Kata
Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Integritas Da’i”.
Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah Hadits Dakwah . Tidak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari dalam makalah ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat
dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
Bandarlampung,
9 juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.Latar belakang masalah..................................................................................... 1
2.Rumusan Masalah............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.Da’i Harus Berani Dan Tegas.......................................................................... 2
B.Ikhlas Dalam Berdakwah................................................................................. 3
C.Jujur atau Benar Dalam Berdakwah................................................................. 6
D.Sabar atau Tabah.............................................................................................. 9
E.Da’i Harus Teguh Dalam Pendirian.................................................................. 15
BAB III PENUTUP
Kesimpulan Dan Sarann....................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 20
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Islam sebagai agama tidak hanya memuat seperangkat
konsep-konsep ideal, tetapi juga memuat seperangkat amal praktek yang
diaktualisasikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, iman
yang merupakan bagian integral dari ajaran Islam pengertiannya harus menyeluruh
(komprehensif) dan terpadu.
Muslim menyadari bahwa kenikmatan iman akan terasa
apabila diikuti oleh amal shaleh sebagai wujud kerja keras manusia. Itulah
sebabnya Islam sangat menghargai terhadap budaya kerja. Bekerja adalah fitrah sekaligus
merupakan identitas manusia, itulah yang dimaksud dengan ungkapan bahwa kerja
adalah bentuk eksistensi manusia, dalam pengertian bahwa manusia ada karena
amalnya. Dengan amal baiknya manusia dapat mencapai harkat dan martabat yang
setinggi-tingginya.
Untuk menciptakan seorang mukmin yang kuat, manusia
yang beriman itu harus bekerja keras dan aktif berusaha. Perintah bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia di dunia, senantiasa dikaitkan
dengan perintah beribadah kepada Allah SWT.
2. Rumusan Masalah
1. Apa
saja yang dibutuhkan dalam membangun integritas Da’i ?
2. Apa
yang dimaksud dengan ikhlas ?
3. Apa
yang dimaksud dengan jujur atau benar ?
BAB
II
PEMBAHASAN
INTEGRITAS
DA’I
A.Da’i Harus Berani Dan Tegas.
أَخْبَرَنَا إسْحَقُ بْنُ مَنْصُرٍ قَا لَ حَدَّ ثَنَا عَبْدُ
الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ طَا رِقِ بْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى
الله عليه وسلم وَقَدْ وَضَعَ رِجْلَهُ فِيْ الْغَرْزِ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ
؟ قَالَ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَا ئِرٍ {النَّسَائِ}
Artinya :
"Dari ishak bin
abu manshur ia berkata : bahwa seorang laki-laki bertanya kepada rasullullah
saw : jihad bagai manakah yang terbaik? Jawab Rasul : kata-kata yang benar
kepada penguasa yang dzalim".(HR.Nasai)
Menurut penelitian,berdasarkan tipe temperamen hanya
sekitar tiga persen dari populasi manusia memiliki sikaf tegas
alamiah,selebihnya memiliki ketegeasan yang terbentuk dari lingkungan ataupun
melalui penetahuan dan pengalaman.
Lingkungan yang kurang mendukung dapat membentuk pribadi
yang lemah dan tidak tegas.misalnya disebabkan selalu berada didalam posisi
sebagai seorang pengikut atau pollower.sering berada disituasi yang tidak
memberi peluang untuk mengemukakan pendapat atau mengambil keputusan juga
membuat sulit melatih ketegasan sikap.
Namun ketegasan sebenarnya diawali dari diri
sendiri.ketegasan lahir dari keyakinan dan komitmen pribadi terhadab keputusan
yang diambil,dan ini terpancar dalam tindakan dan keputusan anda.
Apa yng membuat tidak bisa bersikap tegas ?
1.
Mudah ikut arus.
Ketika anda merasa sulit untuk memilih dan memutuskan
sesuatu,biasanya manusia cenderung mengikuti suara terbanyak atau pilihan yang
paling populer.
2.Kurang Percaya
Diri
Biasanya kita sulit
mengambil keputusan jika kita terjebak dalam grey area atau zona-zona
abu-abu.terjebak dalam area ini akan melemahkan rasa percaya diri seginga selit
untuk bersikap tegas.
3.Sering Bertindak Gegabah
Ada tipe orang yg berpikir
dahulu sebelum bertindak.namun tidak sedikit pula orang yang bertindak dulu
baru berpikir.biasanya mereka ceroboh dan tergesah-gesah lalu menyesali
keputusannya.
B. Ikhlas Dalam Berdakwah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوْرُكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَا لِكُمْ {مسلم}
Artinya :
“Dari Abu Hurairah
RA. ia berkata,Rasullullah saw bersabda: Sesungguh
Nya ALLAH SWT tidak melihat kepada rupa atau fisik,dan
harta kamu.akan tetapi dia akan melihat hati dan perbuatan kamu”.(HR.Muslim)[1]
Menurut bahasa ikhlas berarti murni,bersih atau jernih
dan tidak bercampur sesuatu.dengan demikian,pengertian ikhlas dalam perbuatan
adalah pmbersihan perbuatan dari pamrih.berkata Hani: ikhlas ialah membersihkan
amal dari setiap noda.sedangkan menurut Mahyudin Ibrahim:ikhlas ialah bekerja
dan beramal hanya karena Allah SWT semata,bukan karena lain-nya.dari pengertian
ini jelas bahwa ikhlas ialah perbuatan yang sepenuhnya tertuju hanya kepada Allah
SWT semata,bukan untuk mencari penghargaan dari manusia.
Ikhlas merupakan suatu sikap yang sulit untuk
diujudkan.mengenai hal tersebut,Suhail bin Abdullah At-Tusturi pernah
ditanya:”apakah yang paling berat bagi manusia”? beliau menjawab dengan kalimat yang
singkat,”IKHLAS”.dengan ikhlas bahwa nafsu tidak akan mendapatkan
bentuk.berkata pula Ibnu Qayyim,”periharahlah keikhlasan dari segala nafsu yang
menghilangkannya
Karena nafsu ituselalu menyimpang dari akal sehat dan
membujuk kepada perbuatan jelek.sebagaimana ditegaskan dalm al-Quran:
اِنَّ النَّفْسَ
لَاَمَّا رَةُ بِا لسُّوْءِ اِلَّا مَا رَ حِمَ رَبِّيْ , اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌرَّحِيْمٌ {يُوْسُفْ53 }
Artinya:
“Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyeruh kejahatan,kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh
tuhanku. Sesungguhnya
tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”(QS.Yusuf :53)[2]
Ibnu Athailah (seorang sufi) mengatakn bahwa amal
perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriah yang tegak,sedangkan ruh dari amal
perbuatan adalah keikhlasan.senada Ibnu Athailah seorang sufi terkenal,hujjatul
islam imam ghozali berkata : “semua manusia berada dalam kerugian,kecuali orang
berilmu,orang berilmu juga rugi,kecuali orang beramal,orang beramal juga
rugi,kecuali ia ikhlas.” Dengan demikian keikhlasan merupakan inti(ruh) dari
suatu perbuatan,karena ia menjadi kunci terimanya suatu perbuatan (amal ibadah)
dan diberikannya balasan.sebagaimana ditegaskan dalam hadis nabi :
لاَ
يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلَّا مَا كَا نَ لَهُ خَا لِصًا وَا بْتَغَي بِهِ
وَجْهَهُ {رواه ما جه }
Artinya:
“Allah SWT hanya menerima perbuatan (amal ibadah) yang
didasari oleh keikhlasan dan mencari keridhoannya.”
Perintah untuk berbuat dan beramal ibadah dengan
dilandasi oleh sikap ikhlas,termaktub dalam firman Allah SWT:
فَاعْبُدِاللهَ
مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ {الزمر:2}
Artinya:
“Maka sembahlah Allah SWT dengan memurnikan kataatan
kapadanya (ikhlas)”.(QS.Az Zumar :2)
Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk menyucikan diri
dari sifat-sifat tercela,dalam segala amal dan tindakan manusia ikhlas karena
ALLAH SWT.buah dari keikhlasan akan dirasakan sendiri oleh manusia,yaitu
merupakan ketenangan yang diperolehnya setelah ia berbuat dalam segala hal yang
didasari oleh sikap ikhlas.
Ikhlas diperlukan untuk menata kehidupan di dunia.
Menurut Yusuf Al-Qardhawi,islam menuntut keikhlasan,pemurnian niat karena ALLAH
SWT,dan meluruskan tujuan hanya kepadanya.sebab,kehidupan tidak akan berjalan
mulus dan lurus tanpa adanya orang-orang ikhlas.dengan demikian,bidang
penerapan ikhlas adalah pada setiap lapangan kehidupan manusia,baik dalam
ibadah maupun muamalah.
Sebagai bentuk ikhlas terpuji, ikhlas mempunyai nilai
mamfaat yang sangat besar bagi manusia, yaitu: orang yang ikhlas karena Allah SWT
tidak pernah merasa dirinya lemah karena ancaman, tidak menjadi hina karena
kerakusan,tidak bisa dicegah karena rasa takut, membuat jiwa selalu segar. Oleh
karena itu, sikap ikhlas harus senantiasa di pelihara dalam kehidupan
sehari-hari.bila tidak dipelihara dengan baik, maka penyakit ”riya” akan segera
hinggap. Agar ikhlas itu terhindar dari penyakitnya riya, beberapa hal berikut
harus dilakukan:
a)
Hendaklah seorang itu mengetahui secara yakin dan sabar bahwa dirinya
hanyalah hamba,dimana seorang hamba tidak berhak menuntut upah dari khalik.
b)
Hendaklah manusia menyadari bahwa beramal hanya karena Allah SWT semata,bukan lainnya.
c)
Hendaklah manusia menyadari bahwa Allah SWT
telah memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
d)
Hendaklah manusia menyadari bahwa pada hakekatnya,apa yang dimiliki dan
dikerjakannya adalah karena adanya rahmat dan karunia Allah SWT.
e)
Hendaklah manusia menyadari bahwa riya merupakan penyakit yang sangat
berbahaya.dan dampat negatifnya sangat besar dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan.
C.Jujur atau Benar Dalam
Berdakwah.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ
بِا الصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي اِلَى البِرِّ وَاِنَّ البِرَّ يَهْدِي اِلَى
الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ بِصِدْقٍ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ
عِنْدَ اللهِ صَدِّيْقًا وَاِيَّاكُمْ وَالكَذِ بَ فَاِنَّ الكَذِ بَ يَهْدِى اِلَى
الفُجُوْرِ وَاِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِى اِلَى النَّارِ.وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِ
بُ وَيَتَحَرَّى الكَذِ بَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا {رواه البخارى}
Artinya :
“Rasulullah SAW bersabda :
Tetaplah kamu dalam kejujuran,karena jujur itu membawa kepada kebaikan,kebaikan
membawa ke surga.dan orang yang senantiasa jujur dan membiasakan diri bersifat
jujur sehingga Allah menulis sebagian orang yang jujur (Ash-Shiddiq) dan
jauhilah sifat bohong. Sebab bohong itu membawa keneraka.seseorang yang selalu
bohong dan membiasakan bohong,seingga disisi Allah ia ditulis sebagai pembohong
(Al-Kadzdzab).” (HR.Bukhari).
Jujur atau benar terjemahan
dari bahasa Arab Ash-Shidqu.menurut imam Al-Ghazali kata shidqu (benar)
digunakan untuk enam arti yaitu: benar dalam berkata,benar dalam niat dan
kemauan,benar dalam mengambil keputusan,benar dalam menjalankan keputusan,benar
dalam amaliyah,benar dalam menetapkan semua tingkatan agama.berkata benar
berarti memberitahukan dan memutuskan sesuatu sesuai dengan kenyataan.jadi
orang yang selalu berkata benar atau jujur ialah orang yang perkataan dan
pemikirannya bertolak dan berlandasan kebenaran itu sendiri,sehingga tidak ada
lagi perilaku yang bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.selalu berkata
benar (sidik) adalah salah satu sifat Rasulullah yang sangat masyhur sehingga
mengantarkan beliau memperoleh sebutan Al-Amin.[3]
Allah Swt menciptakan langit
dan bumi beserta isinya dengan benar.oleh karena itu,manusia diperintahkan
dalam membangun kehidupan berlandasan pada norma kebenaran.menurut Muhammad
Al-Ghozali bahwa berpegang kepada kejujuran dengan memperhatikan prinsip
kebenaran kebenaran pada sikap problem yang dihadapi dan dilaksanakan di atas
hukum yang benar merupakan ”tiang yang kokoh”dalam akhlak islam.
Dalam pembangunan masyarakat
islam,prinsip kejujuran (benar dalam kata) harus dijadikan landasan dan titik
tolak individu (pribadi) dalam berbagai langkah dan interaksi antar sesama
manusia dalam kehidupan kemasyarakatan baik dalam lingkup kehidupan keluarga
maupun dalam lingkung kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih luas.
Hadits tersebut diatas
menegaskan tentang pengaruh yang diakibatkan oleh perbuatan jujur (benar) dan
perbuatan dusta.perbuatan jujur dapat menimbulkan kebahagian (surga).
Begitupula sebaliknya pebuatan bohong itu dapat menimbulkan kesengsaraan
(neraka).demikian dalam kehidupan hendaklah diterapkan sifat shiddiq (jujur dan
benar) dan meninggalkan sifat kidzdzib (dusta,bohong).
Sifat shiddiq (berkata benar)
merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh para nabi dan rasul karena
keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam sifat shiddiq tersebut.Ibnu Abbas
berkata : “empat sifat bila ada pada seseorang akan mendatangkan keberuntungan
yaitu,jujur (berkata benar), malu, berakhlak baik dan suka bersyukur”.Abu
Sulaiman :” jadikanlah kejujuran (kebenaran) itu sebagai kendaraanmu dan Allah
sebagai puncak tujuanmu”. Selanjutnya tentang perumpamaan Allah tentang
kebenaran bagaikan pohon yang subur,uratnya teguh dan cabangnya menjulang
mengapai langit dan menghasilakn buah pada setiap musim.tentang keutamaan sifat
shiddiq,Alla Swt menegaskan dalam firman-Nya:
اَلَمْ تَرَكَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً
كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَاءِ {سورة ابراهم
:24}
Artinya :
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
Swt telah membuat perumpamaan perkataan yang baik seperti pohon yang
baik,ekornya teguh dan cabang menjulang kelangit”. (QS.Ibrahim: 24)
Begitu tinggi dan mulianya
sifat Shiddiq(jujur,benar),maka islam menganjurkan dan menekankan agar sifat
ini ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini.sehingga nantinya mereka
terbiasa melakukan kejujuran dan kebenaran dimana pun.
Lawan dari sifat jujur dan
benar adalah bohong atau dusta.dusta atau bohong merupakan perbuatan keji yang
membawa kepada kehinaan bagi diri perilakunya.sifat itu sangat dibenci
Rasulullah Saw sebagai pembawa agama islam.karena itu sifat ini harus dihindari
dan dijauhkan bahkan islam menolak keras kehadiran sifat ini.
Begitu tercelanya perbuatan
bohong atau dusta,maka islam telah mengingatkan menusia dalam kehidupannya agar
jangan memberikan ruang sekecil apapun untuk berbuat kebohongan karena mendapat
menimbulakan malapetaka atau nampak negatif seperti kebohongan dalam bergurau
atau berlawakan.dalam keadaan seperti ini terkadang manusia tidak menyadari
bahwa perbuatan dusta ketika bergurau itu dapat mencelakakan orang lain.
Berbuat dusta diharamkan karena
akan menimbulkan kemudharatan pada orang yang didustai.namun demikian,adapula
perbuatan dusta yang mendatangkan memashalatan.mengenai dusta seperti ini ole
agama diperbolehkan,bahkan kadang-kadang hukumannya menjadi wajib kiranya
dengan berkata benar berakibat terbunuhnya seseorang.misalnya,seorang yang
zalim mencari seseorang hendak dibunuhnya.dia menyatakan kepada kita,lalu kita
mengatakan,”tidak tahu”padahal sebenarnya kita mengetahui tempat persembunyian
orang yang hendak dibunuhnya itu.
لَيْسَ الكَذَّا بُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُوْلُ
خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا {رواه مسلم}
Artinya :
“Tidak termaksud pendusta orang
yang memperdamaikan dua orang yang berselisih,dia mengatakan yang baik lalu dia
berhasil dengan baik”.(HR.Muslim)
Tamalluq dan Hasad fi
Thalabil Ilmi.yang dimaksud Tamalluq yaitu sikap atau ucapan pura-pura dengan
maksud untuk menjilat atau mencari muka.dalam mencari ilmu sifat tamalluq dan
hazad diperboleehkan dalam islam,karena akan menghasilkan kemashalatan.hal
tersebut sebagaimana ditegaskan dalam sabda nabi Muhammad Saw yang artinya
sebagai berikut :
“sifat tamalluq
dan hazad hanyalah diperbolehkan dalam mencari ilmu”.(HR.Baihaqi)
Dari penjelasan diatas
dapatlah disimpulkan bahwa ada perbuatan dusta atau bohong yang diperbolehkan
(ditolelir) oleh islam yaitu perbuatan dusta yang dapat menimbulkan kebaikan
atau kemashalatan.sedangkan perbuatan bohong yang menimbulkan kejahatan dan
malapetaka meskipun kecil bentuk dan ukurannya dilarang oleh islam.
D.Sabar Atau Tabah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِصُرْعَةِ إِنَّمَا
الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ {متفق عليه }
Artinya:
“Dari Abu Hurairah ra,bahwasanya rasulullah saw bersabda: ukuran
kekuatan seseorang itu bukanlah dengan bergulat,melainkan orang yang kuat
adalah orang yang mampu mengendalikan emosi dikala ia marah”. (Mutafaq Alaihi).
(الصبر)
1.Pengertian Sabar.
Sabar artinya tahan terhadao
setiap penderitaan atau sesuatu yang tidak disenangi dengan sikap ridha dan
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Ada juga yang mengartikan
sabar adalah keteguhan hati dalam menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya.
Kata sabar kedengarannya
memang sederhana namun ternyata tidak semua orang bisa melakukannya,dan orang
yang kehilangan kesabaran sudah terlalu sering kita dengar dilingkungan
masyarakat.
Sabar yang tidak mudah kita
terapkan dalam peraktek keseharian merupakan akhlak yang sangat terpuji.dalam
hal ini digambarkan dalam sebuah hadits:
الَصَّبْرِ ضِيَاءٌ {رواه مسلم }
Artinya:
“Bersabar adalah cahaya” (HR.Muslim).
Perjalanan hidup kita tidak
terlepas dari ujianan cobaan yang datang menjemput setiap saat,baik cobaan yang
menimpa diri sendiri,kelompok ataupun bencana yang menimpa terhadap
bangsa.perjalanan hidup yang penuh liku kadang naik dan kadang turun,berbelok
penuh onek dan duri.itu semua mungkin kita atasi jika tidak didasari denga
penuh kesabaran.
2. Sabar Sebagai Pendukung Cita-cita
Sabar merupakan sikap
menahan diri yang hadir karena dorongan jiwa sepenuhnya bukan karena terpaksa
oleh berbagai paktor lain.sabar juga merupakan suatu landasan kokoh untuk
mewujudkan berbagai usaha yang kita cita-citakan.
Orang yang bersabar tidak
memandang berat atau ringannya suatu pekerjaan,yang terpikir hanyalah bagaimana
agar cita-cita tersebut terwujud,dengan menyingkirkan setiap hambatan yang
menghalanginya.ia menyadari bahawa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan dan
banyak menemukan berbagai hambatan.
Tampa adanya kesabaran dalam
setiap melakukan perbuatan tentunya sulit untuk memperoleh hasil yang
dicita-citakan karena jika menemukan hambatan akan cepat menyerah dan berputus
asa.
3. Barbagai Macam Bentuk Kesabaran
Pada kenyataannya,sabar terdiri dari 3 macam yaitu:
a)
Sabar atau menahan diri dari segala perbuatan jahat.
Sabar disini termaksud
didalamnya menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskakn diri
sendiri maupun orang lain sehingga salah satunya merasa dirugikan.
Ketika iman kita goyah karena
nafsu yang tidak terbendung bararti hilang pula kesabaran kita dalam menghadang
perbuatan jahat.jadi sabar dalam hal ini merupakan suatu pertahanan yang dapat
mencegah berbagai dorongan nafsu yang setiap saat menggoda manusia.
حُفَّتِ الْجَنَّهُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ
النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ { رواه مسلم }
Artinya:
“Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa
nafsu,sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa
nafsu”(HR.Muslim)
Hadist diatas menjelaskan betapa sulitnya meraih jalan
kesurga karena dikelilingi oleh hawa nafsu yang setiap saat mengintai kita agar
terjerumus kelembah dosa.dengan demikian hanya sabarlah yang dapat memendung
semuanya.
Dalam hal ini agama menganjurkan untuk selalu berdoa :
رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ
{الاعراف:126 }
Artinya:
“Ya Allah SWT Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada
kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadamu).” (QS. Al-A’Raaf
:126).
b)
Sabar Dalam Melakukan Ibadah.
Sabar disini merupakan menahan
diri dari berbagai kesulitan dan rasa berat dalam menjalankan ibadah.
Dalam ibadah tidak saja
dituntut memenuhi syarat dan rukunnya secara lengkap, tapi juga harus dilakukan
secara khusyu’ dan menyerahkan diri secara total. Dalam hal ini pasti banyak
ditemui berbagai rintangan berupa godaan yang selalu menghantui pikiran
sehingga shalat kita tidak khusyu’ atau hendak memulainya terasa berat dan
terkadang ditunda-tunda
Begitu pula dengan zakat, kita
harus menunaikannya dengan penuh keikhlasan dan atas landasan belas kasih antar
sesama. Tidak jarang hati kita terbujuk rayu setan sehingga merasa sayang dan
enggan membayar zakat.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
وَأْمُرْاَهْلَكَ بِالصَّلَوةِ وَاصْطَبِرْعَلَيْهَا {طه
:132}
Artinya :
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan
shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Qs. Thahaa: 132 )
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِوَالصَّلَوْةِ, وَاِنَّهَالَكَبِيْرَةُاِلَّا
عَلَى الْخَشِعِبْنَ {البقرة :45}
Artinya :
“Dan mintalah pertolongan (kepada ALLAH) dengan sabar
dan shalat. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu’.”(Qs. Al-baqarah :45)
وَالصَّبْرِنَفْسَكَ
مَعَ الَّذِ يْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَوْةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ
{الكهف :28}
Artinya :
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang
yang menyeru Tuhan-Nya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan
keridhaan-Nya.” (Qs. Al-kahfi :28).
Begitu pula orang yang paling nasehat-menasehati,
mereka itu tergolong orang yang tidak merugi diakhirat kelak. Dan perbuatannya
yang dilakukannya merupakan suatu ibadah yang mulia.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
وَالْعَصْرِ.اِنَّالْاِنْسَا
نَ لَفِيْ خُسْرِ.اِلَّاالَّدِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّلِحَتِ وَتَوَاصَوْابِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْابِالصَّبْرِ {العصر :13}
Artinya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shaleh dan naset-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati
dalam kesabaran” (Qs. Al-ashr : 1-3)
c)
Sabar karena menghindari
kemunduran
Sabar karena menghindari kemunduran maksudnya adalah
menahan diri berbagai godaan yang menyebabkan kita tidak berani dalam melakukan
sesuatu yang baik seperti : membela keadilan, membela harga diri kita atau
orang lain, berjuang demi kelompok, bangsa, dan lain sebagainya.
Sikap pantang mundur dalam menghadapi berbagai
rintangan dan cobaan ini seperti yamh digambarkan oleh para sahabat nabi ketika
yang diperintahkan umtuk hijrah ke madinah dengan meninggalkan sanak saudara,
harta kekayaan dan sejumlah posisi lain yang sudah mapan. Hijrah tersebut
dilakukan tak lain karena mengharapkan ketenteraman dalam beribadah dan
memenuhi panggilan Allah SWT semata.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَاَوْلُوْا العَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ...{الاحقاف : 35}
Artinya:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (Qs. Al-Ahqaf :35)
Begitu tingginya nilai orang yang bersabar hingga
sayidina Ali berkata : “Orang yang bersabar itu pasti mendapat kemenangan,
walaupun terlambat hasilnya”.bgitu pula dalam Al-Qur’an tidak sedikit kata
sabar terulang bahkan tidak kurang dari 70 kata. Antara lain dalam ayat :
وَلَنَبْلُوْنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَهِدِيْنَ مِنْكُمْ
وَالصَّبِرِيْنَ وَنَبْلُوَاَخْبَارَكُمْ {محمد :31}
Artinya
:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu,
agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan
agar Kami menyatakan (baik-buruknya) hal ikhwalmu (Qs. Muhammad : 31).
وَاصْبِرْعَلَى مَااَصَابَكَ. اِنَّذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلُامُوْرِ.
{لقمان : 17}
Artinya :
“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk sesuatu yang diwajibkan Allah SWT.”
(Qs. Lukman : 17)
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوااصْبِرُوْاوَصَابِرُوْاوَرَابِطُوْا,وَاتَّقُوااللَه
لَعَلَّكٌمْ تُفْلِحُوْنَ {ال عمران : 200}
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan
kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu)
serta bertakwalah kepada Allah SWT agar kamu beruntung.”(Qs. Ali imran : 200)
Dalam Al-Qur’an banyak dijanjikan bahwa orang yang sabar
akan mendapat imbalan pahala dari Allah SWT.
Adapun firman Allah tersebut antara lain :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِاَمْرِنَالَمَّا
صَبَرُوْا {السجدة :24}
Artinya :
“Dan kami dijadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar.” (Qs. As
sajadah : 24)
قُلْ
يَعِبَادِالَّذِ يْنَ اَمَنُوْااتَّقُوْارَبَّكُمْ, لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْافِيْ هَذِهِ
الدُّ نْيَا حَسَنَةٌ, وَاَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ, اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُوْنَ
اَجْرَهُمْ بِغَيْرِحِسَابٍ {الزمر : 10}
Artinya :
“Katakanlah (hai Muhammad, Allah SWT berfirman) : “Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang=orang yang
berbuat baik di dunia (menaati), diberikan kebaikan (pahala di akhirat), dan
bumi Allah SWT itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar (menaati) akan
diberi pahala tanpa hitungan.”(Qs. Az Zumar : 10)
Ayat tersebut memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar
menyeru umatnya untuk bertakwa dan bersabar. Dengan kesabaran tersebut Allah
SWT akan melimpah anugerahnya berupa segala kemudahan dan kesuksesan di dunia
dan pahala di akhirat kelak.
Menurut imam Al Ghazali bahwa kondisi manusia dalam
kehidupanini ada dua macam yaitu :
a.
Kehidupan yang sesuai dengan kehendak hati.
b.
Kehidupan atau perjalanan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hati.
Kedua kondisi di atas pasti
akan dilalui oleh setiap manusia, yang mana
jika menemui salah satu kondisi tersebut harus disikapi dengan sabar.
Baik pada perjalanan hidup yang dikehendaki ataupun tidak.
E.
Da’i Harus Teguh Dalam Pendirian
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَلَ سَأَلْتُ عَبْدُ اللهِ بْنْ عَمْرٍوَعَنْ
أَشَدِّمَاصَنَعَ اْلمُشْرِكُوْنَ بِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : رَأَيْتَ
عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يُصَلِّي
فَوَضَعَ رِدَاءَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ بِهِ خَنْقًا شَدِيْدًا فَجَاءَأَبُوْبَكْرٍحَتَّى
دَفَعَهُ عَنْهُ فَقَالَ أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا أَنْ يَقُوْلَ رَبَّيَ اللهُ وَقَدْجَاءَكُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ. {البخاري}
Artinya :
Dari ‘Urwah bin Zubair berkata : Saya bertanya kepada
Abdullah bin Amr tentang perlakuan kekerasan orang-orang Musyrik terhadap
Rasulullah SAW. Dia berkata : Saya telah melihat ‘Uqbah bin Abu Mu’aith datang
kepada Rasulullah SAW dan beliau sedang shalat, lalu ia meletakkan selendahnya
pada leher Nabi, kemudian dia tarik sekuat-kuatnya. Tiba-tiba datanglah abu
bakar ra. Dan meghalangi perbuatan tersebut, dan berkata :” Apakah engkau akan
membunuh orang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah SWT, sedang telah datang
kepadamu kebenaran yang sangat nyata. (HR. Bukhari).
عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه
وسلم كَانَ يَقُوْلُ اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ
وَإلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ اَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَالْجِيْنُ
وَالْاِنْسَ يَمُوْتُوْنَ. {متفق عليه}
Artinya :
Dari Ibn Abbas bahwasannya
Rasulullah SAW terbiasa mengucapkan :” Ya Allah, kepada-Mu saya menyerah,
beriman dan bertawakal, dan kepada Mu pula saya akan kembali dan untukmu saya
berjuang. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliyaanMu yang tiada Tuhan kecuali
Engkau, janganlah Engkau sesatkan aku. Engkau yang hidup yang tidak akan mati,
sedangkan jin dan manusia semua bakal mati. (Bukhari-Muslim)
Para pakar tafsir telah sepakat
bahwa konseskuensi bagi da’i yang tidak mengamalkan terhdap apa yang telah didakwahkannya
akan berbuah kemungkaran dari Allah Swt.prof.dr. hamka,dalam tafsirnya al-azhar
menjelaskan tentang ayat ke 3 dari surah as-shaf.yang artinya:
“amatlah dibenci disisi Allah
Swt bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan”.
Yaitu:“perkataan yang tidak
sesuai dengan perbuatan sangatlah dibenci oleh Allah Swt.hal yang demikian
tidaklah layak bagi orang yang telah mengaku beriman.agar dia benar-benar
menjaga dirinya agar jangan samapi menjadi pembohong.
Kabura maqtan adalah kebencian
yang besar disisi Allah Swt yaitu puncak dari kebencian dan pengingkaran yang
paling keras.hal itu merupakan puncak penghinaan dan celaan atas suatu
urusan.khususnya dalam rohani seorang mukmin yang dipangil dan diseru dengan
kehormatan iman.dan yang diserukan langsung oleh tuhannya yang dia beriman
kepadanya
Dalam ayat ini (Quran surah
al-shaf) nampak jelas,bahwa surah ini bertujuan unutuk membangun kesabaran
terhadap hakikat berdakwa serta pengetahuan tentang akidah dan jatahnya dalam
mengembang amanat aqidah itu diatas bumi ini.kemudian diikuti dengan kesabaran
terhadap beban-beban amat itu.suatu kesadaran yang mendorongnya kepada
kejujuran niat dal berjihat untuk memenangkan agamanya atas seluruh agama lain
dimuka bumi ini,sebagaimana telah dikehendaki oleh Allah Swt.demikian pula agar
selalu konsisten,tidak bingung dan ragu-ragu antara perkataan dan perbuatan.
Dari penjelasan para pakar
tafsir sebelumnya menegnai kandungan al-quran surat as-shaf ayat 2-3 dapat
ditarik suatu kepastian bahwa kandungan utama atau isi pokok surat ini adalah
kejujuran.sutar ashaf turun untuk memberikan pendidikan melalui pendekatan yang
bersifat ancaman.hal ini dimaksudkan untuk menanamkan sifat kejujuran,baik
jujur dalam perkataan maupun benar dalam perbuatan.
Pendidikan yang ditampilkan
melalui konteks pembentukan akhlak dan kesabaran antara perkataan dan perbuatan
dengan kebutuhan masyarakat dibawah naugan akidah keagamaan.hal ini
mengambarkan dari sosok keperibadian seorang muslim yang dilandaskan pada
kejujuran dan kebenaran,kedesiplinan dan konsisten serta kelurusan sikap yakni batin
sama dengan lahirnya.ucapan sesuai dengan pengamalannya.
Abu ja’far muhammad bin jarir
al-thahari menyebutkan bahwa ada beberapa orang mukmin yang sebelum jihad
diwajibkan kepada mereka,(sebagai akibat dari perkataan),mereka berkata”kami
inggin sekali Allah Swt menunjukan amalan terbaik yang disukainya sehingga kami
bisa mengamalkann-Nya. “Allah Swt telah memberitahukan nabinya bahwa amalan
yang baik disisinya adalah iman kepada Allah Swt tampa keraguan didalamnya,dan
berjihad dalam melawan orang-orang yang Menantang Allah Swt,yang menyesisihi
keimanan serta tidak mengakuinya.[4]
Dan dapat pula kita lihat banyak
dari pada pendeta kristen menyeruh para pengikutnya untuk berbuat baik akan
tetapi mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.dibawah ini beberapa bukti
bagaimana para pendeta itu berbuat kejahatan dibalik tembok-tembok gereja yang
mereka angap sebagai tempat suci.sebagai mana kita ketahui pra pendeta kristen
mangklim bahwa mereka adalah mereka orang-orang suci yang tidak membutuh sex.
Didalam ber-amar ma’ruf dan
nahi mungkar tidak disyaratkan pelakunya harus bersih dari dosa.berkata sa’id
bin jubair :seandainya seseorang tidak akan beramar ma’ruf dan nahi mungkar
oleh karenanya,tidak ada alasan bagi siapa saja untuk tidak ber ma’ruf dan nahi
mungkar,walaupun dia sendiri belum istiqomah,walaupun dia sendiri masih banyak
berumuran dosa,walaupun dia sendiri belum bisa melaksanakan kebaikan.....karena
dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar seseorang akan terpacu untuk slalu berbuat
baik dan meningalkan kemungkaran,kita harus mengetahui juga bahwa manusia
didalam menghadapi kebajikan dan kemungkaran mempunyai empat kewajiban:
1.
Dua kewajiban terhadapan kebajikan yaitu:mengerjakan untuk diri sendiri dan
menyeruh orang lain untuk mengerjakannya.
2.
Dua kewajiban terhadap kemungkaran,yaitu:meningalkan untuk dirinya sendiri
dan menyeruh orang untuk meningalkannya.
Oleh karenanya barang siapa
yang belum bisa bengerjakan kewajiban untuk dirinya sendiri,hendaknya menyeruh
orang lain untuk mengerjakannya,dengan demikian dia telah mengerjakan salah
satu kewajibannya,berarti dia sudah meningalkan dua kewajibannya.begitu juga
orang yang masih berbuat kemungkaran.hendaklah tetap menyeruh orang lain meningalkannya,dengan
demikian dia telah mengerjakan satu kewajiban.karena,jika ia yang masih
mengerjakan kemungkaran untuk dirinya sendiri dan tidak melarang orang lain
juga untuk meningalkannya,berarti dia telah meninglakan dua kewajiban.berkata
ibnu katsir:pendapat yang benar adalah pendapat yang menyatakan bahwa seseorang
alim wajib ber amar ma’ruf walaupun dia belum bisa melaksanakannya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk menyucikan diri
dari sifat-sifat tercela,dalam segala amal dan tindakan manusia ikhlas karena
ALLAH SWT.buah dari keikhlasan akan dirasakan sendiri oleh manusia,yaitu
merupakan ketenangan yang diperolehnya setelah ia berbuat dalam segala hal yang
didasari oleh sikap ikhlas.
Ikhlas diperlukan untuk menata kehidupan di dunia.
Menurut Yusuf Al-Qardhawi,islam menuntut keikhlasan,pemurnian niat karena ALLAH
SWT,dan meluruskan tujuan hanya kepadanya.sebab,kehidupan tidak akan berjalan
mulus dan lurus tanpa adanya orang-orang ikhlas.dengan demikian,bidang
penerapan ikhlas adalah pada setiap lapangan kehidupan manusia,baik dalam
ibadah maupun muamalah.
Sebagai bentuk ikhlas terpuji, ikhlas mempunyai nilai
mamfaat yang sangat besar bagi manusia, yaitu: orang yang ikhlas karena Allah
SWT tidak pernah merasa dirinya lemah karena ancaman, tidak menjadi hina karena
kerakusan,tidak bisa dicegah karena rasa takut, membuat jiwa selalu segar. Oleh
karena itu, sikap ikhlas harus senantiasa di pelihara dalam kehidupan
sehari-hari.bila tidak dipelihara dengan baik, maka penyakit ”riya” akan segera
hinggap. Agar ikhlas itu terhindar dari penyakitnya riya, beberapa hal berikut
harus dilakukan:
B.
Saran
Kami mengakui makalah ini
banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu kami mohon perhatian bagi para
pembaca makalah ini untuk memberikan kritik dan saran untuk menyempurnakan
makalah ini. Semoga makalah ini bisa jadi ilmu yang bermanfaat bagi yang membacanya.
Kami akhiri Wabillahi taufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr Wb
DAFTAR PUSTAKA
idris,muhammad, hadis dakwah
sosial (2014), fakultas dakwah dan ilmu komunikasi. hlm14
Mulyadi dkk, aqidah akhlak.PT karya toha putra (2003). hlm134
http://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/akhlak-dai-menurut-alquran
[1] khairullah , hadis dakwah sosial (2014),
fakultas dakwah dan ilmu komunikasi, hlm 14
[2] Drs.Mulyadi, aqidah akhlak), PT
karya toha putra, semarang (2003). Hlm 134
[3] Drs.Mulyadi, ibid. Hlm 77
[4]
http://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/akhlak-dai-menurut-alquran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar