, atau tujuan yang ingin dicapai dalam belajar bahasa kedua cenderung
akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar tanpa dilandasi oleh
suatu dorongan, tujuan, atau motivasi itu.
Coffer (1964) menyatakan bahwa
motivasi adalah dorongan, hasrat, kemauan, alasan, atau tujuan yang
menggerakkan orang untuk mengerkan sesuatu. Pakar lain, Brown (1981)menyatakan
bahwa motivasi adalah dorongan dari dalam, dorongan sesaat, emosi atau
keinginan yang menggerakkan seseorang
untuk berbuat sesuatu.
Motivasi mempunyai dua fungsi,
yaitu :
1. Fungsi
integratif : motivasi mendorong seseorang mempelajari suatu bahasa karena
adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa itu atau
menjadi anggota masyarakat bahasa tersebut.
2. Fungsi
instrumental : kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk memiliki kemauan
untuk mempelajari bahasa kedua itu karena tujuan yang bermamfaat atau karena
dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau mobilitas sosial pada lapisan
atas masyarakat tersebut.
2.5. Tujuan Pemberian Motivasi.
1. Mendorong
gairah dan semangat kerja karyawan.
2. Meningkatkan
moral dan kepuasan kerja karyawan.
3. Meningkatkan
produktivitas kerja karyawan.
4. Mempertahankan
loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan.
5. Meningkatkan
kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.
6. Mengefektifkan
pengadaan karyawan.
7. Menciptakan
suasana dan hubungan kerja yang baik.
8. Meeningkatkan
kreativitas dan partisipasi karyawan.
9. Meningkatkan
tingkat kesejahteraan karyawan.
10. Mempertinggi
rasa tangung jawab karyawan atas terhadap tugas-tugasnya.
11. Meningkatkan
efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.
12. Dan
lain sebagianya.
2.6. Asa-Asas Motivasi.
1. Asas
mengikut sertakan, artinya mengajak bawahan untuk ikut berpartisipasi dan
memberikan kesempatan kepada mereka mengajukan pendapat, rekomendasi dalam
proses pengambilan keputusan.
2. Asas
komunikaasi, artinya menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang ingin
dicapai, cara-cara mengerjakannya, dan kendala-kendala yang dihadapi.
3. Asas
pengakuan, artinya memberikan pengahargaan, pujian dan pengakuan yang tepat
serta wajar kepada bawahan atas prestasi kerja yang dicapainya.
4. Asas
wewenang yang didelegasikan, artinya memberikan kewenangan dan kepercaayaan
diri pada bawahan, bahwa dengan kemampuan dan kreativitasnya ia mampu
mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik. Misalnya : ini tugasmu dan saya
berharap anda mampu mengerjakannya.
5. Asas
adil dan layak, artinya alat dan jenis motivasi yang diberikan harus
berdasarkan atas “asas keadilan dan kelayakan” terhadap semua karyawan.
Misalnya pemberian hadiah atau hukuman terhadap semua karyawan harus adil dan
layak kalau masalahnya sama.
6. Asa
perhatian timbal balik, artinya bawahan yang barhasil mencapai tujuan dengan
baik maka pimpinan harus bersedia memberikan alat dan jenis Motivasi. Tegasnya
kerja sama yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
2.7. Alat-Alat Motivasi.
1. Material
insentif, yaitu alat motivasi yang diberikan berupa uang dan atau barang yang
mempunyai nilai pasar; jadi memberikan kebutuhan ekonomis. Misalnya kendaraan,
rumah, dan lain-lainnya.
2. Non
mtaerial insentif, yaitu alat motivasi yang diberikan berupa barang atau benda
yang tidak ternilai; jadi hanya memberikan kepuasan atau kebanggaan rohani
saja. Misalnya mendali, piagam, bintang jasa, dan lain-lainnya.
3. Kombinasi
material dan nonmaterial insentif, yaitu alat motivasi yang diberikan berupa
material (uang dan barang) dan nonmaterial (mendali-piagam) jadi memenuhi
kebutuhan ekonomis dan kepuasan atau kebanggaan rohani.
2.8. Jenis-Jenis Motivasi.[4]
1. Motivasi
positif (insentif positif), manajer memotivasi bawahan dengan memberikan
hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi positif ini
semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada umumnya senang
menerima yang baik-baik saja.
2. Motivasi
negatif (insentif negatif), manajer memotivasi bawahannya dengan
memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannnya kurang baik (prestasinya
rendang). Dengan memotivasi negatif ini semangat kerja bawahan dalam jangka
waktu pendek akan meningkat, karena mereka takut dihukum; tatapi untuk jangka
waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
Dalam praktek kedua jenis motivasi diatas
sering digunakan oleh manajer suatu perusahaan. Penggunaannya harus tepat dan
seimbang, supaya dapat meningkatkan semangat kerja karyawan. Yang menjadi
masalah ialah kapan motivasi positif dan motivasi negatif itu efektif
merangsang gairah kerja karyawan. Motivasi positif efektif untuk jangka
panjang, sedangkan motivasi negatif efektif untuk jangka pendek saja. Tetapi
manajer harus konsisten dan adil dalam menerapkannya.
2.9. Metode-Metode Motivasi.
1. Metode
langsung (direct motivation), adalah motivasi (material dan nonmaterial)
yang diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk memenuhi
kebutuhan dan kepuasannya. Jadi sifatnya khusus seperti memberikan pujian,
penghargaan, bonus, piagam, dan lain sebagainya.
2. Metode
tidak langsung (indirect motivation), adalah motivasi yang diberikan
hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja
dan melancarkan tugas, sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan
pekerajaannya. Misalnya : kursi yang empuk, mesin-mesin yang baik, ruangan
kerja terang dan nyaman, suasana dan lingkungan pekerjaan yang baik, penempatan
karyawan yang tepat dan lain-lainnya. Motivasi yang tidak langsung ini besar
pengaruhnya untuk merangsang semangat bekerja karyawan, sehingga produktivitas
kerja meningkat.
2.10. Model-Model Motivasi.
1. Model
tradisional, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan agar gairah bekerjanya
meningkat dilakukan dengan sistem insentif yaitu memberikan insentif meterial
kepada karyawan yang berprestasi baik. Semakin berprestasi maka semakin banyak
balas jasa yang diterimanya. Jadi motivasi bawahan untuk mandapatkan insentif
(uang- barang) saja.
2. Model
hubungan manusia, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan supaya gairah
bekerjanya meningkat, dilakukan dengan mengakui kebutuhan sosial mereka dan
membuat mereka merasa berguna serta penting. Sabagi akibatnya karywan
mendapatkan beberapa kebebasan membeuat keputusan dan kreativitas dalam
melakukan pekerjaannya. Dengan memperhatikan kebutuhan material dan nonmaterial
karyawan maka motivasi bekerjanya akan meningkat pula. Jadi motivasi karyawan
adalah untuk mendapatkan kebutuhan material dan nonmaterial.
3. Model
sumber daya manusia, mengemukakan bahwa karyawan dimotivasi oleh banyak faktor,
bukan hanya uang atau barang atau keinginan akan kepuasan saja, tetapi juga
kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti. Menurut model ini
karyawan cenderung memperoleh kepuasan dari prestasi kerjanya yang baik.
Karyawan bukanlah berprestasi baik karena merasa puas, melainkan termotivasi
oleh rasa tanggung jawab yang lebih luas untuk membuat keputusan dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
Adi menurut model sumber daya
manusia ini untuk memotivasi bawahan dilakukan dengan memberikan tanggung jawab
dan kesempatan yang luas bagi mereka untuk mengambil keputusan dalam
menyelesaikan pekerjaannya. Motivasi gairah bekerja seseorang akan meningkat,
jika kepada mereka diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan
kemampuannya.
2.11. Teori-Teori Motivasi.
Teori Motivasi dikelompokkan atas :
1. Teori
kepuasan (content theory).
Teori ini mendasarkan pendekatannya
atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkannya
bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian
pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung,
dan menghentikan prilakunya. Teori ini mencoba menjawab pertanyaan kebutuhan
apa yang memuskan dan mendorong semangat bekerja seseorang. Hal yang memotivasi
semangat bekerja seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan
material maupun nonmaterial yang diperolehnya dari hasil pekerjaannya. Jika
kebutuhan dan kepuasannya semakin terpenuhi maka semangat bekerjanya pun akan
semakin baik pula.
Jadi pada dasarnya teori ini
mengemukakan bahwa seseorang akan bertindak (bersemangat bekerja) untuk dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan
kepuasannya. Semakin tinggi standar kebutuhan dan kepuasan yang diinginkan maka
semakin giat orang itu bekerja. Misalnya mahasiswa X ingin lulus dengan nilai
“A”. Ini mendorongnya lebih giat belajar dibanding dengan mahasiswa “Y” yang
ingin lulus hanya dengan nilai “C” saja.
2. Teori
proses (process theory).
Teori proses ini pada dasarnya
berusaha untuk menjawab pertanyaan , bagaimana menguatkan, mengarahkan,
memelihara, dan menghentikan perilaku individu, agar setiap individu bekerja
giat sesuai dengan keinginan manajer. Apabila diperhatikan secara mendalam,
teori ini merupakan proses sebab dan akibat bagaimna seseorang bekerja serta
hasil apa yang akan diperolehnya. jika bekerja baik saat ini maka hasil yang
diperoleh baik untuk hari besok. Jadi hasil yang dicapai tercermin dalam
bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang.
3. Teori
pengukuhan (reinforcement theory).
Teori ini didasarkan atas hubungan
sebab dan akibat dari prilaku dengan pemberian kompensasi. Misalnya promosi
tergantung dari prestasi yang selalu dapat dipertahankan. Bonus kelompok
tergantung pada tingkat produksi kelompok itu. Sifat ketergantungan tersebut
bertautan dengan hubungan antara prilaku dan kejadian yang mengikuti perilaku
itu.
Teori pengukuhan ini terdiri dari
dua jenis, yaitu :
1. Pengukuhan
positif (positive reinforcement), yaitu bertambahnya frekuensi prilaku,
terjadi jika pengukuh positif diterapkan secara bersyarat.
2. Pengukuhan
negatif (negative reinsforcement0, yaitu betambahnya frekuensi prilaku,
terjadi jika pengukuhan negatif dihilangkan secara bersyarat.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan.
Motivasi adalah suatu dorongan atau
gerakkan seorang manajer kepada bawahannya agar giat dalam bekerja.
Motivasi mempersoalkan bagaimana
caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan
memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan
perusahaan. Pada dasarnya perusahaan bukan saa mengharapkan karyawan yang mampu,
cakap, dan terampil, tetapi yang terpnting mereka mau bekerja giat dan
berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal. Kemampuan, kecakapan, dan
keterampilan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan, jika mereka tidak mau
bekerja keras dengan mempergunakan kemampuan, kecakapan, dan keterampilan yang
dimilikinya.
3.2. Saran.
Maka dari itu
penulis berharap agar dalam pembahasan mendukung pentingnya pembahasan
“motivasi” mengetahui tentang bagaimana cara kita memotivasi seseorang agar
mereka giat bekerja.
Namun bagaimanapun juga dalam tugas makalah terbimbing ini penulis
sadar bahwa masih banyak kurang disana sini,maka besar harapan dari para
pembaca untuk memperbaiki dengan berbagai saran dan masukan bagi penulis agar
lebih baik di kemudian harinya dalam menulis makalah.
DAFTAR
PUSTAKA
ü Drs. H. Malayu
S.P. Hasibuan. Manajemen. PT.Bumi Aksara .bandung. (2001).
ü Abdul Chaer.
Psikololinguistik. PT. Rineka Cipta. Jakarta. (2009).
ü Panji Anoraga, S.E. , M.M . Psikologi Kerja.
PT. Rineka Cipta. Jakarta. (2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar