Jumat, 12 Juni 2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Integritas Da’i”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah Hadits Dakwah . Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.

                                                                               Bandarlampung, 9 juni 2014


                                                                                                Penulis

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.Latar belakang masalah..................................................................................... 1
2.Rumusan Masalah............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.Da’i Harus Berani Dan Tegas.......................................................................... 2
B.Ikhlas Dalam Berdakwah................................................................................. 3
C.Jujur atau Benar Dalam Berdakwah................................................................. 6
D.Sabar atau Tabah.............................................................................................. 9
E.Da’i Harus Teguh Dalam Pendirian.................................................................. 15
BAB III PENUTUP
Kesimpulan Dan Sarann....................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Islam sebagai agama tidak hanya memuat seperangkat konsep-konsep ideal, tetapi juga memuat seperangkat amal praktek yang diaktualisasikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, iman yang merupakan bagian integral dari ajaran Islam pengertiannya harus menyeluruh (komprehensif) dan terpadu.
Muslim menyadari bahwa kenikmatan iman akan terasa apabila diikuti oleh amal shaleh sebagai wujud kerja keras manusia. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai terhadap budaya kerja. Bekerja adalah fitrah sekaligus merupakan identitas manusia, itulah yang dimaksud dengan ungkapan bahwa kerja adalah bentuk eksistensi manusia, dalam pengertian bahwa manusia ada karena amalnya. Dengan amal baiknya manusia dapat mencapai harkat dan martabat yang setinggi-tingginya.
Untuk menciptakan seorang mukmin yang kuat, manusia yang beriman itu harus bekerja keras dan aktif berusaha. Perintah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia di dunia, senantiasa dikaitkan dengan perintah beribadah kepada Allah SWT.

2.      Rumusan Masalah
1.      Apa saja yang dibutuhkan dalam membangun integritas Da’i ?
2.      Apa yang dimaksud dengan ikhlas ?
3.      Apa yang dimaksud dengan jujur atau benar ?




BAB II
PEMBAHASAN


INTEGRITAS DA’I
A.Da’i Harus Berani Dan Tegas.
                                              
أَخْبَرَنَا إسْحَقُ بْنُ مَنْصُرٍ قَا لَ حَدَّ ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ طَا رِقِ بْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ وَضَعَ رِجْلَهُ فِيْ الْغَرْزِ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَا ئِرٍ {النَّسَائِ}
Artinya :
"Dari ishak bin abu manshur ia berkata : bahwa seorang laki-laki bertanya kepada rasullullah saw : jihad bagai manakah yang terbaik? Jawab Rasul : kata-kata yang benar kepada penguasa yang dzalim".(HR.Nasai)

Menurut penelitian,berdasarkan tipe temperamen hanya sekitar tiga persen dari populasi manusia memiliki sikaf tegas alamiah,selebihnya memiliki ketegeasan yang terbentuk dari lingkungan ataupun melalui penetahuan dan pengalaman.
Lingkungan yang kurang mendukung dapat membentuk pribadi yang lemah dan tidak tegas.misalnya disebabkan selalu berada didalam posisi sebagai seorang pengikut atau pollower.sering berada disituasi yang tidak memberi peluang untuk mengemukakan pendapat atau mengambil keputusan juga membuat sulit melatih ketegasan sikap.
Namun ketegasan sebenarnya diawali dari diri sendiri.ketegasan lahir dari keyakinan dan komitmen pribadi terhadab keputusan yang diambil,dan ini terpancar dalam tindakan dan keputusan anda.

Apa yng membuat tidak bisa bersikap tegas ?
1.      Mudah ikut arus.
Ketika anda merasa sulit untuk memilih dan memutuskan sesuatu,biasanya manusia cenderung mengikuti suara terbanyak atau pilihan yang paling populer.
2.Kurang Percaya Diri
Biasanya kita sulit mengambil keputusan jika kita terjebak dalam grey area atau zona-zona abu-abu.terjebak dalam area ini akan melemahkan rasa percaya diri seginga selit untuk bersikap tegas.
3.Sering Bertindak Gegabah
Ada tipe orang yg berpikir dahulu sebelum bertindak.namun tidak sedikit pula orang yang bertindak dulu baru berpikir.biasanya mereka ceroboh dan tergesah-gesah lalu menyesali keputusannya.

B. Ikhlas Dalam Berdakwah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوْرُكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَا لِكُمْ {مسلم}
Artinya :
“Dari Abu Hurairah RA. ia berkata,Rasullullah saw bersabda: Sesungguh
Nya ALLAH SWT tidak melihat kepada rupa atau fisik,dan harta kamu.akan tetapi dia akan melihat hati dan perbuatan kamu”.(HR.Muslim)[1]

Menurut bahasa ikhlas berarti murni,bersih atau jernih dan tidak bercampur sesuatu.dengan demikian,pengertian ikhlas dalam perbuatan adalah pmbersihan perbuatan dari pamrih.berkata Hani: ikhlas ialah membersihkan amal dari setiap noda.sedangkan menurut Mahyudin Ibrahim:ikhlas ialah bekerja dan beramal hanya karena Allah SWT semata,bukan karena lain-nya.dari pengertian ini jelas bahwa ikhlas ialah perbuatan yang sepenuhnya tertuju hanya kepada Allah SWT semata,bukan untuk mencari penghargaan dari manusia.
Ikhlas merupakan suatu sikap yang sulit untuk diujudkan.mengenai hal tersebut,Suhail bin Abdullah At-Tusturi pernah ditanya:”apakah yang paling berat bagi manusia”? beliau menjawab dengan kalimat yang singkat,”IKHLAS”.dengan ikhlas bahwa nafsu tidak akan mendapatkan bentuk.berkata pula Ibnu Qayyim,”periharahlah keikhlasan dari segala nafsu yang menghilangkannya
Karena nafsu ituselalu menyimpang dari akal sehat dan membujuk kepada perbuatan jelek.sebagaimana ditegaskan dalm al-Quran:

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّا رَةُ بِا لسُّوْءِ اِلَّا مَا رَ حِمَ رَبِّيْ , اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌرَّحِيْمٌ {يُوْسُفْ53 }
Artinya:
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeruh kejahatan,kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku. Sesungguhnya tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”(QS.Yusuf :53)[2]

Ibnu Athailah (seorang sufi) mengatakn bahwa amal perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriah yang tegak,sedangkan ruh dari amal perbuatan adalah keikhlasan.senada Ibnu Athailah seorang sufi terkenal,hujjatul islam imam ghozali berkata : “semua manusia berada dalam kerugian,kecuali orang berilmu,orang berilmu juga rugi,kecuali orang beramal,orang beramal juga rugi,kecuali ia ikhlas.” Dengan demikian keikhlasan merupakan inti(ruh) dari suatu perbuatan,karena ia menjadi kunci terimanya suatu perbuatan (amal ibadah) dan diberikannya balasan.sebagaimana ditegaskan dalam hadis nabi :

لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلَّا مَا كَا نَ لَهُ خَا لِصًا وَا بْتَغَي بِهِ وَجْهَهُ {رواه ما جه }
Artinya:
“Allah SWT hanya menerima perbuatan (amal ibadah) yang didasari oleh keikhlasan dan mencari keridhoannya.”


            Perintah untuk berbuat dan beramal ibadah dengan dilandasi oleh sikap ikhlas,termaktub dalam firman Allah SWT:
فَاعْبُدِاللهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ {الزمر:2}

Artinya:
“Maka sembahlah Allah SWT dengan memurnikan kataatan kapadanya (ikhlas)”.(QS.Az Zumar :2)

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk menyucikan diri dari sifat-sifat tercela,dalam segala amal dan tindakan manusia ikhlas karena ALLAH SWT.buah dari keikhlasan akan dirasakan sendiri oleh manusia,yaitu merupakan ketenangan yang diperolehnya setelah ia berbuat dalam segala hal yang didasari oleh sikap ikhlas.
Ikhlas diperlukan untuk menata kehidupan di dunia. Menurut Yusuf Al-Qardhawi,islam menuntut keikhlasan,pemurnian niat karena ALLAH SWT,dan meluruskan tujuan hanya kepadanya.sebab,kehidupan tidak akan berjalan mulus dan lurus tanpa adanya orang-orang ikhlas.dengan demikian,bidang penerapan ikhlas adalah pada setiap lapangan kehidupan manusia,baik dalam ibadah maupun muamalah.
Sebagai bentuk ikhlas terpuji, ikhlas mempunyai nilai mamfaat yang sangat besar bagi manusia, yaitu: orang yang ikhlas karena Allah SWT tidak pernah merasa dirinya lemah karena ancaman, tidak menjadi hina karena kerakusan,tidak bisa dicegah karena rasa takut, membuat jiwa selalu segar. Oleh karena itu, sikap ikhlas harus senantiasa di pelihara dalam kehidupan sehari-hari.bila tidak dipelihara dengan baik, maka penyakit ”riya” akan segera hinggap. Agar ikhlas itu terhindar dari penyakitnya riya, beberapa hal berikut harus dilakukan:
a)      Hendaklah seorang itu mengetahui secara yakin dan sabar bahwa dirinya hanyalah hamba,dimana seorang hamba tidak berhak menuntut upah dari khalik.
b)      Hendaklah manusia menyadari bahwa beramal hanya karena Allah SWT  semata,bukan lainnya.
c)      Hendaklah manusia menyadari bahwa Allah SWT  telah memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
d)     Hendaklah manusia menyadari bahwa pada hakekatnya,apa yang dimiliki dan dikerjakannya adalah karena adanya rahmat dan karunia Allah SWT.
e)      Hendaklah manusia menyadari bahwa riya merupakan penyakit yang sangat berbahaya.dan dampat negatifnya sangat besar dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
C.Jujur atau Benar Dalam Berdakwah.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِا الصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي اِلَى البِرِّ وَاِنَّ البِرَّ يَهْدِي اِلَى الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ بِصِدْقٍ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صَدِّيْقًا وَاِيَّاكُمْ وَالكَذِ بَ فَاِنَّ الكَذِ بَ يَهْدِى اِلَى الفُجُوْرِ وَاِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِى اِلَى النَّارِ.وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِ بُ وَيَتَحَرَّى الكَذِ بَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا {رواه البخارى}
Artinya :
“Rasulullah SAW bersabda : Tetaplah kamu dalam kejujuran,karena jujur itu membawa kepada kebaikan,kebaikan membawa ke surga.dan orang yang senantiasa jujur dan membiasakan diri bersifat jujur sehingga Allah menulis sebagian orang yang jujur (Ash-Shiddiq) dan jauhilah sifat bohong. Sebab bohong itu membawa keneraka.seseorang yang selalu bohong dan membiasakan bohong,seingga disisi Allah ia ditulis sebagai pembohong (Al-Kadzdzab).” (HR.Bukhari).
Jujur atau benar terjemahan dari bahasa Arab Ash-Shidqu.menurut imam Al-Ghazali kata shidqu (benar) digunakan untuk enam arti yaitu: benar dalam berkata,benar dalam niat dan kemauan,benar dalam mengambil keputusan,benar dalam menjalankan keputusan,benar dalam amaliyah,benar dalam menetapkan semua tingkatan agama.berkata benar berarti memberitahukan dan memutuskan sesuatu sesuai dengan kenyataan.jadi orang yang selalu berkata benar atau jujur ialah orang yang perkataan dan pemikirannya bertolak dan berlandasan kebenaran itu sendiri,sehingga tidak ada lagi perilaku yang bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.selalu berkata benar (sidik) adalah salah satu sifat Rasulullah yang sangat masyhur sehingga mengantarkan beliau memperoleh sebutan Al-Amin.[3]
Allah Swt menciptakan langit dan bumi beserta isinya dengan benar.oleh karena itu,manusia diperintahkan dalam membangun kehidupan berlandasan pada norma kebenaran.menurut Muhammad Al-Ghozali bahwa berpegang kepada kejujuran dengan memperhatikan prinsip kebenaran kebenaran pada sikap problem yang dihadapi dan dilaksanakan di atas hukum yang benar merupakan ”tiang yang kokoh”dalam akhlak islam.
Dalam pembangunan masyarakat islam,prinsip kejujuran (benar dalam kata) harus dijadikan landasan dan titik tolak individu (pribadi) dalam berbagai langkah dan interaksi antar sesama manusia dalam kehidupan kemasyarakatan baik dalam lingkup kehidupan keluarga maupun dalam lingkung kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih luas.
Hadits tersebut diatas menegaskan tentang pengaruh yang diakibatkan oleh perbuatan jujur (benar) dan perbuatan dusta.perbuatan jujur dapat menimbulkan kebahagian (surga). Begitupula sebaliknya pebuatan bohong itu dapat menimbulkan kesengsaraan (neraka).demikian dalam kehidupan hendaklah diterapkan sifat shiddiq (jujur dan benar) dan meninggalkan sifat kidzdzib (dusta,bohong).
Sifat shiddiq (berkata benar) merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh para nabi dan rasul karena keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam sifat shiddiq tersebut.Ibnu Abbas berkata : “empat sifat bila ada pada seseorang akan mendatangkan keberuntungan yaitu,jujur (berkata benar), malu, berakhlak baik dan suka bersyukur”.Abu Sulaiman :” jadikanlah kejujuran (kebenaran) itu sebagai kendaraanmu dan Allah sebagai puncak tujuanmu”. Selanjutnya tentang perumpamaan Allah tentang kebenaran bagaikan pohon yang subur,uratnya teguh dan cabangnya menjulang mengapai langit dan menghasilakn buah pada setiap musim.tentang keutamaan sifat shiddiq,Alla Swt menegaskan dalam firman-Nya:

اَلَمْ تَرَكَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَاءِ {سورة ابراهم :24}
Artinya :
   “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Swt telah membuat perumpamaan perkataan yang baik seperti pohon yang baik,ekornya teguh dan cabang menjulang kelangit”. (QS.Ibrahim: 24)

Begitu tinggi dan mulianya sifat Shiddiq(jujur,benar),maka islam menganjurkan dan menekankan agar sifat ini ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini.sehingga nantinya mereka terbiasa melakukan kejujuran dan kebenaran dimana pun.
Lawan dari sifat jujur dan benar adalah bohong atau dusta.dusta atau bohong merupakan perbuatan keji yang membawa kepada kehinaan bagi diri perilakunya.sifat itu sangat dibenci Rasulullah Saw sebagai pembawa agama islam.karena itu sifat ini harus dihindari dan dijauhkan bahkan islam menolak keras kehadiran sifat ini.
Begitu tercelanya perbuatan bohong atau dusta,maka islam telah mengingatkan menusia dalam kehidupannya agar jangan memberikan ruang sekecil apapun untuk berbuat kebohongan karena mendapat menimbulakan malapetaka atau nampak negatif seperti kebohongan dalam bergurau atau berlawakan.dalam keadaan seperti ini terkadang manusia tidak menyadari bahwa perbuatan dusta ketika bergurau itu dapat mencelakakan orang lain.
Berbuat dusta diharamkan karena akan menimbulkan kemudharatan pada orang yang didustai.namun demikian,adapula perbuatan dusta yang mendatangkan memashalatan.mengenai dusta seperti ini ole agama diperbolehkan,bahkan kadang-kadang hukumannya menjadi wajib kiranya dengan berkata benar berakibat terbunuhnya seseorang.misalnya,seorang yang zalim mencari seseorang hendak dibunuhnya.dia menyatakan kepada kita,lalu kita mengatakan,”tidak tahu”padahal sebenarnya kita mengetahui tempat persembunyian orang yang hendak dibunuhnya itu.




لَيْسَ الكَذَّا بُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُوْلُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا {رواه مسلم}
Artinya :
“Tidak termaksud pendusta orang yang memperdamaikan dua orang yang berselisih,dia mengatakan yang baik lalu dia berhasil dengan baik”.(HR.Muslim)
Tamalluq dan Hasad fi Thalabil Ilmi.yang dimaksud Tamalluq yaitu sikap atau ucapan pura-pura dengan maksud untuk menjilat atau mencari muka.dalam mencari ilmu sifat tamalluq dan hazad diperboleehkan dalam islam,karena akan menghasilkan kemashalatan.hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam sabda nabi Muhammad Saw yang artinya sebagai berikut :
“sifat tamalluq dan hazad hanyalah diperbolehkan dalam mencari ilmu”.(HR.Baihaqi) 
Dari penjelasan diatas dapatlah disimpulkan bahwa ada perbuatan dusta atau bohong yang diperbolehkan (ditolelir) oleh islam yaitu perbuatan dusta yang dapat menimbulkan kebaikan atau kemashalatan.sedangkan perbuatan bohong yang menimbulkan kejahatan dan malapetaka meskipun kecil bentuk dan ukurannya dilarang oleh islam.

D.Sabar Atau Tabah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِصُرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ {متفق عليه }
Artinya:
“Dari Abu Hurairah ra,bahwasanya rasulullah saw bersabda: ukuran kekuatan seseorang itu bukanlah dengan bergulat,melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosi dikala ia marah”. (Mutafaq Alaihi).

(الصبر)
1.Pengertian Sabar.
Sabar artinya tahan terhadao setiap penderitaan atau sesuatu yang tidak disenangi dengan sikap ridha dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Ada juga yang mengartikan sabar adalah keteguhan hati dalam menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya.
Kata sabar kedengarannya memang sederhana namun ternyata tidak semua orang bisa melakukannya,dan orang yang kehilangan kesabaran sudah terlalu sering kita dengar dilingkungan masyarakat.
Sabar yang tidak mudah kita terapkan dalam peraktek keseharian merupakan akhlak yang sangat terpuji.dalam hal ini digambarkan dalam sebuah hadits:
الَصَّبْرِ ضِيَاءٌ {رواه مسلم }
Artinya:
“Bersabar adalah cahaya” (HR.Muslim).
Perjalanan hidup kita tidak terlepas dari ujianan cobaan yang datang menjemput setiap saat,baik cobaan yang menimpa diri sendiri,kelompok ataupun bencana yang menimpa terhadap bangsa.perjalanan hidup yang penuh liku kadang naik dan kadang turun,berbelok penuh onek dan duri.itu semua mungkin kita atasi jika tidak didasari denga penuh kesabaran.

2. Sabar Sebagai Pendukung Cita-cita
Sabar merupakan sikap menahan diri yang hadir karena dorongan jiwa sepenuhnya bukan karena terpaksa oleh berbagai paktor lain.sabar juga merupakan suatu landasan kokoh untuk mewujudkan berbagai usaha yang kita cita-citakan.
Orang yang bersabar tidak memandang berat atau ringannya suatu pekerjaan,yang terpikir hanyalah bagaimana agar cita-cita tersebut terwujud,dengan menyingkirkan setiap hambatan yang menghalanginya.ia menyadari bahawa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan dan banyak menemukan berbagai hambatan.
Tampa adanya kesabaran dalam setiap melakukan perbuatan tentunya sulit untuk memperoleh hasil yang dicita-citakan karena jika menemukan hambatan akan cepat menyerah dan berputus asa.


3. Barbagai Macam Bentuk Kesabaran
Pada kenyataannya,sabar terdiri dari 3 macam yaitu:
a)        Sabar atau menahan diri dari segala perbuatan jahat.
Sabar disini termaksud didalamnya menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskakn diri sendiri maupun orang lain sehingga salah satunya merasa dirugikan.
Ketika iman kita goyah karena nafsu yang tidak terbendung bararti hilang pula kesabaran kita dalam menghadang perbuatan jahat.jadi sabar dalam hal ini merupakan suatu pertahanan yang dapat mencegah berbagai dorongan nafsu yang setiap saat menggoda manusia.

 حُفَّتِ الْجَنَّهُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ { رواه مسلم }
Artinya:
“Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu,sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa nafsu”(HR.Muslim)
Hadist diatas menjelaskan betapa sulitnya meraih jalan kesurga karena dikelilingi oleh hawa nafsu yang setiap saat mengintai kita agar terjerumus kelembah dosa.dengan demikian hanya sabarlah yang dapat memendung semuanya.
Dalam hal ini agama menganjurkan untuk selalu berdoa :

رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ {الاعراف:126 }
Artinya:
“Ya Allah SWT Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadamu).” (QS. Al-A’Raaf :126).
b)      Sabar Dalam Melakukan Ibadah.
Sabar disini merupakan menahan diri dari berbagai kesulitan dan rasa berat dalam menjalankan ibadah.
Dalam ibadah tidak saja dituntut memenuhi syarat dan rukunnya secara lengkap, tapi juga harus dilakukan secara khusyu’ dan menyerahkan diri secara total. Dalam hal ini pasti banyak ditemui berbagai rintangan berupa godaan yang selalu menghantui pikiran sehingga shalat kita tidak khusyu’ atau hendak memulainya terasa berat dan terkadang ditunda-tunda
Begitu pula dengan zakat, kita harus menunaikannya dengan penuh keikhlasan dan atas landasan belas kasih antar sesama. Tidak jarang hati kita terbujuk rayu setan sehingga merasa sayang dan enggan membayar zakat.
            Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

وَأْمُرْاَهْلَكَ بِالصَّلَوةِ وَاصْطَبِرْعَلَيْهَا {طه :132}
Artinya :
Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Qs. Thahaa: 132 )

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِوَالصَّلَوْةِ, وَاِنَّهَالَكَبِيْرَةُاِلَّا عَلَى الْخَشِعِبْنَ {البقرة :45}
Artinya :
“Dan mintalah pertolongan (kepada ALLAH) dengan sabar dan shalat. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”(Qs. Al-baqarah :45)

وَالصَّبْرِنَفْسَكَ مَعَ الَّذِ يْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَوْةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ {الكهف :28}
Artinya :
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhan-Nya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya.” (Qs. Al-kahfi :28).
Begitu pula orang yang paling nasehat-menasehati, mereka itu tergolong orang yang tidak merugi diakhirat kelak. Dan perbuatannya yang dilakukannya merupakan suatu ibadah yang mulia.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

وَالْعَصْرِ.اِنَّالْاِنْسَا نَ لَفِيْ خُسْرِ.اِلَّاالَّدِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّلِحَتِ وَتَوَاصَوْابِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْابِالصَّبْرِ {العصر :13}

Artinya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan naset-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati dalam kesabaran” (Qs. Al-ashr : 1-3)

c)       Sabar karena menghindari kemunduran
Sabar karena menghindari kemunduran maksudnya adalah menahan diri berbagai godaan yang menyebabkan kita tidak berani dalam melakukan sesuatu yang baik seperti : membela keadilan, membela harga diri kita atau orang lain, berjuang demi kelompok, bangsa, dan lain sebagainya.
Sikap pantang mundur dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan ini seperti yamh digambarkan oleh para sahabat nabi ketika yang diperintahkan umtuk hijrah ke madinah dengan meninggalkan sanak saudara, harta kekayaan dan sejumlah posisi lain yang sudah mapan. Hijrah tersebut dilakukan tak lain karena mengharapkan ketenteraman dalam beribadah dan memenuhi panggilan  Allah SWT semata.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَاَوْلُوْا العَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ...{الاحقاف :  35}
Artinya:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (Qs. Al-Ahqaf :35)
Begitu tingginya nilai orang yang bersabar hingga sayidina Ali berkata : “Orang yang bersabar itu pasti mendapat kemenangan, walaupun terlambat hasilnya”.bgitu pula dalam Al-Qur’an tidak sedikit kata sabar terulang bahkan tidak kurang dari 70 kata. Antara lain dalam ayat :
وَلَنَبْلُوْنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصَّبِرِيْنَ وَنَبْلُوَاَخْبَارَكُمْ {محمد :31}
 Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik-buruknya) hal ikhwalmu (Qs. Muhammad : 31).

وَاصْبِرْعَلَى مَااَصَابَكَ. اِنَّذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلُامُوْرِ. {لقمان : 17}
Artinya :
“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk sesuatu yang diwajibkan Allah SWT.” (Qs. Lukman : 17)

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوااصْبِرُوْاوَصَابِرُوْاوَرَابِطُوْا,وَاتَّقُوااللَه لَعَلَّكٌمْ تُفْلِحُوْنَ {ال عمران : 200}
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) serta bertakwalah kepada Allah SWT agar kamu beruntung.”(Qs. Ali imran : 200)
Dalam Al-Qur’an banyak dijanjikan bahwa orang yang sabar akan mendapat imbalan pahala dari Allah SWT.
Adapun firman Allah tersebut antara lain :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِاَمْرِنَالَمَّا صَبَرُوْا {السجدة :24}
Artinya :
“Dan kami dijadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar.” (Qs. As sajadah : 24)

قُلْ يَعِبَادِالَّذِ يْنَ اَمَنُوْااتَّقُوْارَبَّكُمْ, لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْافِيْ هَذِهِ الدُّ نْيَا حَسَنَةٌ, وَاَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ, اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِحِسَابٍ {الزمر : 10}
Artinya :
“Katakanlah (hai Muhammad, Allah SWT berfirman) : “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang=orang yang berbuat baik di dunia (menaati), diberikan kebaikan (pahala di akhirat), dan bumi Allah SWT itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar (menaati) akan diberi pahala tanpa hitungan.”(Qs. Az Zumar : 10)
Ayat tersebut memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar menyeru umatnya untuk bertakwa dan bersabar. Dengan kesabaran tersebut Allah SWT akan melimpah anugerahnya berupa segala kemudahan dan kesuksesan di dunia dan pahala di akhirat kelak.
Menurut imam Al Ghazali bahwa kondisi manusia dalam kehidupanini ada dua macam yaitu :
a.       Kehidupan yang sesuai dengan kehendak hati.
b.      Kehidupan atau perjalanan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hati.

Kedua kondisi di atas pasti akan dilalui oleh setiap manusia, yang mana  jika menemui salah satu kondisi tersebut harus disikapi dengan sabar. Baik  pada perjalanan  hidup yang dikehendaki ataupun tidak.

E.     Da’i Harus Teguh Dalam Pendirian

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ  قَلَ سَأَلْتُ عَبْدُ اللهِ بْنْ عَمْرٍوَعَنْ أَشَدِّمَاصَنَعَ اْلمُشْرِكُوْنَ بِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : رَأَيْتَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يُصَلِّي فَوَضَعَ رِدَاءَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ بِهِ خَنْقًا شَدِيْدًا فَجَاءَأَبُوْبَكْرٍحَتَّى دَفَعَهُ عَنْهُ فَقَالَ أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا أَنْ يَقُوْلَ رَبَّيَ اللهُ وَقَدْجَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ. {البخاري}
Artinya :
 Dari ‘Urwah bin Zubair berkata : Saya bertanya kepada Abdullah bin Amr tentang perlakuan kekerasan orang-orang Musyrik terhadap Rasulullah SAW. Dia berkata : Saya telah melihat ‘Uqbah bin Abu Mu’aith datang kepada Rasulullah SAW dan beliau sedang shalat, lalu ia meletakkan selendahnya pada leher Nabi, kemudian dia tarik sekuat-kuatnya. Tiba-tiba datanglah abu bakar ra. Dan meghalangi perbuatan tersebut, dan berkata :” Apakah engkau akan membunuh orang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah SWT, sedang telah datang kepadamu kebenaran yang sangat nyata. (HR. Bukhari).

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَالْجِيْنُ وَالْاِنْسَ يَمُوْتُوْنَ. {متفق عليه}
Artinya :
Dari Ibn Abbas bahwasannya Rasulullah SAW terbiasa mengucapkan :” Ya Allah, kepada-Mu saya menyerah, beriman dan bertawakal, dan kepada Mu pula saya akan kembali dan untukmu saya berjuang. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliyaanMu yang tiada Tuhan kecuali Engkau, janganlah Engkau sesatkan aku. Engkau yang hidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia semua bakal mati. (Bukhari-Muslim)

Para pakar tafsir telah sepakat bahwa konseskuensi bagi da’i yang tidak mengamalkan terhdap apa yang telah didakwahkannya akan berbuah kemungkaran dari Allah Swt.prof.dr. hamka,dalam tafsirnya al-azhar menjelaskan tentang ayat ke 3 dari surah as-shaf.yang artinya:
“amatlah dibenci disisi Allah Swt bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan”.
Yaitu:“perkataan yang tidak sesuai dengan perbuatan sangatlah dibenci oleh Allah Swt.hal yang demikian tidaklah layak bagi orang yang telah mengaku beriman.agar dia benar-benar menjaga dirinya agar jangan samapi menjadi pembohong.
Kabura maqtan adalah kebencian yang besar disisi Allah Swt yaitu puncak dari kebencian dan pengingkaran yang paling keras.hal itu merupakan puncak penghinaan dan celaan atas suatu urusan.khususnya dalam rohani seorang mukmin yang dipangil dan diseru dengan kehormatan iman.dan yang diserukan langsung oleh tuhannya yang dia beriman kepadanya
Dalam ayat ini (Quran surah al-shaf) nampak jelas,bahwa surah ini bertujuan unutuk membangun kesabaran terhadap hakikat berdakwa serta pengetahuan tentang akidah dan jatahnya dalam mengembang amanat aqidah itu diatas bumi ini.kemudian diikuti dengan kesabaran terhadap beban-beban amat itu.suatu kesadaran yang mendorongnya kepada kejujuran niat dal berjihat untuk memenangkan agamanya atas seluruh agama lain dimuka bumi ini,sebagaimana telah dikehendaki oleh Allah Swt.demikian pula agar selalu konsisten,tidak bingung dan ragu-ragu antara perkataan dan perbuatan.
Dari penjelasan para pakar tafsir sebelumnya menegnai kandungan al-quran surat as-shaf ayat 2-3 dapat ditarik suatu kepastian bahwa kandungan utama atau isi pokok surat ini adalah kejujuran.sutar ashaf turun untuk memberikan pendidikan melalui pendekatan yang bersifat ancaman.hal ini dimaksudkan untuk menanamkan sifat kejujuran,baik jujur dalam perkataan maupun benar dalam perbuatan.
Pendidikan yang ditampilkan melalui konteks pembentukan akhlak dan kesabaran antara perkataan dan perbuatan dengan kebutuhan masyarakat dibawah naugan akidah keagamaan.hal ini mengambarkan dari sosok keperibadian seorang muslim yang dilandaskan pada kejujuran dan kebenaran,kedesiplinan dan konsisten serta kelurusan sikap yakni batin sama dengan lahirnya.ucapan sesuai dengan pengamalannya.
Abu ja’far muhammad bin jarir al-thahari menyebutkan bahwa ada beberapa orang mukmin yang sebelum jihad diwajibkan kepada mereka,(sebagai akibat dari perkataan),mereka berkata”kami inggin sekali Allah Swt menunjukan amalan terbaik yang disukainya sehingga kami bisa mengamalkann-Nya. “Allah Swt telah memberitahukan nabinya bahwa amalan yang baik disisinya adalah iman kepada Allah Swt tampa keraguan didalamnya,dan berjihad dalam melawan orang-orang yang Menantang Allah Swt,yang menyesisihi keimanan serta tidak mengakuinya.[4]
Dan dapat pula kita lihat banyak dari pada pendeta kristen menyeruh para pengikutnya untuk berbuat baik akan tetapi mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.dibawah ini beberapa bukti bagaimana para pendeta itu berbuat kejahatan dibalik tembok-tembok gereja yang mereka angap sebagai tempat suci.sebagai mana kita ketahui pra pendeta kristen mangklim bahwa mereka adalah mereka orang-orang suci yang tidak membutuh sex.
Didalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak disyaratkan pelakunya harus bersih dari dosa.berkata sa’id bin jubair :seandainya seseorang tidak akan beramar ma’ruf dan nahi mungkar oleh karenanya,tidak ada alasan bagi siapa saja untuk tidak ber ma’ruf dan nahi mungkar,walaupun dia sendiri belum istiqomah,walaupun dia sendiri masih banyak berumuran dosa,walaupun dia sendiri belum bisa melaksanakan kebaikan.....karena dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar seseorang akan terpacu untuk slalu berbuat baik dan meningalkan kemungkaran,kita harus mengetahui juga bahwa manusia didalam menghadapi kebajikan dan kemungkaran mempunyai empat kewajiban:
1.      Dua kewajiban terhadapan kebajikan yaitu:mengerjakan untuk diri sendiri dan menyeruh orang lain untuk mengerjakannya.
2.      Dua kewajiban terhadap kemungkaran,yaitu:meningalkan untuk dirinya sendiri dan menyeruh orang untuk meningalkannya.

Oleh karenanya barang siapa yang belum bisa bengerjakan kewajiban untuk dirinya sendiri,hendaknya menyeruh orang lain untuk mengerjakannya,dengan demikian dia telah mengerjakan salah satu kewajibannya,berarti dia sudah meningalkan dua kewajibannya.begitu juga orang yang masih berbuat kemungkaran.hendaklah tetap menyeruh orang lain meningalkannya,dengan demikian dia telah mengerjakan satu kewajiban.karena,jika ia yang masih mengerjakan kemungkaran untuk dirinya sendiri dan tidak melarang orang lain juga untuk meningalkannya,berarti dia telah meninglakan dua kewajiban.berkata ibnu katsir:pendapat yang benar adalah pendapat yang menyatakan bahwa seseorang alim wajib ber amar ma’ruf walaupun dia belum bisa melaksanakannya.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk menyucikan diri dari sifat-sifat tercela,dalam segala amal dan tindakan manusia ikhlas karena ALLAH SWT.buah dari keikhlasan akan dirasakan sendiri oleh manusia,yaitu merupakan ketenangan yang diperolehnya setelah ia berbuat dalam segala hal yang didasari oleh sikap ikhlas.
Ikhlas diperlukan untuk menata kehidupan di dunia. Menurut Yusuf Al-Qardhawi,islam menuntut keikhlasan,pemurnian niat karena ALLAH SWT,dan meluruskan tujuan hanya kepadanya.sebab,kehidupan tidak akan berjalan mulus dan lurus tanpa adanya orang-orang ikhlas.dengan demikian,bidang penerapan ikhlas adalah pada setiap lapangan kehidupan manusia,baik dalam ibadah maupun muamalah.
Sebagai bentuk ikhlas terpuji, ikhlas mempunyai nilai mamfaat yang sangat besar bagi manusia, yaitu: orang yang ikhlas karena Allah SWT tidak pernah merasa dirinya lemah karena ancaman, tidak menjadi hina karena kerakusan,tidak bisa dicegah karena rasa takut, membuat jiwa selalu segar. Oleh karena itu, sikap ikhlas harus senantiasa di pelihara dalam kehidupan sehari-hari.bila tidak dipelihara dengan baik, maka penyakit ”riya” akan segera hinggap. Agar ikhlas itu terhindar dari penyakitnya riya, beberapa hal berikut harus dilakukan:

B.     Saran
Kami mengakui makalah ini banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu kami mohon perhatian bagi para pembaca makalah ini untuk memberikan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bisa jadi ilmu yang bermanfaat bagi yang membacanya. Kami akhiri Wabillahi taufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr Wb


DAFTAR PUSTAKA
idris,muhammad, hadis dakwah sosial (2014), fakultas dakwah dan ilmu komunikasi. hlm14
Mulyadi dkk, aqidah akhlak.PT karya toha putra (2003). hlm134
http://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/akhlak-dai-menurut-alquran


[1] khairullah , hadis dakwah sosial (2014), fakultas dakwah dan ilmu komunikasi, hlm 14
[2] Drs.Mulyadi, aqidah akhlak), PT karya toha putra, semarang (2003). Hlm 134
[3] Drs.Mulyadi, ibid. Hlm 77
[4] http://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/akhlak-dai-menurut-alquran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar